Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

KELEMBUTAN DAN KETELATENAN

×

KELEMBUTAN DAN KETELATENAN

Sebarkan artikel ini
Ahmad Barjie B
Ahmad Barjie B

Oleh : AHMAD BARJIE B

Angka perceraian di Indonesia masih tergolong besar, bahkan di atas 50 persen angka perkawinan. Penyebabnya bervariasi, tapi umumnya karena faktor ekonomi, kurangnya kesetiaan antarpasangan, ketidakcocokan, suami dan istri tidak mau saling mengalah, serta perselingkuhan. Bila dicari akarnya lebih jauh, boleh jadi karena para istri sudah suka bersikap kasar, kehilangan kelembutan, sehingga suami merasa gerah dan tidak tenang saat berada di rumah, dan di sisi lain banyak istri sudah kurang telaten dalam menata rumah tangga dan mengatur keuangan, boros belanja, sehingga suami selalu kesulitan.

Kalimantan Post

Margarete Mitscsherlich dari Jerman dalam buku “Die Zukunft ist Weiblich” (Masa Depan adalah Betina), menyatakan bahwa masa depan kehidupan manusia haruslah berciri dan bersuasana keibuan atau kebetinaan, yaitu suka mengalah dan berkorban. Menurut Margarete, tanpa suasana kebetinaan tidak akan ada kehidupan yang bahagia bagi manusia. Dalam skala besar (bangsa) maupun kecil (rumah tangga), sangat membutuhkan suasana kebetinaan ini.

Belum terwujudnya perdamaian dunia saat ini, seringkali dimulai dari ketidakbahagiaan dalam rumah tangga, disebabkan banyak orang suka menonjolkan sifat kejantanan (maenlich), bukan kebetinaan (weiblich). Kaum pria ingin menonjolkan kejantanannya, tapi dalam konotasi yang negatif, yakni selalu ingin menang, berkuasa dan tidak mau ditegur jika berbuat salah. Sifat jantan memang ditandai hasrat menguasai, agresif, keras kepala dan tidak mau mengalah. Lihat saja sifat Donald Trump sekarang ini, selalu ingin menang dan menyerang, sehingga sering memicu perang dan ketidakdamaian.

Celakanya, banyak pula kaum wanita yang terjangkit sifat jantan ini. Wanita juga cenderung ingin berkuasa, tidak mau berbagi dengan keluarga suami yang dulu banyak berkorban menyekolahkan suaminya hingga sarjana (berhasil), mau mengatur suami, tidak mau mengalah dan selalu diistimewakan, dipuji dan dimanja suami. Sebagian wanita beranggapan, jika mereka terus bersifat betina yang ditandai sikap toleran, penyabar, tepo seliro dan apa adanya, mereka akan dijajah dan diinjak pria. Sikap mengalah dianggap sudah ketinggalan zaman, tak sesuai dengan emansipasi. Padahal tidaklah demikian adanya. Akibatnya para suami berada di posisi serba salah, karena ingin mempertahankan rumah tangga dan pertimbangan anak, lalu selalu mengalah. Ada istilah ISTI saat ini, yaitu ikatan suami takut istri. Sebenarnya bukan takut, tapi semata tak mau ribut.

Baca Juga :  Bongkar Pasang Pejabat Pemerintahan Prabowo

Kehidupan wanita zaman dulu dan kini tampaknya sudah sangat berbeda. Dulu, kaum wanita hanya berperan dalam tiga “R”, yakni kasur (melayani suami tidur), dapur (memasak) dan sumur (mencuci). Ketiga peran ini cenderung dimitoskan. Itu sebabnya, banyak wanita di zaman itu tidak perlu sekolah tinggi. Jika sudah mampu kawin, pandai memasak dan mencuci, itu sudah cukup baginya. Hal inilah yang diperjuangkan Kartini melalui gerakan emansipasi, agar kaumnya bisa lebih terangkat derajatnya, tak hanya terkungkung dalam sangkar tiga R.

Namun perkembangan yang terjadi, emansipasi terlihat mengalami bias dan over dosis. Wanita sudah banyak yang mengabaikan fungsi kodratnya sebagai isteri dan ibu dari anak-anak. Banyak istri yang malas melayani suminya, membiarkan penampilannya apa adanya, sehingga suami cenderung melirik wanita lain, karena istri tak lagi menarik dan hangat. Pada sisi lain ada juga wanita yang karena terlalu menjaga penampilan, lantas suka suaminya berpuasa, enggan menyusukan anak dan tidak mau mengurus rumah tangga, karena beranggapan akan lekas tua dan keropos.

Ketelatenan kaum wanita memasak juga mengalami penurunan. Semakin banyak yang lebih menyenangi masakan instan, atau serba membeli, padahal jika mau ia mampu memasaknya sendiri. Bahkan membeli ikan segar pun kalau bisa yang sudah dibersihkan, keterampilan mereka ”manyiangi iwak” sudah berkurang. Para suami tentu lebih suka bila makanan itu dimasak oleh istrinya sendiri, sebab kalau serba membeli kaum pria pun bisa melakukannya. Serba membeli ini tentu menguras pengeluaran rumah tangga.

Presiden Soeharto dalam sambutannya pada Rakernas V PKK l997 berpesan agar kaum ibu lebih hemat dan cermat dalam mengelola keuangan rumah tangga, sehingga tidak terjadi pemborosan dan suami tidak diberati karena uang yang selalu habis dan tidak bisa menabung, padahal sudah bekerja keras dan penghasilannya relatif besar. Kalau bisa para istri ikut bekerja kecil-kecilan guna menopang penghasilan suami yang sulit untuk meningkat.

Baca Juga :  PERBAIKAN SISTEM

Menurunnya kelembutan kaum wanita, remaja dan kaum ibu, diperkirakan karena mereka terlalu mengutamakan kecantikan fisik. Pakar komunikasi dan mantan anggota DPR-RI Prof Dr Marwah Daud Ibrahim mengakui, penampilan wanita dewasa ini lebih menonjolkan kecantikan dan daya tarik fisik saja, bukan sifat keibuan, kelembutan dan kecerdasan. Ini dipicu oleh antara lain iklan di media massa cetak, elektronik (dan kini online dan medsos) yang sangat mempromosikan kecantikan dan penonjolan fisik ini.

Sisi lain, menurut Prof Dr Conny R. Semiawan, wanita suka meniru budaya impor tanpa mampu melakukan seleksi, tanpa urutan dan motivasi yang jelas. Semua ini menurut mantan Menneg UPW Ny. Sulasikin Moerpratomo, disebabkan kualitas SDM wanita yang lemah oleh rendahnya pendidikan, sehingga tidak cermat dalam memandang hakikat kehidupan.

Bagaimanapun tren dan tantangan kehidupan, kaum wanita tidak boleh kehilangan kodrat dan cirikhas kewanitaannya. Bahwa kecantikan harus dimaknai sebagai kecantikan luar dan dalam. Kecantikan luar lebih merupakan karunia yang sulit untuk dirubah. Tidak semua wanita dianugerahi kecantikan fisik. Kalaupun cantik itu sangat relatif dan mudah berubah oleh usia, penyakit, beban hidup, dll. Yang abadi sesungguhnya adalah kecantikan batin, berupa kelembutan dan sifat-sifat keibuan yang luhur. Jadi kecantikan batin inilah mestinya yang harus terus dipelihara, dipupuk dan dikembangkan ke arah kesempurnaan.

Iklan
Iklan