Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Saat Indonesia Masuk Survival Mode, Kalsel Menjaga Optimisme

×

Saat Indonesia Masuk Survival Mode, Kalsel Menjaga Optimisme

Sebarkan artikel ini
IMG 20260526 041045

Oleh: RK Ariyandi
Praktisi Perbankan

Perhatikan antrean panjang di sejumlah SPBU Kalimantan Selatan belakangan ini. Truk logistik yang tertahan. Nelayan yang terpaksa mengurangi trip melaut. Pengusaha angkutan yang menghitung ulang biaya operasional setiap hari. Semua itu bukan cerita dari jauh — itu potret nyata tekanan ekonomi yang sedang dirasakan masyarakat Kalsel hari ini. Dan tekanan itu tidak datang dari ruang kosong.
Purbaya Yudhi Sadewa dalam forum koordinasi ekonomi nasional belum lama ini menyampaikan pernyataan yang langsung mengundang perhatian luas. Ia menggambarkan kondisi yang dihadapi dengan kalimat sederhana namun berat: “Ini bukan business as usual.” Sebuah pernyataan pendek yang cukup kuat untuk menjelaskan bahwa situasi ekonomi hari ini memang tidak berjalan seperti biasanya.

Kalimantan Post


Istilah survival mode pun kemudian mengemuka. Sebagian melihatnya sebagai alarm kewaspadaan, sebagian lain menganggapnya sebagai kejujuran dalam membaca realitas ekonomi global yang sedang penuh tekanan dan ketidakpastian. Dan jika kita melihat lebih dalam, kegelisahan itu memang memiliki dasar yang kuat.


Konflik geopolitik yang meningkat di berbagai belahan dunia menjadi salah satu gambaran nyata bagaimana ketegangan di ujung dunia bisa merambat jauh hingga ke Banjarmasin. Ketegangan global mendorong kenaikan harga minyak dunia, memicu gejolak pasar keuangan, dan memberi tekanan pada mata uang negara-negara berkembang — termasuk rupiah. Dalam periode tertentu, nilai tukar rupiah bahkan sempat melemah hingga kisaran Rp17.600 per dolar AS, sementara Indeks Harga Saham Gabungan mengalami tekanan akibat meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar.
Bank Indonesia merespons dengan menaikkan BI Rate menjadi 5,25 persen demi menjaga stabilitas nilai tukar dan mengendalikan inflasi di tengah tekanan global yang meningkat. Namun kebijakan itu tidak tanpa konsekuensi. Dunia usaha menjadi lebih berhati-hati dalam melakukan ekspansi. Biaya pembiayaan dan kredit menjadi lebih ketat. Daya beli masyarakat pun ikut tertekan oleh kenaikan harga pangan dan biaya hidup yang terus merayap naik.

Baca Juga :  Penjara di Era Viral: Ketika Sistem Pemidanaan Gagap Menghadapi Layar Kaca


Kalimantan Selatan memiliki kerentanan tersendiri dalam pusaran tekanan ini. Ekonomi daerah masih sangat bergantung pada sektor pertambangan dan komoditas yang harganya sensitif terhadap dinamika global. Ketika harga komoditas melemah bersamaan dengan tekanan nilai tukar, dampaknya langsung terasa hingga lapisan bawah — dari pedagang di Pasar Sudimampir, pelaku usaha kecil di Martapura, hingga nelayan di pesisir Kotabaru.
Kelas menengah Kalsel yang selama ini menjadi penopang konsumsi daerah mulai lebih selektif membelanjakan uangnya. Pelaku UMKM menghadapi fluktuasi daya beli yang tidak menentu. Generasi muda berhadapan dengan biaya hidup yang meningkat di tengah persaingan kerja yang semakin ketat. Dalam situasi seperti ini, banyak keluarga mulai mengubah pola hidupnya — dari yang sebelumnya berorientasi pada pertumbuhan menjadi lebih fokus pada bertahan.


Tekanan itu semakin terasa ketika persoalan pasokan solar di sejumlah wilayah Kalsel memperparah keadaan. Antrean panjang di beberapa SPBU, keterbatasan distribusi, hingga dampaknya pada biaya logistik menjadi beban tambahan yang langsung dirasakan masyarakat dan pelaku usaha setiap hari. Distribusi yang terganggu bukan sekadar soal bahan bakar — ia menyentuh urat nadi pergerakan barang dan kebutuhan pokok masyarakat.


Namun respons pemerintah daerah patut diapresiasi. Melalui pembentukan Satgas BBM yang melibatkan berbagai unsur — pemerintah daerah, aparat penegak hukum, dan pihak terkait lainnya — pengawasan dan penertiban distribusi terus dilakukan secara intensif. Hasilnya mulai terasa: pasokan berangsur membaik dan distribusi kembali lebih tepat sasaran. Ini menjadi contoh bahwa respons cepat dan terkoordinasi di tingkat daerah dapat menjadi peredam yang efektif ketika tekanan datang dari berbagai arah sekaligus.
Di tengah semua tekanan itu, pemerintah daerah Kalimantan Selatan tetap memilih optimisme sebagai sikap. Target pertumbuhan ekonomi mendekati 8 persen bukan sekadar angka — ia mencerminkan keyakinan bahwa Kalsel memiliki fondasi yang cukup kuat untuk tetap melangkah maju. Sektor pangan dan pertanian yang menjadi penopang ketahanan dasar masyarakat, UMKM sebagai tulang punggung ekonomi kerakyatan yang menyerap tenaga kerja, serta peran sektor perbankan yang menjaga aliran pembiayaan produktif, semuanya menjadi pilar nyata yang menopang optimisme tersebut.

Baca Juga :  Tantangan Pemasyarakatan di Era Digital: Antara Pengawasan, Pembinaan, dan Transformasi Hukum


Namun optimisme tanpa pengendalian inflasi hanyalah angka di atas kertas. Ketika harga beras, minyak goreng, dan kebutuhan pokok terus naik, pertumbuhan ekonomi tidak akan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat lapisan bawah. Maka pengendalian inflasi daerah bukan sekadar tugas teknis pemerintah — ia adalah janji sosial kepada warga Kalsel yang setiap hari bergulat dengan naiknya biaya hidup.


Dalam kondisi seperti sekarang, menjaga optimisme tentu tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah daerah semata. Dibutuhkan kolaborasi yang sungguh-sungguh antara pemerintah, dunia usaha, sektor perbankan, pelaku UMKM, dan masyarakat agar roda ekonomi tetap bergerak. Karena tidak ada satu pun pihak yang bisa bekerja sendiri ketika tekanan datang dari berbagai penjuru sekaligus.


Survival mode seharusnya tidak hanya dibaca sebagai kondisi bertahan. Dalam banyak pengalaman, tekanan justru menjadi katalis bagi perubahan yang lebih mendasar dan lebih tahan lama. Bagi Kalimantan Selatan, ini adalah momentum untuk mempercepat diversifikasi ekonomi — mengurangi ketergantungan pada komoditas tunggal dan membangun sektor-sektor baru yang lebih tahan terhadap gejolak global. Pariwisata, ekonomi kreatif, pertanian bernilai tambah, dan digitalisasi UMKM adalah beberapa arah yang mulai dirintis dan perlu terus diperkuat secara serius.


Pada akhirnya, tantangan terbesar bukan hanya bagaimana kita bertahan menghadapi tekanan ekonomi global. Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana Kalimantan Selatan mampu keluar dari tekanan ini dengan struktur ekonomi yang lebih kuat, masyarakat yang lebih tangguh, dan kepercayaan antarwarga yang tetap terjaga.


Sebab daerah yang kuat bukanlah daerah yang tidak pernah ditekan. Ia adalah daerah yang tahu cara menjaga harapan warganya — dan terus melangkah meskipun keadaan sedang tidak baik-baik saja. Dan mungkin, di situlah letak kekuatan Kalsel yang sesungguhnya.

Iklan
Iklan