RANTAU, Kalimantanpost.com — Bupati Tapin H Yamani secara simbolis menutup secara resmi pelaksanaan pasca tambang PT Sumber Kurnia Buana (SKB) di wilayah operasionalnya di Kabupaten Tapin, Senin (6/7/2026), di kawasan budidaya Serai Wangi Desa Pualam Sari, Kecamatan Binuang Kabupaten Tapin.
Penutupan ini menandai selesainya seluruh rangkaian pemulihan lingkungan dan program pemberdayaan masyarakat yang menjadi bagian dari komitmen perusahaan terhadap praktik pertambangan yang bertanggung jawab.
Penutupan pasca tambang dihadiri perwakilan Direktorat Teknik dan Lingkungan Mineral dan Batubara Kementerian ESDM RI Mulyadi, Board of Directors Baramulti Group Doddi Sumantiawan, Direktur PT Sumber Kurnia Buana Mukhlas Sumartanto, dan Kepala Dinas ESDM Kalsel diwakili Heru Yulianto.
Bupati Tapin H Yamani mengapresiasi keberhasilan PT SKB dalam menyelesaikan seluruh kewajiban reklamasi dan pascatambang sesuai ketentuan yang berlaku.
“Keberhasilan ini menjadi contoh bahwa kegiatan pertambangan tidak hanya berorientasi pada pemanfaatan sumber daya alam, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk memulihkan lingkungan dan memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat,” ujarnya.
Dikatakannya, capaian tersebut menunjukkan bahwa kegiatan pertambangan dapat dijalankan secara bertanggung jawab dengan tetap memperhatikan aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi masyarakat.
Direktur PT SKB Mukhlas Sumartanto menjelaskan perusahaan telah menyelesaikan reklamasi dan revegetasi seluas 1.045,83 hektare atau 100 persen dari target yang ditetapkan. Program reklamasi tersebut dilaksanakan secara bertahap sejak 2008, bahkan ketika aktivitas produksi masih berlangsung.
Berbagai jenis tanaman pionir dan tanaman lokal ditanam untuk mengembalikan fungsi ekologis lahan bekas tambang sekaligus memperkuat tutupan vegetasi dan keseimbangan ekosistem.
Selain itu, seluruh program pascatambang pada area seluas 39,61 hektare juga telah dituntaskan, meliputi penataan lahan, revegetasi, pengamanan void, pembongkaran fasilitas produksi, hingga pembangunan infrastruktur pendukung.
Menurut Mukhlas, fokus utama perusahaan dalam pelaksanaan pascatambang tidak hanya pada pemulihan lingkungan, tetapi juga memastikan terciptanya sumber ekonomi baru yang dapat dimanfaatkan masyarakat secara berkelanjutan.
Salah satu program unggulan yang dikembangkan adalah budidaya serai wangi di lahan bekas tambang seluas 21 hektare yang melibatkan kelompok tani dari Desa Pualam Sari, Suato Tatakan, dan Rumintin Tatakan. Melalui program tersebut, masyarakat mendapatkan pendampingan, pelatihan, bantuan bibit unggul, hingga dukungan pemasaran hasil produksi.
“Hingga saat ini, budidaya serai wangi telah menghasilkan minyak atsiri yang memberikan tambahan pendapatan bagi masyarakat. Kami berharap program ini terus berkembang dan menjadi salah satu komoditas unggulan daerah,” kata Mukhlas.
Selain pengembangan pertanian, PT SKB juga mengoptimalkan pemanfaatan void bekas tambang melalui program budidaya perikanan air tawar. Sebanyak 45 kompartemen keramba dibangun di Desa Kembang Habang Lama dan Desa Salambabaris untuk mendukung usaha kelompok pembudidaya ikan setempat.
Program tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan menciptakan sumber penghidupan alternatif setelah berakhirnya aktivitas pertambangan. Sejumlah pelatihan keterampilan juga diberikan kepada karyawan terdampak penutupan operasional, mulai dari pelatihan perbengkelan, menjahit, hingga pengembangan usaha mandiri yang dilengkapi bantuan peralatan kerja.
Tidak hanya itu, perusahaan turut membangun infrastruktur yang mendukung aktivitas masyarakat, seperti jaringan irigasi, kolam distribusi air, jembatan penghubung, serta berbagai fasilitas yang dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian dan perkebunan warga.
Board of Directors Baramulti Group Doddi Sumantiawan menegaskan bahwa penyelesaian program pascatambang merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam menjalankan prinsip pertambangan berkelanjutan.
“Pascatambang bukan sekadar mengakhiri kegiatan operasional. Yang lebih penting adalah memastikan kawasan bekas tambang tetap aman, produktif, dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat dalam jangka panjang,” ujarnya.
Pemantauan lingkungan yang dilakukan secara berkala juga menunjukkan kualitas air sungai dan sumur masyarakat di sekitar wilayah operasional tetap memenuhi baku mutu yang ditetapkan pemerintah. Di area reklamasi, berbagai jenis flora dan fauna lokal kembali ditemukan, menandakan proses pemulihan ekosistem berjalan dengan baik.
Dengan dituntaskannya seluruh program reklamasi dan pascatambang, PT Sumber Kurnia Buana berharap berbagai program pemberdayaan yang telah dibangun dapat terus berkembang dan menjadi fondasi bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat di sekitar wilayah eks tambang.
Penutupan pascatambang ini sekaligus menjadi tonggak penting transformasi kawasan bekas tambang menjadi ruang produktif yang tidak hanya memulihkan lingkungan, tetapi juga menghadirkan manfaat sosial dan ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat Kabupaten Tapin.(abd/KPO-4)















