BANJARMASIN, Kalimantanpost.com – Piala Dunia 2026 tengah memasuki fase-fase krusial terakhirnya. Dari 48 tim yang memulai kompetisi ini, hanya delapan tim yang masih bisa bermimpi untuk mengangkat trofi paling didambakan di dunia tersebut di New York/New Jersey Stadium pada 19 Juli mendatang.
Dikutip dari laman FIFA, ini merupakan sebuah perubahan nyata dalam hierarki sepak bola dunia. Untuk pertama kalinya dalam edisi Piala Dunia mana pun, baik Jerman maupun Brasil tidak termasuk di antara tim perempat finalis. Sepuluh dari 17 edisi Piala Dunia yang mencakup babak perempat final pernah menampilkan kedua raksasa sepak bola dunia tersebut secara bersamaan. Jerman gagal mencapai babak perempat final pada edisi 1938, 1950, 2018, dan 2022, sementara Brasil pada 1934, 1966, dan 1990. Namun, belum pernah sebelumnya kedua tim kelas berat ini tersingkir sebelum turnamen mencapai tahapan ini.
Ada pun delapan negara yang meraih tiket ke perempat final akan berlangsung antara 9 dan 11 Juli 2026 yakni Perancis – Maroko, Spanyol – Belgia, Norwegia-Inggris, dan Argentina-Swiss
Dari delapan perempat finalis di Qatar 2022, empat di antaranya berhasil mencapai babak ini lagi empat tahun kemudian yaitu Argentina, Inggris, Perancis, dan Maroko.
Kala itu, hanya Inggris yang gagal melaju melewati babak perempat final setelah ditaklukkan oleh Les Bleus . Kedua finalis dari edisi 2022 masih bertahan di kompetisi ini pada bagan undian yang terpisah.
Hal ini berarti turnamen kali ini berpotensi menyajikan laga puncak yang sama dalam dua edisi berturut-turut untuk pertama kalinya sejak Piala Dunia 1986 dan 1990, ketika Argentina dan Jerman Barat menghadapi dua final secara beruntun.
Meskipun empat dari delapan perempat finalis pernah mengangkat trofi yakni Argentina tiga gela, Perancis dua gelar, Inggris, dan Spanyol masing-masing satu serta empat tim lainnya masih memenangkan mahkota juara dunia perdana mereka.
Belgia dan Maroko belum pernah melangkah lebih jauh dari babak semifinal. Swiss terakhir kali bermain di perempat final pada Piala Dunia di kandang mereka sendiri pada tahun 1954. Norwegia bahkan belum pernah melampaui Babak 16 Besar sebelumnya. Oleh karena itu, edisi 2026 ini bisa menjadi momen bagi negara baru untuk meraih gelar juara dunia untuk pertama kalinya sejak penobatan Spanyol pada tahun 2010.
Menariknya, dari delapan negara yang masih bersaing, hanya ada satu yang akan merasakan babak perempat final Piala Dunia untuk pertama kalinya yakni Norwegia.
Dikomandoi Erling Haaland yang tampil luar biasa, tim asal Skandinavia ini menyingkirkan Brasil pada babak sebelumnya untuk melanjutkan perjalanan mereka. Sebaliknya, Inggris yang lawan mereka berikutnya adalah tim yang paling sering tampil di tahap kompetisi sebanyak 10 kali.
Selanjutnya diikuti oleh Perancis (sembilan), Argentina (delapan), Spanyol (lima), serta Belgia dan Swiss (tiga). Bagi Maroko, ini baru akan menjadi perempat final kedua mereka.
Pertemuan reuni pada Jumat (10/7) dinihari dengan rival mereka di semifinal 2022, Perancis, Maroko berhasil melanjutkan kesuksesan mereka di Qatar, di mana mereka menjadi tim Afrika pertama yang mencapai babak empat besar Piala Dunia.
Di Amerika Utara kali ini, tim Singa Atlas telah mencatatkan dirinya sebagai tim Afrika pertama yang mampu mencapai perempat final dalam dua edisi berturut-turut.
Selain satu tim dari Afrika, bagan listrik final ini diisi oleh satu negara Amerika Selatan dan enam tim Eropa. Komposisi jumlah ini sama dengan edisi Rusia 2018 dan satu lebih banyak dibandingkan dengan edisi Qatar 2022.
Selain itu, enam dari 12 juara grup masih dalam persaingan: Swiss (Grup B), Belgia (Grup G), Spanyol (Grup H), Prancis (Grup I), Argentina (Grup J), dan Inggris (Grup L). Pengecualiannya hanya ada di Maroko dan Norwegia, yang masing-masing finis di peringkat kedua di Grup C dan Grup I. Dengan demikian, tidak ada satu pun tim peringkat ketiga terbaik yang tersisa pada tahap turnamen ini. Faktanya, hanya satu dari tim-tim tersebut yang berhasil lolos ke babak sebelumnya – yakni Paraguay, yang takluk 1-0 dari Prancis.
Lalu, di antara delapan tim yang masih bertahan di kompetisi ini, Perancis merupakan satu-satunya tim yang sukses memenangkan kelima pertandingan turnamen mereka tanpa harus melalui babak tambahan waktu.
Argentina nyaris menorehkan rekor yang sama, mereka juga mengoleksi lima kemenangan, tetapi La Albiceleste membutuhkan waktu tambahan 30 menit untuk menaklukkan Tanjung Verde 3-2 di Babak 32 Besar.
Spanyol dan Inggris masing-masing telah merangkum empat kemenangan dan satu hasil imbang. Norwegia, satu-satunya tim yang masih bersaing namun pernah mengalahkan kekalahan, memiliki rekor empat kemenangan dan satu kekalahan, yang diderita dari Prancis. Sementara itu, Belgia, Maroko, dan Swiss masing-masing memiliki rekor yang sama, yakni tiga kemenangan dan dua hasil imbang.
Sementara itu, Spanyol memiliki perjalanan yang mengesankan menuju perempat final, terutama karena fakta lini pertahanan mereka belum mampu dibobol setelah lima pertandingan. Mengingat edisi ini adalah yang pertama dalam sejarah yang menampilkan Babak 32 Besar, hal ini menandai pertama kalinya sejak Italia pada tahun 1990 ada sebuah tim yang mencapai tahap kompetisi ini tanpa kebobolan satu gol pun. Dalam hal jumlah kebobolan, mereka diikuti oleh Prancis (dua), Swiss (tiga), Maroko (empat), Inggris, Argentina, dan Belgia (lima), serta Norwegia (sembilan). (ful/KPO-3)















