Banjarbaru, KP – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) telah menyiapkan 14 pos penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Bandara Syamsudin Noor, prioritas yang dilindungi dari dampak besar selama musim kemarau.
Lima pos ring satu bandara telah didirikan.
Lokasinya di Guntung Damar, Pengayuan, Bati-Bati, kawasan Jalan Gubernur Sarkawi serta di Alalak, Barito Kuala, tepatnya di sekitar Kampus UMB.
“Area prioritas pertama memang kawasan sekitar bandara.
Setelah itu prioritas kedua adalah wilayah utara yang meliputi Barito Kuala, Tapin, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Utara hingga Tabalong,” jelas Kepala BPBD Kalsel, Ronny Eka Putra.
Menurut Ronny, keberadaan pos lapangan tersebut diharapkan mampu mempercepat waktu respons tim saat menerima laporan kebakaran sehingga api dapat segera dikendalikan sebelum meluas.
“Harapannya dengan adanya pos lapangan ini, respons tim dalam menanggulangi kebakaran hutan dan lahan bisa lebih cepat, sehingga kebakaran tidak menyebar dan tidak menimbulkan dampak yang lebih luas,” katanya.
BPBD Kalsel juga memperkuat penanganan karhutla melalui operasi udara menggunakan helikopter water bombing.
Operasi ini dilaksanakan bersamaan dengan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) guna mempercepat pemadaman titik-titik api yang sulit dijangkau oleh tim darat.
Ronny mengatakan operasi udara menjadi bagian penting dalam strategi penanganan karhutla, terutama untuk lokasi yang memiliki akses terbatas.
“Operasi udara sudah kita laksanakan bersamaan dengan Operasi Modifikasi Cuaca.
Saat tim darat menemukan titik api yang tidak dapat dijangkau, maka operasi udara melalui heli water bombing langsung dikerahkan untuk memadamkan api di lokasi tersebut,” ujar Ronny.
Saat ini BPBD Kalsel mendapat dukungan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) berupa tiga unit helikopter water bombing serta satu unit helikopter patroli udara.
Armada tersebut dimanfaatkan untuk mempercepat respons terhadap kejadian karhutla di berbagai wilayah di Banua.
“Alhamdulillah, beberapa titik api yang sulit dijangkau oleh tim darat berhasil dipadamkan melalui operasi heli water bombing yang merupakan bantuan dari BNPB,” katanya.
Ia menambahkan, operasional helikopter akan disesuaikan dengan perkembangan kondisi di lapangan. Dukungan udara tersebut direncanakan berlangsung selama masa penetapan status siaga darurat karhutla hingga 31 Oktober 2026.
“Kita menetapkan status sampai dengan 31 Oktober. Harapan kami sebelum tanggal tersebut kondisi sudah terkendali sehingga heli water bombing tidak lagi diperlukan karena seluruh titik api telah berhasil dipadamkan,” jelas Ronny.
Untuk memperkuat upaya penanganan karhutla, BPBD Kalsel juga berencana menambah satu unit helikopter water bombing. Penambahan armada ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan penanggulangan kebakaran di wilayah-wilayah yang sulit diakses.
“Ada rencana penambahan satu unit heli water bombing lagi untuk memperkuat penanganan karhutla, khususnya di daerah-daerah yang tidak dapat dijangkau melalui jalur darat,” ungkapnya. (mns/K-2)















