BANJARMASIN, Kalimantanpost.com – Pemilik Syakira Tour, Naufal, menawarkan dua opsi kepada calon jemaah umrah yang belum dapat diberangkatkan, yakni penjadwalan ulang (reschedule) atau pengembalian dana (refund), menyusul kembali tertundanya keberangkatan rombongan yang semula dijadwalkan pada 29 Juli 2026.
“Kami menawarkan dua opsi, yakni reschedule pada Oktober hingga November agar dapat diberangkatkan secara serentak, atau diberangkatkan secara bertahap mulai awal September dengan kuota sekitar 10 hingga 15 orang setiap keberangkatan,” ujar Naufal kepada awak media, Rabu (29/7/2026).
Selain penjadwalan ulang, pihaknya juga membuka opsi pengembalian dana bagi jemaah yang memilih membatalkan keberangkatan.
“Untuk refund memang belum bisa dilakukan hari ini. Namun akan kami realisasikan secara bertahap dalam waktu hingga tiga bulan ke depan. Insya Allah semuanya akan selesai,” katanya.
Naufal menjelaskan, keterlambatan keberangkatan bermula dari proses penerbitan visa yang tidak sesuai jadwal.
“Kasus pertama pada 8 Juli terjadi karena keterlambatan terbitnya visa. Sementara tiket pesawat sudah kami pesan, sehingga tiket tersebut hangus,” jelasnya.
Ia menambahkan, hingga saat ini proses penerbitan visa para jemaah masih berlangsung.
Di sisi lain, para calon jemaah mengaku kembali gagal diberangkatkan sesuai jadwal yang telah dijanjikan.
Berdasarkan keterangan perwakilan jemaah, keberangkatan awal dijadwalkan pada 16 Juli 2026, kemudian diundur menjadi 23 Juli 2026, dan kembali dijanjikan berangkat pada 29 Juli 2026. Namun hingga Rabu (29/7/2026), keberangkatan tersebut belum juga terealisasi.
“Awalnya kami dijadwalkan berangkat 16 Juli, lalu diundur ke 23 Juli, kemudian dijanjikan lagi tanggal 29 Juli. Sampai sekarang belum ada kepastian keberangkatan,” ujar salah seorang perwakilan calon jemaah.
Berdasarkan Informasi, terdapat 83 calon jemaah dalam rombongan tersebut. Selain penundaan jadwal, para jemaah juga mengeluhkan proses pengurusan visa yang belum kunjung selesai sehingga mereka merasa tidak memperoleh kepastian.
“Kami hanya ingin kepastian. Jika memang belum bisa berangkat, sampaikan secara terbuka agar kami tidak terus menunggu tanpa kejelasan,” katanya. (yul/KPO-4)















