JAKARTA, Kalimantanpost.com – Mabuk emosional atau yang lebih dikenal dengan emotional hangover dapat terjadi setelah seseorang merasa sangat kelelahan atau mengalami sesuatu yang menguras emosi sebelumnya.
Psikolog klinis Tracy King dalam siaran Real Simple pada Rabu (9/9/2026) menyebut merasakan emosi yang besar dan intens mengaktifkan sistem syaraf yang mendorong kita beralih ke mode perlindungan diri supaya bisa terus menerus menyesuaikan kewaspadaan, detak jantung, pernapasan, ketegangan otot, dan perhatian sebagai respons terhadap apa yang terjadi.
Penumpukan emosi ini dapat terjadi pada peristiwa emosional apa pun. Ketika peristiwa itu berakhir, kita akan merasa sangat lelah dan merasa menghabiskan lebih banyak energi untuk memproses peristiwa tersebut.
“Otak kita juga dapat terus memproses peristiwa setelah peristiwa itu berakhir dengan memutar ulang percakapan dan menafsirkan reaksi orang lain untuk mencoba memahami apa arti pengalaman itu bagi kita dan orang lain,” kata King.
King menjelaskan jika peristiwa tersebut termasuk kurang tidur, alkohol, kurang makan hingga banyak kebisingan.
Berada dalam kondisi tersebut untuk jangka waktu yang lama juga menghabiskan banyak energi. Hal ini dikarenakan emosi yang kuat juga membutuhkan tenaga lebih besar untuk mengaturnya.
Profesor ilmu psikologi di Universitas Arkansas Jennifer Veilleux menambahkan bahwa mengalami emosi yang sering atau intens efeknya bisa lebih intens lagi.
Dalam percakapan yang sulit, misalnya, kita mungkin akan menangis atau berteriak, tetapi di sisi lain kita juga memiliki keinginan untuk mendengarkan dan menahan perasaan untuk mendengarkan orang lain.
“Semua itu membutuhkan usaha, yang berarti bahwa memiliki emosi dan mencoba mengelolanya menghabiskan energi,” ujarnya.
Lebih lanjut, King mengatakan alasan emosi positif yang besar dapat menyebabkan kelelahan emosional yang sama seperti emosi negatif yang besar adalah karena kedua jenis emosi tersebut mengaktifkan sistem saraf dengan cara yang sama.
Menurut Veilleux, hal ini sebenarnya dapat diatasi dengan berlatih berbagi emosi tingkat rendah atau kurang intens lebih sering.
“Ketika kita mengizinkan dan berbagi emosi tingkat rendah, emosi tersebut tidak akan menjadi sebesar itu. Sama seperti minum satu gelas tidak menyebabkan mabuk bagi kebanyakan orang, begitu pula berbagi emosi yang nyata tetapi kurang intens,” kata Veilleux.
Cara lain adalah dengan merawat diri sendiri dengan ekstra baik sebelum dan sesudah peristiwa emosional besar ini. Cobalah untuk cukup tidur, makan, dan lakukan sesuatu yang menyenangkan sebelumnya seperti menonton acara favorit untuk mengisi kembali sumber daya emosional kita.
“Kemudian setelah emosi yang kuat mereda, isi kembali energi anda dengan tidur, makan, dan minum (yaitu, perhatikan tubuh Anda),” kata Veilleux.
Ia juga mengatakan untuk memperlakukan diri sendiri dengan penuh kasih sayang saat memproses perasaan-perasaan ini. Ingatkan diri sendiri bahwa semua emosi itu alami dan kita baik-baik saja untuk merasakannya.
Emosi yang meluap seharusnya mereda, tetapi jika emosi seperti kecemasan dan kelelahan ringan terus berlanjut segera temui profesional kesehatan mental. (Ant/KPO-3)















