World Hijab Day vs No Hijab Day

Oleh: Mahrita Julia Hapsari, M.Pd
Praktisi Pendidikan

Hijab kembali ramai diperbincangkan, utamanya para netizen. Gegara sebuah sayembara yang dipelopori oleh komunitas Hijrah Indonesia. Suatu nama yang baik untuk sebuah komunitas, namun tak elok dengan isi kampanyenya.

Hijrah Indonesia mengajak perempuan Indonesia untuk membuka hijab. Dan meminta peserta berfoto, kemudian mengunggah di laman sosmed sambil menceritakan pengalamannya bebas dari hijab. Dalam promonya, dituliskan tema Unity in Diversity, serta hastag muslim nusantara, lengkap dengan foto perempuan Indonesia berbaju adat daerah.

Gerakan No Hijab Day dipelopori oleh Yasmin Mohammed. Dimulai sejak unggahan video di akun twitter bernama @ConfessionExMu pada tanggal 6 Pebruari 2018 (lifestyle.okezone.com, 06/02/2018). Video tersebut menampilkan aksi melepaskan hijab yang sedang dipakai sambil mengucapkan kalimat “Happy No Hijab Day”.

Tak berhenti sampai melepasnya, aksi dilanjutkan dengan membakar hijab tadi di atas kobaran api. Yasmine juga menuliskan “#NoHijabDay In solidarity with woman who are forced to wear hijab. #MyStealthyFreedom,” demikian cuitan Yasmine menyertai videonya tersebut.

Ditengarai, aksi Yasmine sebagai penentangan terhadap gerakan World Hijab Day yang digagas oleh salah satu warga New York, Nazma Khan. Nazma Khan mengajak para wanita muslim ataupun non-muslim untuk menggunakan hijab meski hanya satu hari, yaitu pada 1 Pebruari 2018. Nazma ingin mengalirkan semangat toleransi sekaligus merasakan pengalaman beragama dari berhijab. Gagasan tersebut berangkat dari pengalaman dirinya yang didiskriminasi karena hijab yang digunakannya (lifestyle.okezone.com, 06/02/2018).

Di tengah diskriminasi, dirundung dengan sebutan yang memerahkan telinga, mulai dari ninja hingga Osama. Nazma Khan tetap ingin berhijab. Bahkan mengajak rekan-rekannya berhijab, meskipun hanya sehari, untuk merasakan apa yang dialaminya dan memperdalam pengalaman spriritual.

Hal berbeda dilakukan oleh Yasmine. Ide feminisme begitu kental di aksi No Hijab Day. Keinginan bebas dari aturan agama, terutama Islam, begitu mendominasi. Hijab dianggap menyusahkan perempuan. Hijab dianggap membatasi hak perempuan. Lebih parah lagi, hijab menyebabkan penyakit defisiensi vitamin D hingga autoimun. Sungguh suatu fitnah yang keji.

Tidaklah Allah menurunkan suatu aturan kecuali untuk kebaikan manusia. Karena sejatinya, Islam diturunkan Allah sebagai rahmat bagi semesta alam. Sebagaimana firman Allah dalam Alqur’an surah Al-Anbiya ayat 107.

Berita Lainnya
1 dari 151
Loading...

Perintah menutup aurat telah Allah turunkan kepada umat manusia dan wajib hukumnya. Adapun batasan aurat laki-kaki adalah dari pusat hingga lutut. Sedangkan perempuan, seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan.

Khusus perempuan, ada perintah untuk menggunakan khimar atau kerudung dan jilbab ketika keluar rumah. Dalam surah An-Nur ayat 31, kain khimar digunakan untuk menutupi kepala hingga dada. Sedangkan jilbab atau jubah, termaktub dalam surah Al-Ahzab ayat 59.

Jilbab adalah pakaian luar yang menghulur dari leher hingga mata kaki, luas, longgar dan tidak berpotongan. Jilbab digunakan di atas pakaian rumah. Rasul Saw. bersabda: Dari Ummu ‘Athiyyah, ia berkata, “Pada dua hari raya, kami diperintahkan untuk mengeluarkan wanita-wanita haid dan gadis-gadis pingitan untuk menghadiri jamaah kaum muslimin dan doa mereka. Tetapi wanita-wanita haid harus menjauhi tempat shalat mereka. Seorang wanita bertanya:, “Wahai Rasulullah, seorang wanita di antara kami tidak memiliki jilbab (bolehkan dia keluar)?” Beliau menjawab, “Hendaklah kawannya meminjamkan jilbabnya untuk dipakai wanita tersebut.” (HR. Bukhari no. 351 dan Muslim no. 890).

Bagi seorang muslim, semestinya bersikap taat dan tunduk pada setiap aturan Allah. Dan tak ada tawar menawar ataupun pilihan lain baginya. Hal ini ditegaskan Allah : “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya”. (QS. An Nisa : 65)

Tidaklah Allah akan menzalimi makhlukNya. Sebagaimana firman Allah dalam Alqur’an : “Sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim kepada manusia sedikitpun, akan tetapi manusia itulah yang berbuat zalim kepada diri mereka sendiri”. (QS. Yunus : 44)

Ketika manusia tidak mengikuti perintah Allah, maka saat itulah manusia sedang menzalimi dirinya sendiri. Tanpa berhijab, perempuan akan ditelanjangi oleh lirikan nakal laki-laki berotak mesum. Tak sebatas pandangan menjijikkan, terkadang sampai tindak pelecehan, perkosaan dan pembunuhan. Sementara di akhirat, ia menzalimi dirinya dengan menanggung azab pedih akibat melanggar perintah berhijab.

Sistem kehidupan yang liberal saat ini telah melahirkan ketidakamanan dan ketidaktenangan bagi manusia. Ketika Nazma Khan hendak menjalankan perintah Allah, ada saja yang membuly. Di sisi lain, ada yang berani mempertontonkan penentangannya terhadap perintah berhijab, seperti Yasmin Mohammed.

Sistem ini bukanlah sistem ideal untuk manusia menjalani hidup sesuai dengan fitrahnya. Sistem ini telah menggerus rasa kemanusiaan dan mengamputasi fitrah manusia. Orientasi dunia telah membuat manusia melupakan kehidupan akhiratnya yang kekal. Lahirnya gerakan No Hijab Day menjadi bukti nyata kebobrokan sistem liberalisme.

Diperlukan sebuah sistem yang mampu mengakomodir semua fitrah manusia. Sebuah sistem yang menjamin keamanan serta kenyamanan manusia dalam beribadah. Sebuah sistem yang mampu mencegah manusia menentang perintah Allah. Itulah sistem Islam. Wallahu a’lam

loading...
Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya