Spirit Idul Fitri : Mewujudkan Takwa, Meraih Berkah

Oleh : Adzkia Mufidah, S.Pd
Pengajar di Kecamatan Danau Panggang, HSU

Ada yang berbeda pada Hari Raya Idul Fitri tahun ini. Karena Idul Fitri kali ini harus dilalui kaum muslimin dengan penuh keprihatinan di tengah mewabahnya Corona (Covid-19). Terkait hal itu, pesan-pesan dari para tokoh masyarakat dan pejabat pun bertebaran di media. Yang intinya meminta kaum muslimin untuk menerima dengan lapang dada kondisi yang ada.

Seperti yang disampaikan oleh pemimpin negeri ini. Dalam sambutannya saat acara ‘Takbir Virtual Nasional dan Pesan Idul Fitri, Sabtu, 23 Mei 2020, presiden berharap seluruh masyarakat bisa menerima kondisi ini, baik dalam keadaan senang maupun sedih, berlimpah atau kekurangan, sulit ataupun mudah, rumit atau sederhana. “Jika Allah benar-benar menghendaki dan jika kita bisa menerimanya dengan ikhlas dan dalam takwa dan tawakal, sesungguhnya hal tersebut akan membuat berkah, membuahkan hikmah, membuahkan rezeki, dan juga hidayah,” kata Jokowi. (Tempo.co)

Ada yang menarik dari pernyataan tersebut, tentang bagaimana seharusnya kaum muslimin menyikapi perayaan Idul Fitri ditengah kondisi saat ini. Bahwa dengan takwa dan tawakkal akan membawa keberkahan.

Kata takwa memang sangat mudah untuk diucapkan. Namun sebenarnya kata tersebut mengandung makna yang sangat dalam. Kata taqwâ berasal dari kata waqâ yang artinya melindungi. Kata tersebut kemudian digunakan untuk menunjuk pada sikap dan tindakan untuk melindungi diri dari murka dan azab Allah SWT.

Menurut Ibnu Qayyim, beliau berkata, “Hakikat takwa adalah menaati Allah atas dasar iman dan ihtisab, baik terhadap perkara yang diperintahkan atau pun perkara yang dilarang. Oleh karena itu, seseorang melakukan perintah itu karena imannya, yang diperintahkan-Nya disertai dengan pembenaran terhadap janji-janji-Nya. Dengan imannya itu pula, ia meninggalkan yang dilarang Allah dan takut terhadap ancaman-Nya.”

Jadi, singkatnya, takwa berarti ketaatan kepada Allah dengan menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Takwa/ketaatan kepada Allah SWT mestinya dilakukan secara totalitas- mewujud dalam segala aspek kehidupan. Tentunya hal itu bukan hanya pada tataran individual saja. Tetapi juga mewujud dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Dan bahkan dalam hubungan luar negeri.

Mengacu pada makna tersebut, sudahkah kita menjadi hamba yang bertakwa? Untuk skop yang lebih luas, sudahkah takwa tersebut benar-benar terwujud dalam kepemimpinan para penguasa negeri ini? Atau sudahkah mereka memelihara dan mengurusi urusan rakyat sesuai syariat Allah?

Kembali pada pesan-pesan kepala negara di atas. Sekilas pesan-pesan tersebut terdengar indah. Namun terasa garing manakala kenyataannya tidak bersesuaian dengan apa yang disampaikan.

Berita Lainnya
1 dari 155
Loading...

Lihat saja. Tidak cukup mengambil dan menerapkan sistem kapitalis dengan aqidah sekulernya. Para pemimpin negeri ini bahkan membuat berbagai peraturan dan kebijakan yang lebih banyak mengacu pada arahan para kapital yang notabene tidak berpijak pada syariat. Seperti baru-baru ini, pemerintah mengesahkan Revisi UU No.4/2009 tentang Minerba pada 12 Mei 2020, yang disinyalir publik lebih lekat dengan kepentingan perusahaan tambang.

Begitu pula selama pandemi ini. Peraturan dan kebijakan yang diambil, tidak hanya menyalahi syariat namun juga tidak berpihak kepada kepentingan rakyat. Seperti disahkannya Perppu Corona (16 Mei 2020). Menurut para pengamat, alih-alih menjadi jalan keluar, peraturan tersebut malah dapat melemahkan penegakkan hak masyarakat, serta kemungkinan dapat memberikan celah, kekebalan/imunitas hukum pada para pejabat yang memiliki kewenangan melakukan tindakan.

Pun di awal Juni ini, saat serangan wabah masih menggila, penguasa justru menerapkan new normal life, mengikuti tren global. Sebagai upaya menormalkan kondisi ekonomi. Ironisnya, hal itu tidak diiringi dengan peningkatan penanganan wabah dari aspek kesehatan. Lagi-lagi nyawa rakyat dipertaruhkan. Mestinya penanganan kesehatan dan keselamatan rakyat menjadi prioritas. Bukan menormalkan pertumbuhan ekonomi. Sebab nyawa seorang muslim di mata Allah SWT lebih berharga ketimbang dunia dan isinya.

Fakta diatas menunjukan bahwa di negeri ini syariat Allah SWT telah diabaikan. Syariat dipandang remeh. Seolah seperti pakaian yang bisa dipilah-pilih. Sebagian dipakai, sebagian lagi ditinggalkan. Hanya pada perkara ibadah mahdhah syariat diambil. Sedangkan yang berhubungan dengan hukum pidana, muamalah, politik dan negara justru diabaikan. Parahnya lagi, bahkan ada pejabat yang mengatakan sebagian hukum Islam mengancam tatanan kehidupan masyarakat. Padahal Allah SWT telah menegur, dalam firman-Nya: “Apakah kalian mengimani sebagian al-Kitab dan mengingkari sebagian lainnya? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian di antara kalian, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada Hari Kiamat mereka akan dilemparkan ke dalam siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kalian perbuat”. (QS al-Baqarah [2]: 85).

Lalu, bagaimana bisa mewujudkan keberkahan, dan kesejahteraan? Sedangkan sistem yang diterapkan tidak berlandas pada syariat Allah SWT.

Sesungguhnya takwa yang bisa membawa pada solusi bangsa dan wabah ini adalah dengan diterapkannya syariat Allah secara total. Sebagaimana firman Allah :

“Dan jika penduduk negeri beriman dan bertakwa (kepada Allah sesungguhnya Kami (Allah) bukakan kepada mereka (pintu-pintu) berkah dari langit dan bumi; Tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka lantaran apa yang telah mereka kerjakan”. (QS. Al-A’raf: 96)

Maka kunci agar sebuah negeri mendapatkan berkah dari langit dan bumi adalah iman dan takwa. Bukti iman dan takwa bagi muslim adalah ketundukan total kepada syariat-Nya. Tidak pilah pilih terhadap hukum Allah.

Inilah ketaatan yang senantiasa akan membawa kemuliaan. Tidak heran jika para Khulafaur Rasyidin sangat memperhatikan keberlangsungan setiap hukum Allah SWT. Sungguh inilah kesadaran tertinggi akan makna takwa, yakni taat kepada seluruh aturan Allah SWT. Pun jaminan kemuliaan manusia di muka bumi ini, sesungguhnya hanya ada dalam pelaksanaan syariat secara total dalam institusi khilafah. Wallaahua’lam.

loading...
Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya