Idul Adha Dan Makna Kurban

Oleh : Ismail Wahid
Pengamat Sosial dan Keagamaan

Sepuluh Dzulhijjah 1441 Hijriah saudara-saudara kita dari berbagai pelosok dunia telah mengadakan pertemuan akbar di Kota Mekkah dalam rangka menunaikan ibadah haji dan sehari sebelumnya, 9 Dzulhijjah, jutaan umat Islam menunaikan ibadah haji wukuf di Arafah. Mereka berkumpul dengan memakai kain ihram sebagai lambang kesetaraan derajat manusia di sisi Allah, tidak ada keistemewaan antara setiap orang, kecuali ketakwaan

kepada Allah. Dan pada hari itu pula kaum muslimin berbondong-bondong menuju mesjid sambil mengumandangkan takbir, tahmid dan tahlil untuk melaksanakan shalat ldul Adha. Selesai melakanakan shalat idul adha, bagi orang yang mampu berkurban akan melaksanakan ibadah kurban dengan penuh keikhlasan dan keimanan.

Secara loghawi, kurban berasal dari kata qaraba-yuqaribu, qurba-nan, melakukan pendekatan. Secara istilah bermakna hewan/binatang ternak yang disembelih karena perintah Allah dalam rangka mendekatkan diri kepada-Nya pada hari Raya ldul Adha dan hari tasyrik yaitu pada tanggal 11, 12 dan 13 Dzulhijjah. Menurut para ahli fiqih hukum berkurban adalah sunnah muakadah. Untuk dapat memahami makna kurban dalam kehidupan, kiranya perlu dimengerti riwayat perintah kurban. Umat Islam diperintahkan

untuk melaksanakan ibadah kurban dengan menyembelih ternak kurban. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Alqur’an : “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak, maka dirikanlah shalat karena tuhan-Mu, dan berkurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu. Dialah yang terputus”. (QS. Al Kausar : 1-3)

Kurban dalam Islam merupakan salah satu ibadah untuk mendekatkan diri (taqarub)kepada Allah SWT. Kurban merupakan ibadah yang sangat dianjur kan, sehingga orang yang memiliki kemampuan untuk berkurban tetapi tidak mau melaksanakan kurban dilarang hadir di tempat shalat hari raya. Dalam sebuah hadist dinyatakan oleh Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda “Man wajada sa’atan falam yudhahhi fala yaqrabbanna mushala-na”, yang artinya “Barangsiapa memiliki kemampuan berkurban tetapi tidak menyembelih ternak kurban, maka jangan mendekati tempat shalatku”. (Imam Ahmad dan lbnu Majah).

Makna kurban ini hanya dapat dipahami dengan merunut sejarah kurban, yaitu riwayat pengorbanan Nabi Ibrahim AS dan putanya Ismail AS. Nabi Ibrahim yang sudah tua sangat merindukan searang putra yang diharapkan dapat meneruskan perjuangannya. Karena doanya yang gigih, ikhlas dan khusyu, permohonan Nabi Ibrahim dikabulkan. Maka lahirlah Ismail. Akan tetapi ketika Ismail telah menjelang dewasa dan tumbuh menjadi anak

yang baik dan shaleh datanglah perintah Allah untuk mengorbankannya. Karena ketakwaan keduanya (Nabi Ibrahim dan putranya Ismail), maka perintah yang berat itu dilaksanakan dengan ikhlas. Keduanya pasrah untuk melaksanakan perintah Allah SWT. Ibrahim ikhlas untuk mengorbankan putranya, Ismail ikhlas untuk mengorbankan dirinya. Karena keikhlasan dan ketakwaan mereka itu, maka Allah menyelamatkan Ismail dari penyembelihan dan menggantikannya dengan sembelihan yang besar, sebagaimana firman

Berita Lainnya

Pendidikan Utama Manusia di Bumi

Pendidikan Minus Visi, Berorientasi Industri

1 dari 153
Loading...

Allah dalam Alqur’an : “Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipisnya, (nyatalah kesabaran Keduanya) Dan Kami panggillah dia hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Dan sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata”. (QS. Ash Shaffat : 103-106)

Semangat korban ini senantiasa diperlukan dalam kehidupan umat manusia, sebab tanpa adanya semangat korban kehidupan umat ini tidak tidak akan pernah baik. Peradapan manusia berkembang karena adanya pengorbanan dan semangat berkorban dari para pemimpin. Bangsa ini blsa merdeka karena adanya pengorbanan dari para pahlawan dan para pemimpin perjuangan. Mereka rela mengorbankan apa saja yang mereka miliki untuk kemerdekaan bangsa. Mereka berkorban harta, tenaga bahkan jiwa raga, sehingga berhasil mencapai kemerdekaan.

Dalam era sekarang ini, dimana terjadi carut marut bidang peradilan (hukum), maraknya korupsi dan manipulasi, suburnya perdagangan narkoba, kekerasan dan komplek terjadi di mana mana, saling tuntut antara buruh dengan pengusaha, rakyat dan pemerintah, sangat membutuhkan pengorbanan semua pihak khususnya dari para pemimpin. Sayangnya semangat berkorban sekarang ini telah banyak yang luntur. Banyak oknum-oknum pejabat dan pemimpin baik di jajaran legislatif (anggota dewan) eksekutif (pemerlntah) maupun yudikatif (penegak hukum) yang egois, lebih

mementingkan diri sendiri dari pada kepentingan rakyat banyak. Mereka lupa sejarah perjuangan bangsa ini. Mereka tidak mengerti bahwa negeri ini dibangun dengan pengorbanan para pahlawan, dengan mengorbankan harta, tenaga, jiwa dan raga. Para oknum pejabat tersebut tidak memikili semangat berkorban seperti para pahlawan, mereka lupa bahwa masih banyak warga yang menderita kesusahan karena kemiskinan.

Para pemimpin dan wakil rakyat hendaknya dapat menangkap sprit dan jiwa dalam kurban, sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Semangat pengorbanan itu diperlukan untuk membangun kemanusiaan dan peradapan. Indonesia bisa merdeka, karena banyak orang-orang yang berkorban (memberi). Petani, buruh, ulama, mubaligh, mahasiswa, pelajar politisi dan tentara semuanya berkorban untuk merebut kemerdekaan. Mereka mengorbankan pemikirannya, tenaga, harta benda, jiwa dan raga. Mereka tidak ada yang meminta bintang, pangkat dan fasilitas semua dilakukan secara ikhlas.

Sekarang ini negara kita masih belum keluar dari cobaan seperti covid-19 yang banyak menimbulkan korban jiwa dan merusak tatanan perekonomian, sosial dan politik, bencana alam, tanah longsor dan banjir dan berbagai bencana lainnya. Sekarang ini dibutuhkan pemimpin yang mau berkorban(mau memberi) untuk mengisi kemerdekaan dan mengisi pembangunan, pemimpin yang mau berpihak pada rakyat kecil, petani, buruh, nelayan. Kita butuh pemimpin yang mau membebaskan rakyat dari kemiskinan, menciptakan lapangan kerja untuk mengurangi dan menghilangkan pengangguran.

Pemimpin yang melayani bukan pemimpin yang dilayani. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Alqur’an surah At-Taubah ayat 128, yang intinya seorang pemimpin harus dapat merasakan beban penderitaan rakyatnya.

Kurban adalah memberikan yang terbaik, yang paling dicintai untuk Allah, karena Allah lebih dicintai dari pada yang lain. Dalam kehidupan sekarang ini, semangat kurban masih tetap diperlukan. Karena semangat kurban itu sangat penting bagi masyarakat yang ingin membangun peradaban. Tanpa adanya semangat pengorbanan suatu masyarakat tidak akan bisa maju dan berkembang dengan baik. Selamat Idul Adha dan selamat berkurban.

loading...
Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya