Kekuasaan Islam Politik Melalui Kesultanan Islam di Nusantara Mampu Memberi Pengaruh

Oleh : Siti Ruaida, S.Pd
Guru di MTsN Antasari Martapura

Kekuasaan Islam bukan hal yang baru di Nusantara, dari literatur dan penelitian ada bukti yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-7 ada hubungan Nusantara dengan kekuatan politik Islam, yaitu Khilafah Turki Utsmani. Seperti yang disampaikan Buya Hamka, beliau menyebutkan bahwa Teori Gujarat yang menyebutkan Islam masuk pada abad ke-12 tidaklah tepat. Menurut beliau Islam masuk jauh dari Teori Gujarat. Diperkirakan Islam masuk pada abad ke-7 pada masa Khalifah Usman bin Affan dan sampai pada masa kekuasaan Bani Umayyah. Dalam catatan disebutkan di ujung pulau ada sebuah pulau bernama Sribusa, untuk menyebut Kerajaan Sriwijaya yang saat itu adalah pusat pelayaran. Yang menjadi tempat persinggahan para pedagang Arab, Persia, India dan Cina. Nama Sriwijaya bagi orang Arab dan Persia menyebutnya Zabaj atau Zabag, sedangkan Cina menyebutnya Sanfoqi.

Aktivitas perdagangan membuat Sriwijaya semakin berkembang dan menjalin hubungan dengan bangsa manapun. Dari sini terjadi kontak dengan para pedagang dari Arab dan Persia. Dan sejalan dengan visi misi ke Khilafah Bani Mu’awiyah yang politik luar negeri mengemban dakwah Islam keseluruh penjuru dunia. Keseriusan Khilafah Bani Mu’awiyah terlihat dari perkembangan yang sangat signifikan berupa meluasnya wilayah kekuasaan Islam. Untuk mendukung hal itu, bahkan mereka mencetak pelayar-pelayar hebat untuk mengarungi Samudera dan mengirimkan juru dakwah mereka. Kekhilafahan saat itu menjelma menjadi kekuatan yang berpengaruh dan termasyhur di dunia yang dikenal oleh penguasa-penguasa kerajaan saat itu. Karena mampu mendobrak kekuatan dan kekuasaan dua negara Adidaya Persia dan Romawi. Mashurnya Kekhilafahan telah menjadi penggerak terjadinya Revolusi Tauhid, di wilayah sebelah Timur yang hijau, banyak mata air dan kekayaan alam yang melimpah ruah yang dikenal oleh sebagai Nusantara, yang diapit dua benua dan dua sam
udera. Yang merupakan pelabuhan dagang. Dari awalnya tidak mengenal Islam, akhirnya Islam membara di Nusantara.

Sebagai bukti ditemukannya surat kepada Raja Sriwijaya yang saat itu merupakan sebuah kerajaan besar yang wilayahnya melintang sejauh hamparan Pulau Sumatera, Semenanjung Malaya dan daratan Jawa. Pada akhir abad ke-7 sampai akhir abad ke-14. Surat menyurat dengan Kekhilafahan Bani Umayyah ini berjudul “The Two Letters From The Maharaja to The Khalifah. Sebuah tulisan khusus mengkaji surat dari Maharaja kepada Khalifah. Apa yang tertuang dalam surat menyurat Khalifah mengajak mereka kepada Islam, memberikan mereka jaminan akan berkuasa di negeri mereka. Dan mendapatkan hak yang sama dengan kaum muslimin. Dan mereka juga memikul kewajiban yang sama dengan kaum muslimin.

Berita Lainnya

Pentingnya Melindungi Kesehatan Mental Anak

Melindungi Anak dari Penularan Covid-19

1 dari 291

Dari surat itu ada yang menarik kesimpulan “Orang-orang Arab telah memperluas India sejauh kepulauan Jawa”. Misalnya Reinaud yang disepakati oleh Fatimi dengan menyimpulkan Sriwijaya bagian dari Al-Hind. Walaupun beberapa ahli berbeda pendapat tentang masalah ini. Salah satu bukti sebuah surat yang ditulis di tahun 99 Hijriah atau tahun 717-718 Masehi surat yang ditulis oleh Umar Bin Abdul Aziz yang isinya tidak hanya mengajak masuk Islam, namun Khalifah juga menginginkan mereka untuk memberikan kesetiaan kepada Khilafah Bani Umayyah. Bukti surat menyurat Khalifah Umar Bin Abdul Aziz dengan Kerajaan Sriwijaya ini juga mengisyarakatkan, agar mereka mempertahankan wilayah masing-masing dan hak-hak.mereka dijamin sa dengan kaum.muslimin yang lain. Dan yang terpenting adalah keterikatan mereka dengan kewajiban atau konsekuensi yang diberikan Khalifah Umar Bin Abdul Aziz kepada mereka. Raja-raja menyepakatinya dan mereka tunduk, bahkan mereka mengubah nama mereka dengan nama Islam.

Surat-surat ini juga.membuktikan bahwa ini adalah Surat dakwah Khalifah Umar Bin Abdul Aziz sebagai bukti kuatnya keinginan politik luar negeri umat Islam. Maka sudah selayaknya hal ini menambah keyakinan Umat Islam akan kedigdayaan Islam ketika diterapkan dalam.sebuah sistem Kekhilafahan. Kekuatan dan kekuasaan Islam terus berlanjut di Samudera Pasai, yang bisa kita lihat dari sultan-sultan yang berkuasa dan mereka mengemban dakwah Islam dengan menaklukkan wilayah-wilayah yang belum Islam. Sebagai contoh Sultan Zainal Abidin yang dijuluki sebagai pengusaha gelombang Ra-ubabdar bin Ahmad bin Muhammad bin Al-Malik Ash Sholih yang memerintah 831H/1428 M-841H/1438 M.

Sultan Samudera Pasai berbai’at kepada Khilafah Abbasiyah, seperti yang disampaikan oleh Nicho Pandawa ketika gelombang badai Mongol dihentikan oleh Dinasti Mamluk dan pusat Dinasti Abbasiyah pindah ke Mesir. Dari pusat Khilafah inilah dakwah bangkit dengan mengirim juru dakwah keseluruh penjuru alam. Samudera Pasai mengemban tugas mengubah kawasan Asia Tenggara dari Darul Kufur menjadi Darul Islam. Hal ini dapat dibuktikan dari nisan-nisan yang bertuliskan nama-nama yang menunjukkan keterhubungan dengan Baghdad yaitu keturunan Khalifah Baghdad yang diduga cicit Sultan Al Muntasir Billah. Di Nisan tertulis nama Abdullah bin Muhammad bin Ab’dal Aziz bin Mansyur Abu Ja’far Abbas Al Muntasir Billah dan tertera tahun 1407.

Penguasa Samudera Pasai diduga dikelilingi oleh ahli agama Islam dari Timur Tengah bahkan sebelum Abdullah bin Muhammad. Hal ini juga berkaitan dengan kejatuhan Baghdad yang mengubah jalur perdagangan dari Teluk Persia yang melaui Baghdad lalu ke Pelabuhan Syiria dan Asia Kecil. Jalur baru ini melewati Aden dan Mocha di Yaman, Jeddah Laut Merah, Iskandariah Mesir sampai Eropa melalui Italia. Juga menyebabkan para ahli agama atau juru dakwah melakukan perjalanan ke berbagai wilayah dengan misi keimanan, mendakwahkan Islam. Benar saja hal ini menyebabkan pertumbuhan massal Masyarakat muslim. Perkembangan paling menonjol dari berkuasanya Sultan Zainal Abidin adalah tampilnya kebudayaan Melayu Islam. Yang disebut kebudayaan Islam “Jawiy” (Melayu). Misalnya Berupa penggunaan bahasa “Jawiy” yang telah ditranskrip ke huruf-huruf Arab, yang bisa dilihat atau kita jumpai pada batu-batu nisan dari Patih abad ke-9H/15 M.

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
loading...

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya