Gas Melon Langka, Hamdiah Beralih ke Kayu Bakar

Banjarmasin, KP – Kelangkaan gas LPG 3 Kg yang terjadi di Kota Banjarmasin memaksa warga miskin untuk bersabar menghadapi keadaan. Bahkan, kelangkaan tersebut tak sedikit warga yang beralih ke bahan bakar lain.

Salah satunya Hamdiah, Warga Teluk Ujung Benteng, Kelurahan Mantuil, Kecamatan Banjarmasin Selatan ini terpaksa meninggalkan gas melon yang seharusnya memang diperuntukkan bagi warga miskin tersebut.

“Di sini sangat sulit mencari gas, jadi mau tidak mau kami kembali ke kayu bakar lagi agar bisa memasak keperluan sehari-hari,” ungkapnya saat ditemui awak media di rumahnya, Jumat (19/02) siang.

Ia mengaku, kondisi tersebut sudah lama terjadi, tepatnya ketika banjir melanda beberapa wilayah di Kalimantan Selatan.

“Saya lebih sudah seminggu memasak pakai kayu bakar, yaa mau bagaimana lagi, gas di sini sangat sulit dicari,” keluhnya.

Menurut wanita berusia 50 tahun itu menambahkan, kondisi tersebut tidak hanya dialami oleh dirinya saja. Pasalnya, banyak tetangganya yang kini juga beralih ke bahan bakar kayu.

“Malah mereka beli kayu bakar yang berasal dari sisa-sisa pembangunan Jembatan Antasan Bromo atau juga sampah kayu yang hanyut terbawa arus” bebernya.

“Jangankan di pangkalan, di warung pengecer pun juga tidak ada. Walaupun ada, kami warga di sini juga tidak mampu beli, harganya bisa mahal. Rp 50 sampai 60 ribu satu tabungnya,” tandasnya.

Berita Lainnya
1 dari 2.435

Oleh karena itu, wanita yang tinggal di pesisir Ibu Kota Provinsi Kalimantan Selatan itu mengaku sangat mengharapkan program maupun kebijakan agar bisa mengatasi problema yang sudah sudah menjadi momok bagi masyarakat miskin ini.

“Pemerintah setempat harus peka dan melihat bagaimana kondisi kami di ujung Banjarmasin ini. Sangat sulit nyari gas,” imbuhnya.

“Kami juga berharap di pulau Teluk Ujung Benteng ini ada pangkalan gas LPG, jadi kami tidak perlu ke seberang membelinya. Soalnya, stok pangkalan gas di sana saja masih belum bisa memenuhi keperluan warga di sana,” tutupnya.

Selain Hamdiah, juga ada Aldi, pedagang pentol keliling yang sering mangkal di Kawasan Ekowisata Jembatan Antasan Bromo, Mantuil. Ia memilih untuk pindah menggunakan kompor minyak.

Bukan tanpa alasan, hal itu dilakukan Aldi lantaran dirinya kesulitan untuk membeli gas LPG 3 Kg yang biasa digunakannya untuk memanaskan pentol dagangannya.

“Padahal jik dihitung-hitung kompor minyak lebih boros dibandingkan gas. Tapi mau bagaimana lagi, kalau tidak pindah ke kompor minyak kami gak bisa jualan,” tukasnya.

Hal senada juga diutarakan oleh Hanny, pedagang gorengan yang ada di Jalan Malinau, Kelurahan Mantuil, Kecamatan Banjarmasin Selatan itu mengaku hanya punya satu tabung gas.

“Kalau gas ini habis, terpaksa kami libur dulu sambil nunggu gas datang lagi,” ujarnya.

Dibandingkan Hamdiah dan Aldi, Hanny lumayan beruntung lantaran rumah tempatnya berdagang bersebelahan dengan pangkalan gas melon. Sehingga selalu kebagian kalau stok gas LPG datang.

Sedangkan Hamdiah, harus menyeberang dulu untuk bisa mendapatkan gas melon yang diperuntukkan bagi warga miskin tersebut.(Zak/KPO-1)

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
loading...

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya