Pariwisata dalam Cengkeraman Kapitalisme-Liberal

Oleh: Aghnia Yanisari
Aktivis Muslimah Banjarmasin

Memasuki 2021, Pemerintah merencanakan akan meningkatkan kualitas dan kuantitas pariwisata, dengan target 7 juta wisatawan mancangeara (kemenparekraf.go.id/05/01/2021). Seperti yang kita ketahui, Indonesia memiliki berbagai macam destinasi wisata, dari wisata air hingga destinasi religi. Kali ini Pemerintah menginginkan bekerjasama dengan berbagai sektor, seperti Kemenpora, Kemenag, hingga Kadispersip, untuk membantu penyelenggaraan pariwisata. Sandiaga Uno, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menuturkan bahwa Ma’ruf ingin agar pembangunan pariwisata dan ekonomi kreatif melibatkan pesantren. Beberapa upaya yang bisa dilakukan lewat lembaga keuangan syariah, yakni Baitul Mal Wat Tamwil (BMT). Menurut Sandi, pihaknya diminta untuk memperluas desa wisata dan mengembangkan produk ekonomi kreatif lewat BMT. Harapannya, perluasan itu dapat menggerakkan ekonomi dan membuka lapangan pekerjaan lebih banyak. (CNN/05/01/2021).

Sektor pariwisata telah menyumbangakan devisa yang cukup besar, target pemasukan jasa turisme terbilang tinggi. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Indroyono Soesilo menghitung, jika pemasukan wisatawan mancanegara (wisman) dengan penghitungan satu wisman akan menghabiskan 1200 dolar, maka akan didapat minimal 540 juta dolar per tahun. Bahkan, devisa dari sektor pariwisata pada 2019 sudah mengalahkan pemasukan devisa dari industri kelapa sawit (CPO) (Liputan6.com/13/02/2019). Kini, pemerintah terus menggenjot sektor pariwisata, karena selain menjadi sektor penyumbang devisa negara, pariwisata pun dianggap mampu bersentuhan langsung dengan masyarakat setempat. Sehingga diharapkan akan langsung menggerakan perekonomian rakyat.

Alih-alih menyelamatkan ekonomi rakyat, adanya arena pariwisata ini justru semakin menggerus pebisnis lokal. Para pebisnis kakap dengan modal yang besar telah melibas pebisnis lokal di daerah sekitaran pariwisata. Dengan kemampuan ilmu bisnis dan modal yang tipis, mereka terhempas dari persaingan. Mereka harus puas dengan hanya menjadi penjual asongan dan pegawai yang gajinya tak seberapa. Tuan tanah pun harus rela kehilangan tanahnya dengan harga yang tak pantas. Inikah yang namanya untuk rakyat? Menjadikan sektor pariwisata sebagai sumber pemasukan ekonomi sebenarnya sangat naif dilakukan oleh pemerintah Indonesia. Hal ini karena Indonesia adalah negara yang kaya sumber daya alam. Namun sungguh sayang, semua hasil penambangan tak masuk kas negara. Semisal jika kita berbicara eksploitasi tambang batu bara di Kalimantan, tambang nikel di Sulawesi, tambang geothermal/panas bumi di Jawa Barat, dan tambang minyak bumi di banyak tempat yang malah dikuasai oleh Shell dan Chevron. Lima tambang besar yang disebutkan, kesemuanya dikuasai perusahaan asing. Tak berlebihan jika banyak pengamat mengatakan “Buang gepokan, cari recehan”.

Tak dipungkiri, pengelolaan negara memang tak lepas dari ideologi kapitalisme yang selama ini bercokol di seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia. Kapitalisme yang lebih memilih mengahalalkan segala cara, tak peduli telah berbuat kerusakan ataupun tidak, rakus ataupun tidak, yang penting bisa meraup untung sebeaar-besarnya. Dan yang memiliki materi paling banyak maka dialah yang bisa memegang kendali, termasuk mengendalikan pemerintah. Dengan dalih mengundang para wisatawan, kebudayaan yang mengandung sirik pun sah-sah saja dilestarikan. Lebih dalam, bukan hanya perkara akidah yang merongrong identitas keIslaman masyarakat Indonesia, liberalisasi pun kian menjamur, menjangkiti warga sekitar.

Berita Lainnya

Di Balik Surplus BPJS

1 dari 214

Jika ideologi kapitalisme ini terus dibiarkan bercokol, maka kita akan dapati kerusakan demi kerusakan tiada henti, kebebasan atau liberalisme juga tak akan pernah lepas dari ideologi ini. Karena kapitalisme memiliki asas yang salah, dan haram untuk diterapkan. Karena menafikan keberadaan Allah sang Mudabbir di dalam aspek kehidupan. Allah hanya dibutuhkan untuk urusan pribadi saja, seperti sholat. Puasa, dll. Sedangkan untuk mengatur seluruh aspek kehidupan, memakai aturan buatan manusia, seperti ekonomi, sosial, politik, aturan Allah ditiadakan. Padahal Allah yang paling tahu segalanya, baik dan buruknya untuk manusia. Oleh karena itu, kapitalisme harus dilenyapkan, dan diganti dengan ideologi yang benar, yakni hanya berasal dari Allah, yaitu Islam.

Allah maha pencipta, maha pengatur, menurunkan Islam sebagai solusi atas kehidupan manusia. Islam tak hanya sekedar agama, namun ia juga ideologi, karena memiliki seperangkat aturan untuk mengatur manusia. Sesuai dengan pengertian idelogi itu sendiri, yakni aqidah aqliah (ide dasar rasional) yang melahirkan aturan. Atau bisa juga disebut dengan pandangan hidup yang menjadi landasan dalam bersikap dan bertingkah laku. Islam adalah satu-satunya Ideologi shahih yang diciptakan oleh Allah. Sebagai manusia sudah sepatutnya kita memakai ideologi yang hanya berasal dari Allah.

Manusia memiliki kelemahan, keterbatasan, dan ketergantungan. Lemah dari pengetahuan yang akan menimpa dirinya di masa depan, terbatas umur, fisik dan akalnya, selalu membutuhkan yang lain. Maka dari sini, tak heran Allah ciptakan aturan untuk manusia agar bisa menjalani kehidupan dengan selamat. Menerapkan ideologi islam dalam kehidupan juga merupakan konsekuensi keimanan. Jika kita mengaku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, maka wajib hanya memakai hukum-hukum Allah. Seperti yang tertera pada QS. An-Nisa : 65

Berbeda 180 derajat dengan Islam. Islam memosisikan pariwisata sebagai sarana dakwah, bukan sumber devisa negara. Keindahan alam yang dijadikan tempat pariwisata seperti pantai, pegunungan, air terjun, dan yang lainnya, akan dijadikan sarana dalam menyebarkan Islam. Bagi wisatawan muslim, setelah mereka disuguhkan keelokan seluruh ciptaan Allah Swt, akan semakin kokoh keimanannya. Adapun peninggalan budaya selain Islam. Jika bentuknya peribadatan dan masih dipakai, akan dibiarkan. Karena Islam melarang menghancurkan tempat peribadatan, inilah toleransi dalam Islam. Namun, haram hukumnya untuk kaum muslim berwisata ke sana, karena Allah Swt. telah melarang umat muslim memasuki tempat peribadatan umat lainnya. Islam memiliki sumber pendapatan yang banyak, dan memiliki peluang besar. Terdapat pos pemasukan negara, pos kepemilikan umum, dan pos zakat. Sehingga Islam tak perlu memberdayakan pariwisata yang peluangnya sangat kecil.

Begitu sempurnanya Islam dalam mengatur semua aspek kehidupan. Perlu dipahami bersama, bahwa Islam tak bisa hanya diterapkan sebagian, seperti negara kapitalis hari ini yang hanya mengambil ajaran Islam secara parsial, apalagi hanya mencari yang bisa membawa keuntungan materi. Islam harus diterapkan secara menyeluruh, karena ini merupakan seruan Allah untum kita, seperti yang tertera dalam Q.S Al-Baqarah: 208. Seluruh hukum Islam hanya bisa diterapkan jika ada negara yang mengembannya, dan dilalui dengan metode mewujudkan, sesuai yang diajarkan oleh Rasul, yakni dakwah. Dakwah dengan tiga tahapan (pembinaan, interaksi dengan umat, dan penerapan hukum syariat oleh negara). Dakwah, selain wajib dan konsekuensi keimanan, dakwah juga aktivitas mulia para anbiya dan aulia.

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
loading...

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya