Indonesia Merdeka, Tumbuh dan Tangguh Hanya dengan Islam

Oleh : Mariana, S.Pd
Guru MI Al Mujahidin II Banjarmasin

Saat ini kita memperingati 76 tahun sudah Indonesia merdeka dan sudah selama itu tidak ada lagi peperangan secara fisik, seruan peringatan detik proklamasi kemerdekaan dan slogan HUT RI ke 76 Indonesia tangguh dan tumbuh tak memiliki makna tanpa ada perubahan sistem.

Situasi hari ini semestinya cukup untuk membuat berpikir ulang tentang makna kemerdekaan. Sudahkah benar-benar merdeka, hingga dari tahun ke tahun layak memperingati hari kemerdekaan. Adapun tema yang diangkat dalam hari kemerdekaan tahun 2021 ialah “Indonesia Tangguh, Indonesia Tumbuh”.

Ada beberpa indikator mengapa Indonesia belum merdeka secara hakiki. Pertama, secara ideologi, Indonesia masih terbelenggu ideologi kapitalisme, baik secara politik maupun ekonomi.

Dari aspek politik, hal ini bisa melihat dari perjalanan politik pemerintahan yang berkuasa saat ini. Kebijakan yang ditetapkan masih berkiblat pada kepentingan kapitalis-korporasi-oligarki. Produk hukum yang dihasilkan pun juga berwajah kapitalis. Contoh paling nyata adalah UU Omnibus Law Cipta Kerja, UU Minerba dan lainnya.

Dari aspek ekonomi sudah sangat jelas. Liberalisasi dan kapitalisasi ekonomi sangat kentara. Dampaknya pun bisa dirasakan masyarakat secara umum dan rakyat jelata khususnya. Kemiskinan dan kesejahteraan masih menjadi isu yang tidak pernah terselesaikan secara tuntas. Derasnya TKA, banjirnya proyek infrastruktur dan investasi asing, dan kebijakan impor pangan adalah salah satu efek penerapan ekonomi kapitalisme neoliberal.

Secara politik, faktanya kita belum punya kemandirian. Sistem demokrasi yang diagungkan justru menjadi jalan para pemilik modal mengangkangi kekuasaan. Wajar jika kebijakan dan undang-undang yang dilahirkan makin jauh dari spirit menyejahterakan rakyat. Negara malah makin akomodatif dengan kepentingan korporasi lokal dan internasional.

Disahkannya UU Cipta Kerja adalah contoh nyata adanya hegemoni korporatokrasi di Indonesia. Karena undang-undang ini nyata-nyata pro pemilik modal dan mengandung spirit Indonesia obral.

Wajar jika dikatakan, lndonesia memang sudah merdeka dari penjajah Belanda, tapi kemudian masuk dalam cengkeraman Amerika dan Cina. Beda tuan, beda gaya penjajahan.

Situasi itu tentu berdampak besar di bidang yang lainnya. Di bidang ekonomi, dari masa ke masa Indonesia makin tak berdaya menghadapi rezim liberalisasi pasar dan investasi asing.

Wajar pula jika akhirnya negeri yang sejatinya super kaya ini tenggelam dalam kubangan utang riba. Dan konsekuensinya, kekayaan dan kedaulatan negara tergadaikan juga.

Ironisnya, penguasa selalu berdalih, semua masih dalam kontrol mereka. Lalu menutupi kelemahannya dengan bermain angka-angka.

Kedua, kita masih dijajah budaya dan moral produk pemikiran asing seperti sekularisme, liberalisme, hedonisme, dan budaya permisif yang kian menggerus jati diri bangsa. Utamanya anak negeri. Yang paling merasakan dampaknya adalah sistem pendidikan dan anak didik kita.

Menurut Komnas Perlindungan Anak (KPAI) dan Kementerian Kesehatan hasil survei pada 2019 menunjukkan bahwa 62,7 persen remaja Indonesia pernah melakukan hubungan seks bebas atau seks pranikah. Ini baru satu data. Belum kasus kekerasan seksual yang menimpa anak-anak dan kasus sejenis lainnya.

Ketiga, Indonesia masih dijajah utang yang menggunung. Utang inilah yang menyebabkan Indonesia terjajah negara lain. Belum mandiri dan berdikari. Kementerian Keuangan mencatat posisi utang pemerintah sampai akhir Juni 2021 sebesar Rp6.554,56 triliun. Angka tersebut 41,35 persen dari rasio utang pemerintah terhadap PDB. Adapun komposisi utang tersebut terdiri dari pinjaman sebesar Rp842,76 triliun (12,86 persen) dan SBN sebesar Rp5.711,79 triliun (87,14 persen). (Merdekacom, 24/7/2021)

Ketergantungan Indonesia pada utang luar negeri mengindikasikan bahwa negeri ini masih terjajah. Jeratan utang memiliki risiko dan konsekuensi besar. Yakni mempertaruhkan harta kekayaan negara seperti SDA dan infrastruktur strategis untuk diperjualbelikan kepada investor dan negara kreditur.

Dari tiga faktor ini saja sudah menjelaskan fakta yang sangat gamblang mengapa Indonesia belum merdeka.

Ekonomi diklaim terus bertumbuh hingga 7 persen lebih pula. Padahal faktanya kehidupan rakyat makin susah, dan kemiskinan pun makin merata. Situasi pandemi benar-benar telah membuka kebobrokan sistem yang ada.

Berita Lainnya
1 dari 327

Tampak bahwa bagi penguasa, nyawa rakyat seakan tak lebih penting dari angka pertumbuhan ekonomi yang hanya rata-rata. Maka saat semestinya mengambil langkah-langkah pencegahan, mereka justru sibuk melakukan penyangkalan. Saat semestinya menutup pintu-pintu wilayahnya, mereka malah sibuk melakukan upacara selamat datang.

Bahkan di tengah krisis yang melanda keuangan negara, puluhan triliun dikucurkan demi membayar influencer yang bertugas mempromosikan Indonesia. Alasannya, pariwisata dan investasi harus digenjot demi menyelamatkan ekonomi yang sedang kolaps.

Sungguh pandemi ini telah menampakkan wajah buruk penguasa beserta sistem yang diterapkannya. Penguasa tampak telah gagal dalam membaca akar persoalan, serta gagap dalam mengatasinya karena sistem buruk yang diterapkan.

Di saat yang sama, negara pun tega memeras rakyat dengan pajak aturan jaminan sosial yang aneka rupa. Padahal biaya hidup yang ditanggung benar-benar sudah di luar batas kemampuan mereka.

Wajar jika bagi rakyat, negara antara ada dan tiada. Hingga stres sosial pun merebak di mana-mana. Bahkan peran negara pun seakan diambil alih oleh situs kitabisa. Memang tak ada lagi yang bisa diharap dari negara. Apalagi faktanya rezim penguasa malah sibuk mempertahankan kekuasaan. Terutama di saat-saat menjelang pesta perjudian lima tahunan.

Suara-suara berseberangan pun dengan berbagai cara terus dibungkam. Sementara pemikiran-pemikiran yang menjauhkan umat dari spirit kebangkitan juga terus diaruskan.

Maka tak heran jika proyek-proyek kontra radikalisme dan moderasi Islam justru mendapat perhatian besar. Menyaingi perhatian mereka atas penanganan pandemi yang sudah memakan korban jutaan nyawa.

Rupa-rupanya mereka sedang berada di sisi kekuatan kapitalisme global. Yang berkepentingan memastikan sistem sekuler demokrasi penegaknya tetap dalam posisi aman. Sementara sistem yang benar-benar akan menyelamatkan harus dicegah penegakannya.

Waktu 76 tahun lebih dari cukup untuk belajar. Bahwa sistem buatan akal pikir manusia tak kan pernah mampu mengantarkan pada kebaikan. Alih-alih menyejahterakan, malah menjerumuskan manusia pada kebinasaan.

Maka, masyarakat tak boleh bodoh dalam mempertahankan sistem sekuler demokrasi yang rusak dan merusak. Karena bahayanya terang benderang dan dengan mudah bisa mereka rasakan.

Sudah saatnya pula bangsa ini keluar dari kotak kejumudan yang dipertahankan para penjajah melalui sistem pendidikan. Mereka harus segera kembali ke pangkuan Islam. Agar kemerdekaan hakiki yang diinginkan akan benar-benar diwujudkan.

Umat dan bangsa manapun pasti memimpikan kehidupan yang “terang-benderang”. Untuk itulah, umat dan bangsa di berbagai belahan dunia bangkit memperjuangkan kemerdekaan mereka dari penjajah.

Namun demikian, bukan berarti setelah merdeka dari penjajahan fisik, lantas kemerdekaan hakiki bisa serta merta diwujudkan. Banyak bangsa yang sudah merdeka, tetapi sejatinya belum lepas dari penjajahan.

Dalam pandangan Islam, kemerdekaan hakiki terwujud saat manusia terbebas dari segala bentuk penghambaan dan perbudakan oleh sesama manusia. Dengan kata lain Islam menghendaki agar manusia benar-benar merdeka dari segala bentuk penjajahan, eksploitasi, penindasan, kezaliman, perbudakan dan penghambaan oleh manusia lainnya.

Bersama kapitalisme, Indonesia jadi sasaran penjajahan negara kapitalistik. Bersama sekularisme, SDM unggul tengah diuji dalam bayang-bayang kerusakan generasi yang kian mengkhawatirkan. Bersama liberalisme, Indonesia kehilangan jati dirinya sebagai negara berpenduduk mayoritas muslim terbesar di dunia.

Memaknai kemerdekaan janganlah sebatas seremonial tahunan. Mari maknai kemerdekaan dengan perubahan mendasar. Perubahan yang mengubah wajah sistem hari ini, yaitu kapitalisme, ke arah perubahan hakiki. Perubahan mendasar dengan sistem sahih, syariat Islam secara kafah.

Merdeka yang sebenarnya adalah hijrah dari penghambaan kepada manusia menuju penghambaan kepada Allah Swt. saja. Kemerdekaan yang sempurna itu hanya bersumber dari penghambaan yang benar kepada Allah Yang Maha Esa. Menghamba hanya kepada Allah bermakna ketaatan dan ketundukan total kepada hukum Allah di segala aspek kehidupan.

Dengan penerapan Islam secara kafah, Indonesia bisa merdeka dari penjajahan kapitalisme. Dengan pelaksanaan syariat Islam dalam bernegara, Indonesia bisa menjadi negara tangguh yang memiliki bargaining position di kancah dunia.

Saatnya Indonesia berubah dengan sistem yang lebih baik lagi dengan penerapan Islam dalam kehidupan karena sudah terbukti dan dengan Islam Indonesia dan negeri-negeri muslim bisa tumbuh sebagai Negara super powers sebagaimana sejarahnya dulu. Waallahu ‘alam bishowab

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. TerimaSelengkapnya