Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
OPINI PUBLIK

Rudapaksa Oknum Polisi, Akankah Keadilan Ditegakkan?

×

Rudapaksa Oknum Polisi, Akankah Keadilan Ditegakkan?

Sebarkan artikel ini

Oleh : RabiAtul
Ibu Rumah Tangga di Batola
   
Kasus kekerasan dan pelecehan seksual terhadap perempuan hampir tidak pernah absen dalam lintasan peristiwa. Seperti yang baru ini dialami oleh Mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin berinisial VDPS dirudapaksa oleh oknum polisi narkoba, Bripka Bayu Tamtomo pada Rabu (18/8/2021) malam.

Saat kejadian, korban diperkosa dalam keadaan tidak sadarkan diri di sebuah hotel setelah dicekoki minuman tertentu. Sebelumnya pelaku dan korban saling kenal. Karena korban merupakan mahasiswi magang di satuan Narkoba tempat Bripka Bayu bertugas. Kesempatan ini disalahgunakan oleh pelaku hingga berakhir perlakuan keji itu.

Vonis yang diputuskan oleh pengadilan hanya 2 tahun 6 bulan penjara pun sangat disesalkan oleh korban dan menuai protes dari ratusan mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat.

Pantauan deticom, Kamis (27/1/2022), ratusan mahasiswa menggelar aksi didepan kantor Kejati Kalsel, Jalan DI Pandjaitan, Kecamatan Banjarmasin Tengah, Kota Banjarmasin Kalsel. Unjuk rasa berlangsung cukup lama di lokasi dan sempat diwarnai aksi teatrikal mahasiswa. “Kami ingin mempertanyakan kenapa JPU menuntut ringan terdakwa hanya 3,5 tahun penjara dan akhirnya putusan pengadilan 2 tahun 6 bulan saja. Karena itu, mereka harus menjawab dengan jujur”. Protes Ketua BEM Fakultas Hukum ULM, Andika, dilokasi.

Sulit Mendapatkan Keadilan

Pembaca yang budiman, kasus rudapaksa ini kerap terjadi, namun korban sulit mendapatkan keadilan. Hal ini semakin menegaskan bahwa hukum yang ada tidak mampu memberikan efek jera dan tidak mampu mencegah lahirnya para pelaku kekerasan seksual. Ketidakadilan ini disebabkan karena hukum yang digunakan untuk mengatur manusia adalah Sistem kapitalis sekuler yang bersumber dari hawa nafsu manusia. Dan dari sistem ini pula lahir manusia manusia penghamba syahwat yang tidak takut pada Allah SWT.

Baca Juga:  KH Idham Chalid : Sosok Santri asal Kalsel yang Mendunia

Para penghamba syahwat ini, hidup di dalam peradaban yang memanjakan pemenuhan naluri seksual dengan menciptakan berbagai jenis rangsangan dari berbagai penjuru. Seperti sinetron-sinetron percintaan, iklan yang menampilkan keindahan bagian tubuh wanita, konten porno yang mudah di akses kapan saja dan dimana saja, kebolehan kaum perempuan membuka auratnya dan berdandan secara berlebihan atas nama kesetaraan dan HAM dan lain sebagainya. Akibatnya, mereka mendominasi otaknya dengan imajinasi seksual semata. Desakan pelampiasan syahwat yang tak terbendung, membuatnya kehilangan akal sehat. Masyarakat yang harusnya dilindungi justru dijadikan mangsa.

Di peradaban ini, tingkat ketakwaan manusia tidak ada yang menjaga. Masyarakat tidak terbiasa hidup dalam suasana keimanan_(mengaitkan setiap aktifitas dengan hukum Allah). Aktifitas amar makruf nahi munkar juga hanya bisa dilakukan sebagian kecil masyarakat. Tidak menjadi bagian dari budaya masyarakat. Perilaku kejahatan kian hari kian meningkat, ditambah lagi tumpulnya keadilan, dikarenakan tidak diterapkannya hukum Islam, lantas bagaimanakah keadilan bisa tegak?

Tegaknya Keadilan

Kita mengharapkan hukuman yang setimpal untuk kasus yang menimpa VDPS dan berbagai jenis kejahatan asusila. Kita juga berharap kejadian seperti ini tidak ada lagi. Berhenti dan jangan terulang lagi. Untuk itu kita membutuhkan pelindung yang mampu memberikan penjagaan terbaik bagi umat termasuk kaum perempuan. Penjagaan terbaik tentu sistem yang bersumber dari Dzat yang Mahatahu, yaitu Allah SWT. Penanganan yang sungguh-sungguh atas kasus kasus KTP memerlukan sistem pemerintahan yang menjamin perwujudan perlindungan terhadap perempuan. Sesungguhnya yang memahami potensi dan karakter manusia itu adalah Pencipta-Nya sendiri. Dzat Yang Mahatahu ini telah menciptakan naluri seksual pada laki-laki dan perempuan sekaligus menurunkan syariah untuk mengaturnya. Penerapan sistem Islam secara kaffah(menyeluruh)akan melahirkan peradaban Islam yang bernuansa keimanan. Sistem ini melindungi akidah umat dari kerusakan, hingga mereka memiliki rasa takut yang tinggi kepada Allah SWT. Umat lebih tunduk kepada Allah daripada tu
nduk kepada hawa nafsu. Sistem ini menegakkan amar ma’ruf nahi munkar, sehingga mengerem laju kejahatan. Sistem ini juga menghancurkan rangsangan rangsangan diruang publik, seperti mengawasi pemilik media massa untuk tidak menyebarkan konten porno dan akan menindak tegas jika melanggar dengan mencabut izin pendiriannya, melarang segala bentuk aktifitas yang mengeksploitasi keindahan tubuh perempuan, memerintahkan kepada para laki-laki dan perempuan untuk menundukkan pandangan dan menjaga kemaluannya. Pasalnya, semua bermula dari pandangan yang tidak dijaga, yang akan menjerumuskan pada keharaman.

Baca Juga:  Bagaimana Cara Menetapkan 1 Syawal?

Kemudian, memerintahkan muslimah untuk menutup aurat dengan mengenakan jilbab dan khimar (QS. An-Nur : 31 dan Al-Ahzab : 59). Dengan pakaian seperti ini, para perempuan muslim mulia dan terhindar dari pandangan hina dan eksploitasi tubuh perempuan. 

Sistem sanksi juga ditegakkan sebagai zawajir(pencegah) agar kejahatan tidak merajalela, seperti rajam bagi pelaku zina yang pernah menikah,dan cambuk seratus kali jika belum pernah menikah. Ketakwaan aparatur negara menjamin kepastian penegakan hukum. Pasalnya, posisi hukkam (penguasa), Qadhi (hakim) ataupun polisi diadakan demi menjamin ketaatan pada Allah. Bukan demi mengamankan kedudukan penguasa atau pihak tertentu. Ini sebagaimana sistem demokrasi yang membuat kasus kekerasan seksual tidak selalu sampai keranah hukum, namun diselesaikan secara kekeluargaan.

Jaminan Islam

Sungguh, kita merindukan peradaban yang sehat dan bersih dari maraknya kejahatan kejahatan, khususnya kejahatan asusila. Peradaban Islam yang pernah berabad-abad eksis dimuka bumi dan terbukti menyelamatkan manusia dari cengkeraman syahwat. Yang melindungi rakyatnya tanpa pandang bulu, suku, agama dan ras. Semoga peradaban ini tidak lama lagi akan tegak di muka bumi. Wallahu A’lam

Iklan
Iklan