Oleh : Jamilatul Husna Tiara Adha
Mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional, FISIP Universitas Muhammadiyah Malang
Seperti yang diketahui sedang terjadi invasi yang dilakukan Rusia kepada negara tetangannya, Ukraina. Invasi memberikan dampak ke berbagai sektor, termasuk ekspor Ukraina ke beberapa negara. Salah satunya Indonesia. Indonesia melakukan impor berupa gandum yang berasal dari Ukraina.
Dalam catatan Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia dalam setiap tahun selalu melakukan impor gandum dari Ukraina. Ukraina merupakan negara di urutan kedua dalam hal pengimporan gandum ke Indonesia setelah Australia. Menurut cacatan dari Kemenperin, kebutuhan gandum dalam bidang industri pada 2022 mencapai 11,1 juta ton, yang digunakan untuk bahan baku tepung terigu. Dari total keseluruhan gandum tersebut, sekitar 2,8 juta ton atau 25,2 persen berasal dari Ukraina.
Lalu bagaimana dampak invansi yang terjadi ke Ukraina terhadap impor Ukraina dalam sektor gandum ke Indonesia? Apakah harga gandum akan naik? Apakah beberapa barang yang menggunakan gandum sebagai bahan dasarnya juga akan naik?
Associate researcher Center for Indonesian Policy (CIPS) yakni Krisna Gupta yang dilansir oleh Mediaindonesia.com pada Minggu 27 Februari 2022, memberikan sebuah keterangan, yakni konflik ini akan berpengaruh besar pada harga pangan di Indonesia dan Indonesia harus segera mencari sumber gandum dan pupuk baru secepatnya untuk membatasi kenaikan harga pangan.
Pasokan impor gandum Ukraina ke Indonesia pun menjadi tertahan. Dalam data yang dimiliki oleh APTINDO yakni Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia mencatat bahwa ada 60 kontainer pasokan gandum yang tertahan di Ukraina dan pernyataan ini ditambahkan Direktur Eksekutif Aptindo, Ratna Sari Loppies yang dilansir oleh Katadata.co.id pada Jumat 4 Maret 2022, Beliau mengatakan, satu kontainer sekitar 20 ton, berarti sekitar 1.200 ton yang sedang tertahan di Ukraina.
Kekhawatiran akan kekurangan pemasok gandum ke Indonesia menjadi perhatian dari pemerintah meskipun dalam hal ini ternyata Indonesia masih memiliki pemasok selain Ukraina yakni seperti Kanada, Argentina dan juga negara adidaya yakni Amerika Serikat. Melihat dari masih ada beberapa pemasok impor gandum ke Indonesia dapat dikatakan Indonesia masih berada di zona aman dalam hal ini.
Mengapa dapat dikatakan bahwa Indonesia masih berapa di dalam zona aman dalam masalah ini? Hal ini dikarenakan ada pernyataan dari Ketua umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia atau GAPMMI yakni Adhi S Lukam, potensi kenaikan harga pangan termasuk mie isntan akan lebih kecil bila perang berlangsung singkat. Kemudian Kementerian Perdagangan juga memberitakan pernyataan bahwasanya stok gandum nasional yang dimiliki oleh Indonesia dapat bertahan hingga tiga bulan ke depan, yang artinya stok gandum akan habis pada bulan Juli maupun Agustus. Presiden Jokowi juga mengatakan bahwasanya ada kemungkinan harga roti dan mie yang bahan bakunya berasal dari gandum akan naik.
Kemudian juga dampak dari masalah ini harus terus dipikirkan dan juga tergantung bagaimana pemerintah mengeluarkan kebijakan agar menghindari kelangkaan komoditi terutama di sektor gandum. Pemerintah harus mengeluarkan jalan alternatif lainnya bisa dimulai dari mengganti bahan baku yang berasal dari gandum dengan bahan baku lain maupun melakukan berbagai macam inovasi produk.
Kementerian Perindustrian terus melakukan cara agar Indonesia tidak kekurangan impor gandum. Oleh Karena itu melalui Direktur Jendral Kemenperin, Putu Juli menyampaikan bahwa sejumlah negara pemasok gandum yang SK-nya akan berakhir sedang dalam proses perpanjangan di tahun ini seperti Pakistan, Rumania, Lithuania dan Bulgaria. Hal ini dilakukan agar menjaga pasokan gandum di Indonesia agar stok dan harga tetap terkendali di tengah melonjaknya harga akibat invasi Rusia ke Ukraina.
Orang Inggris sering mengatakan, bahwa “Every cloud has a silver lining”, yang artinya di balik awan mendung sesungguhnya selalu tersimpan cahaya terang. Di balik sebuah kesulitan yang sedang menghadang sejatinya akan selalu ada kemudahan yang akan menghampiri. Peluang, sekecil apa pun, untuk keluar dari setiap kesulitan tetap terbuka. Semoga konflik yang terjadi antara Rusia dan Ukraina cepat berakhir agar pasokan komoditi terutama di sektor gandum dunia tetap aman dan tidak sampai terjadi krisis pangan.













