Oleh : Muhammad Zulfan Reva Maulana
Mahasiswa Program Studi Informatika, Universitas Muhammadiyah Banjarmasin
Kesadaran keamanan data sangat penting di era digital sekarang. Di dunia yang semakin terhubung dan tidak bisa lepas dari internet, disamping dapat memudahkan aktivitas manusia rupanya ada sisi berbahaya dibalik semua itu. Data sering menjadi sasaran serangan dunia maya. Kesadaran keamanan data mengacu pada pemahaman dan tindakan yang diambil untuk melindungi data pribadi dan informasi sensitif dari ancaman keamanan. Ini termasuk tindakan seperti menggunakan kata sandi yang kuat, menghindari mengklik tautan yang mencurigakan, memperbarui perangkat lunak secara teratur, dan menghindari pengungkapan informasi pribadi secara anonim. Jika memahami pentingnya keamanan data, maka dapat terhindar dari penipuan online, kehilangan informasi pribadi, dan menjadi korban pencurian identitas.
Selain itu, dengan meningkatkan kesadaran akan keamanan data, juga dapat berkontribusi terhadap keamanan dan privasi orang lain di sekitar. Dengan menerapkan langkah-langkah keamanan yang sesuai, maka dapat melindungi data pribadi dan informasi sensitif dari ancaman yang terus berkembang. Oleh karena itu, kesadaran keamanan data adalah kunci untuk melindungi diri dan masyarakat pada umumnya di dunia digital.
Salah satu kasus yang menyoroti pentingnya kesadaran keamanan data adalah serangan ransomware pada perusahaan besar. Contohnya yang baru-baru ini viral di media sosial ialah perusahaan yang bergerak di perbankan syariah yang bernama Bank Syariah Indonesia (BSI). BSI diduga mendapat serangan ransomware, perusahaan mengalami serangan yang mengenkripsi semua data penting, termasuk data pelanggan dan informasi keuangan. Para penyerang menuntut uang tebusan yang sangat besar untuk mengembalikan data. Serangan ini menyebabkan kerugian finansial yang signifikan, kerusakan reputasi, dan ketidaknyamanan bagi pelanggan yang mempercayai perusahaan dengan informasi mereka. Keluhan para nasabah membanjir.
Bahkan ada nasabah yang mengaku merugi ratusan juta rupiah. Misalnya, seorang nasabah dari Solo bernama Rochmat Purvanti yang mengaku rugi sebesar Rp378.251.749 dan menyampaikan laporan dan pengaduan ke cabang BSI di Solo. “Uang kita di BSI hilang Rp378.251.749 sehingga menimbulkan kerugian dan pengaduan,” kata Rochmat sembari mengunggah screenshot transaksi debit-kredit dan saldo aktual di aplikasi media sosial twitter pada Sabtu, 13 Mei 2023, yang diunggah di aplikasi BSI Mobile. Tak luput dari bank nasional, bank lokal pun di Kalimantan Selatan pernah mengalami kasus yang sama, yaitu Bank Kalsel.
Pada hari senin (1/8/2022) Bank Kalsel baru menyadari setelah ada laporan dari pegawai bahwa keuangan di rekening mengalami kehilangan, tak lama dari dari laporan pegawai tersebut beberapa masyarakat sebagai nasabah menyadari saat ingin bertransaksi mengalami kehilangan di rekeningnya. Hal ini terlihat ketika dihari itu puluhan ASN menyerbu kantor Bank Kalsel di Jalan Lambung Mangkurat. Meski demikian, Direktur Utama Bank Kalsel, Hanawijaya langsung menyampaikan kepada masyarakat pihaknya akan bertanggung jawab dengan kejadian tersebut dan memang menyadari dari awal, sekarang langsung menutup sistem maknetik stripe di ATM, “Setelah ada laporan dari pegawai kami, bahwa dia kehilangan uangnya di rekening, kami langsung menutup sistem maknetik stripe di ATM kita,” tuturnya, Senin (1/8/2022). Hanawijaya pun memberikan komitmen kepada nasabah yang mengalami kerugian dalam permasalahan kasus ini, “Kita akan mengembalikan 100 persen kepada nasabah yang menjadi korban skimming yang terjadi pada hari ini,” ucapnya.
Kedua kasus di atas menggambarkan pentingnya kesadaran keamanan data dalam dunia bisnis. Jika perusahaan memiliki kesadaran yang kuat akan pentingnya privasi dan mengambil tindakan pengamanan yang sesuai, mungkin serangan ini dapat dicegah atau kerusakan yang ditimbulkan dapat diminimalkan. Kesadaran akan ancaman yang ada dan tindakan pencegahan yang diperlukan dapat memainkan peran penting dalam memastikan keamanan data dan mengurangi risiko serangan berbahaya.
Asal usul keamanan data dapat ditelusuri kembali ke awal pengenalan komputer dan perkembangan teknologi informasi. Data awalnya disimpan secara fisik dalam bentuk dokumen dan file yang dapat dengan mudah disimpan dan dilindungi. Namun, berkat kemajuan teknologi, informasi kini tersimpan dalam bentuk digital dan dapat diakses, dikirim, dan dibagikan dengan mudah. Ini menawarkan kemudahan dan kenyamanan, tetapi juga menimbulkan risiko keamanan yang serius.
Salah satu penyebab utama masalah keamanan data adalah kurangnya kesadaran dan pemahaman akan ancaman yang ada. Banyak orang tidak menyadari betapa berharganya data pribadi mereka dan rentannya data tersebut terhadap serangan cyber. Penggunaan kata sandi yang lemah, ketidakpedulian terhadap pembaruan perangkat lunak, dan ketidaktahuan tentang praktik keamanan online yang baik, semuanya dapat memberikan celah bagi penyerang untuk mencuri atau merusak data.
Selain itu, serangan malware, seperti virus, ransomware, dan phishing, juga merupakan faktor penyebab serius dalam pelanggaran keamanan data. Serangan ini dapat menginfeksi sistem komputer, mencuri informasi pribadi, atau meminta tebusan untuk memulihkan data yang terenkripsi. Para penyerang terus mengembangkan metode baru dan lebih canggih untuk mencuri data kita, sehingga penting untuk tetap waspada dan mengambil langkah-langkah perlindungan yang diperlukan.
Untuk mengatasi masalah ini, langkah-langkah keamanan data yang kuat harus diimplementasikan. Ini termasuk penggunaan kata sandi yang kuat dan unik, menggunakan keamanan multi-faktor, menjaga perangkat lunak dan sistem operasi tetap terkini dengan pembaruan keamanan, menghindari mengklik tautan atau mengunduh lampiran yang mencurigakan, dan menggunakan perangkat lunak keamanan yang dapat mendeteksi dan mencegah serangan malware. Selain itu, kesadaran dan pendidikan yang tepat tentang keamanan data juga sangat penting. Mengajarkan pengguna tentang risiko dan praktik keamanan online yang baik dapat membantu mencegah serangan yang merugikan. Pelatihan keamanan data harus diberikan kepada karyawan perusahaan, pendidikan tentang keamanan online harus diperkenalkan di sekolah-sekolah, dan sumber daya yang berguna tentang keamanan data harus tersedia untuk masyarakat umum.
Selanjutnya, melindungi keamanan data memerlukan kerja sama antara pemerintah, industri, dan pemangku kepentingan lainnya. Hukum dan peraturan yang ketat harus ditegakkan untuk melindungi data pribadi dan menghukum pelanggaran data. Organisasi juga harus berinvestasi dalam infrastruktur keamanan yang kuat dan melakukan audit keamanan rutin untuk mengidentifikasi dan memperbaiki potensi kerentanan.
Secara keseluruhan, keamanan data merupakan tantangan nyata di dunia digital saat ini. Dengan meningkatkan kesadaran, mengambil tindakan pencegahan yang sesuai, dan mempromosikan praktik keamanan yang baik, kami dapat melindungi data kami dan mengurangi risiko pelanggaran data. Keamanan data adalah tanggung jawab bersama baik secara personal/pribadi maupun kelompok/perusahaan dan dengan tindakan yang tepat kita dapat menciptakan lingkungan digital yang lebih aman dan andal.
Pentingnya kesadaran akan keamanan data sangatlah penting di era digital saat ini. Dalam dunia yang semakin terhubung dan tergantung pada teknologi, data pribadi kita menjadi rentan terhadap serangan dan pelanggaran keamanan. Untuk melindungi data kita, kita perlu menyadari betapa berharganya informasi pribadi dan mengambil langkah-langkah keamanan yang tepat, seperti menggunakan kata sandi yang kuat, memperbarui perangkat lunak secara teratur, dan menghindari tindakan online yang berisiko. Kasus serangan ransomware pada perusahaan seperti
Bank Syariah Indonesia (BSI) dan skimming pada Bank Kalsel menjadi bukti nyata akan ancaman yang ada. Dengan meningkatkan kesadaran akan keamanan data, dapat melindungi diri sendiri dan menciptakan lingkungan digital yang lebih aman dan terpercaya.










