Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Tantangan Kualitas Beragama

×

Tantangan Kualitas Beragama

Sebarkan artikel ini

Oleh : Ahmad Barjie B
Komisi Informasi dan Komunikasi MUI Kalsel

Umat Islam sudah memasuki tahun 1445 H. Pergantian tahun menurut hitungan Masehi maupun Hijriah seyogyanya ditandai perubahan hidup ke arah lebih baik. Dalilnya, siapa yang harini lebih baik daripada hari kemaren dialah orang yang beruntung, siapa yang harini sama saja dengan kemaren dialah orang yang rugi, dan siapa yang harini lebih jelek daripada kemaren dialah orang yang terlaknat.

Kalimantan Post

Baik di sini ukurannya agama, artinya keberagamaan hendaknya lebih meningkat. Kualitas beragama ditandai pemahaman dan pengamalan agama. Rasulullah saw bersabda: Siapa yang dikehendaki Allah beroleh kebaikan, maka dipandaikanNya dalam agama.

Nabi Muhammad contoh tokoh paling ideal yang mampu membawa umatnya menuju perubahan yang lebih baik. Kurang dari 23 tahun beliau melakukan perubahan besar peradaban dunia dari alam gelap kepada alam terang (min al-zulumat ila al-nur). Wajar Michael H Hart menempatkannya sebagai tokoh nomor satu paling berpengaruh dan membawa banyak perubahan di dunia.

Perubahan di era kemudian tentu tidak bisa lagi disamakan jeda waktunya dengan reputasi Rasulullah. Pembebasan Konstantinopel oleh Sultan Turki Usmani Mohammad al-Fatih (1453 M) memerlukan waktu enam abad setelah Rasulullah meramalkannya. Bangsa Indonesia merdeka pun butuh perjuangan ratusan tahun lamanya.

Perubahan tidak bisa diukur dalam waktu yang singkat, apalagi perubahan kualitas beragama umat Islam yang ukuran dan masalahnya kompleks. Diperlukan waktu ratusan tahun untuk bisa mengukur, apakah kualitas beragama meningkat, jalan di tempat atau bahkan menurun.

Masih Sinkretis

Kualitas beragama kita harini penting untuk dibanding dengan lebih 100 tahun lalu. Seorang peneliti dan pegawai Belanda, Poensen, pada 1883 menulis tentang kualitas beragama muslim Hindia-Belanda (Indonesia) saat itu. Mulanya penguasa Belanda khawatir melihat kenyataan mayoritas rakyat di tanah jajahan beragama Islam. Tetapi menurut Poensen, Belanda tidak perlu takut berlebihan, meski mayoritas namun kualitasnya rendah, karena umumnya belum berpikir dan bersikap sesuai ajaran Islam. Yang mereka ketahui tentang Islam tidak lebih daripada sunatan, puasa, daging babi haram dimakan, hari raya, perayaan maulid dan beberapa ritual lainnya. Hanya segelintir umat Islam saat itu yang memiliki kualitas beragama baik, yaitu para haji dan orang-orang putihan, yang berguru pada ulama dan pondok pesantren.

Tak hanya itu, banyak yang masih terpengaruh oleh ajaran animisme dan agama-agama sebelumnya. Hingga Clifford Geertz mengekspos hasil penelitiannya dalam The Religion of Java (1960), mereka yang beragama secara sinkretis atau diistilahkan Islam Abangan masih dominan.

Baca Juga :  Kecanduan Judol, Anak Bunuh Ibu Kandung: Bagaimana Islam Menyelesaikannya?

Pandangan terhadap rendahnya kualitas beragama orang Indonesia dianut pula oleh Thomas Stanford Raffles ketika menjadi Gubernur Jenderal Inggris (1811-1816). Melalui bukunya The History of Java, Raffles mengatakan, hanya segelintir umat Islam Indonesia yang kualitas beragamanya baik dan tinggi, yaitu kaum padri (ulama dan santri). Sebagian diantaranya pernah berhaji atau menuntut ilmu agama di tanah suci dan sekembalinya ke tanah air bersama sultan-sultan Nusantara gigih mengobarkan perang suci terhadap penjajah.

Penjajah Belanda ketika itu memandang, orang Islam yang kualitas beragamanya tinggi adalah mereka yang rajin salat. Namun mereka dimusuhi karena berani menentang penjajah. Itu sebabnya orang yang rajin salat berjamaah di masjid dicap sebagai golongan fanatik yang berbahaya bagi kelangsungan penjajahan. Gerakan baratib baramal yang sangat ditakuti dalam Perang Banjar-Barito (1859-1906), juga rajin beribadah dan berzikir di masjid.

Belanda juga mencurigai para haji, karena banyak yang terpengaruh semangat Pan Islamisme, kesatuan Islam, yang berpotensi menentang penjajah. Baru kemudian, atas saran Snouck C Hurgronje (1889-1906), orang yang rajin salat dan berhaji tak perlu dicurigai, sepanjang hanya kuat di segi akidah dan ibadah saja. Mereka baru diatasi secara kekerasan kalau mengarah kepada Islam politik, menuju Indonesia merdeka.

Belanda dan Inggris yang di negara asalnya menganut filsafat Rasionalisme buah era Renesans, sebenarnya memahami umat Islam yang agamanya baik, karena sejalan dengan Rasionalisme. Namun karena kepentingan politik untuk menjajah, memecah belah dan memusuhi Islam ideologis, mereka memihak kalangan sinkretis, karena baik bangsawan maupun rakyat awamnya mudah diajak bekerja sama untuk melawan ulama dan santri serta kesultanan yang memberontak. Itu sebabnya di masa penjajahan, lembaga-lembaga pendidikan Islam (pondok pesantren dan madrasah), selain tidak dibantu biayanya juga selalu dicurigai dan dimusuhi. Belanda takut semakin orang Indonesia paham agama, kelangsungan penjajahan akan terancam.

Tantangan Kontemporer

Kita sudah lama merdeka, hingga 2023 ini sudah 78 tahun. Penjajah angkat kaki karena kewalahan menghadapi perlawanan rakyat. Kehidupan beragama saat ini banyak mengalami kemajuan. Orang yang taat beragama semakin banyak, dari kalangan awam, menengah hingga terpelajar. Namun kualitas beragama kita belum totalitas. Yang menonjol baru haji yang selalu melebihi kuota, sementara Islam politik dan ekonomi lemah dan lesu darah.

Baca Juga :  Anomali Judol, Hingga Memutilasi

Masih ingatkan, bahwa awal abad XV H (1400 H) dicanangkan sebagai Abad Kebangkitan Islam (Islamic Revival Century). Namun setelah 45 tahun berlalu, tetap saja umat Islam dunia terpuruk, padahal secara kuantitas penganutnya lebih satu miliar. Itu karena umat Islam tidak mau bersatu, masih terjadi banyak konflik dan perang saudara. Sementara kunci kekuatan politik dan ekonomi dunia tidak di tangan umat Islam.

Sinkretisme yang dulu didukung penjajah masih sulit dihilangkan. Banyak orang beragama bernuansa klenik, tidak menurut Alquran, hadis dan pendapat ulama yang kompeten. Banyak pula yang bergabung dalam suatu kelompok dengan keyakinan dan amalan kontroversial, yang konon memiliki kekuatan gaib, bisa menggandakan uang dsb. Hal begini selain membingungkan, juga bisa merugikan dan membahayakan pengikutnya.

Fenomena Gafatar, Padepokan Gatot Brajamusti, Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi, dan masih banyak kelompok serupa yang pernah mengemuka, mengindikasikan banyak orang kehilangan orientasi beragama. Mereka berusaha meningkatkan kualitas beragamanya, namun termasuki kelompok dan aliran yang berpotensi keliru karena memiliki keyakinan irasional. Sayangnya banyak pengikut yang merasa tenang dan yakin akan kebenaran kelompok dan kehebatan gurunya.

Sudah waktunya ulama, kyai, ustadz dan cendekiawan yang ilmunya dapat dipertanggungjawabkan, turun gunung mengayomi umat. Dakwah bergaya elit yang cenderung mengejar popularitas dan bayaran, sehingga yang didekati hanya penguasa dan pengusaha, terpusat di masjid/mushalla, atau berdakwah menunggu diundang, saatnya dirubah menjadi dakwah proaktif dan membumi. Diminta atau tidak, dakwah harus terus berjalan dengan konsisten, optimal dan ikhlas. Begitulah ulama terdahulu memberikan keteladanan.

Jangan sampai orang-orang yang ingin mengubah kualitas beragamanya menjadi lebih baik, justru masuk ke jalan yang salah. Masalah begini tidak akan selesai didekati secara hukum, tapi butuh perhatian dan peran optimal ulama dan pemimpin informal lainnya.

Tantangan lainnya, perpecahan umat akibat politik kepentingan berjangka pendek semakin meruyak. Nash-nash agama seolah dijadikan amunisi untuk membela dan/atau menyerang pihak lain. Ulama dan cendekiawan perlu menjalin soliditas dan menyatukan persepsi agar umat tidak bingung. Umat ini tidak akan bangkit dan kuat kalau masih dirundung perpecahan. Wallahu A’lam.

Iklan
Iklan