Iklan
Iklan
Iklan
OPINI PUBLIK

Kiprah PNM Menjaga Denyut Usaha Ultra Mikro Tanah Air

×

Kiprah PNM Menjaga Denyut Usaha Ultra Mikro Tanah Air

Sebarkan artikel ini

Oleh : Putu Indah Savitri
Pemerhati Ekonomi

Tidak semua orang memiliki dana yang melimpah untuk memulai usaha. Tidak semua orang juga memiliki jaring pengaman (safety net) sehingga ketika memulai usaha dan terjatuh bisa bangkit kembali.

Untuk itu, pemerintah mendirikan PT Permodalan Nasional Madani atau PNM. Badan usaha ini hadir diharapkan dapat menjadi solusi peningkatan kesejahteraan melalui akses permodalan, pendampingan dan program peningkatan kapasitas para pelaku usaha.

PNM didirikan berdasarkan Peraturan Pemerintah RI No.38/1999 tanggal 29 Mei 1999, dengan modal dasar Rp9,2 triliun dan modal disetor Rp3,8 triliun. PNM menjadi salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Koordinator untuk menyalurkan dan mengelola sejumlah skim kredit program.

“Kami hadir di situ, supaya mereka tetap bisa berusaha, sehingga pada waktunya juga bisa menyelesaikan kewajiban mereka ke lembaga keuangan lain, bisa menghapus catatan merah mereka. Itu harapan kami,” demikian Direktur Utama PT Permodalan Nasional Madani (PNM), Arief Mulyadi.

PNM hadir di antara para pengusaha ultra mikro, khususnya para ibu rumah tangga yang sedang merintis usaha mereka melalui program PNM Mekaar (Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera).

PNM telah menyalurkan dana sebesar Rp12,5 triliun sepanjang Januari–Februari 2024 untuk para pelaku usaha ultra mikro, dengan target dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2024 sebesar Rp75 triliun.

Terhitung sejak tahun 2016 hingga 2024, PNM Mekaar sudah membiayai 20,1 juta ibu yang menjadi pelaku usaha ultra mikro. Dari angka tersebut, sebanyak 15,2 juta ibu masih menjadi nasabah aktif.

Modal dan pendampingan

Jubaedah merupakan salah satu nasabah aktif PNM Mekaar tersebut. Mak Edah, demikian dia disapa, merupakan seorang ibu rumah tangga yang memiliki usaha kerupuk bermerek ‘Kerupuk Miskin Rasa Mewah’ serta jamu ‘Mak Edah’.

Baca Juga:  Pangeran Antasari : Haram Manyarah Waja Sampai Kaputing

Puan asal Desa Tanjung, Kecamatan Banyusari, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, itu mengaku sempat mengalami kesulitan dalam mencari modal ketika pandemi Covid-19 melanda Indonesia.

Akibat pandemi, tempatnya untuk bisa mendapatkan modal pun tutup, sehingga ia merasa kebingungan dalam mencari modal untuk melanjutkan usahanya.

Saat itulah, seorang tetangga memperkenalkan Mak Edah dengan PNM. Melalui program PNM Mekaar, Mak Edah memperoleh pembiayaan modal usaha sebesar Rp3 juta tanpa agunan atau jaminan.

Pinjaman tersebut ia bayar tiap pekan sebesar Rp75 ribu selama 50 minggu. Mak Edah bersyukur karena angsuran mingguan sebesar Rp75 ribu tidak terasa memberatkan dibandingkan dengan langsung membayar Rp300 ribu pada akhir bulan.

Selain memperoleh bantuan modal, Mak Edah juga mendapat beragam pendampingan dari PNM Mekaar. Pendampingan yang paling membekas bagi dirinya adalah melengkapi dokumen perizinan.

Bagi Mak Edah, pendampingan tersebut membuka kesempatannya untuk berkembang lebih jauh lagi. 

Selain pendampingan dalam melengkapi dokumen perizinan, ia juga mendapatkan pendampingan berupa cara mengemas produk, hingga diberi kesempatan untuk memamerkan produknya dalam acara-acara yang digelar oleh PNM.

Kini, Mak Edah telah mempekerjakan 13 karyawan, termasuk karyawan di bidang pemasaran, dan hampir seluruhnya merupakan janda lanjut usia dengan kisaran usia 60–75 tahun.

Ia juga berinisiatif membuka Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Anugerah agar para warga di sekitarnya yang memiliki anak-anak berusia dini, dapat menempuh PAUD tanpa dipungut biaya. 

“Karena Mak Edah selalu dididik oleh dinas di Kabupaten Karawang, apa pun yang Mak lakukan, harus ada manfaatnya buat orang banyak,” ujar Mak Edah penuh semangat.

Kesejahteraan masyarakat

PNM menerapkan sistem kelompok tanggung renteng yang diharapkan dapat menjembatani kesenjangan akses pembiayaan sehingga para nasabah mampu mengembangkan usaha dalam rangka menggapai cita-cita dan meningkatkan kesejahteraan keluarga.

Baca Juga:  Rudapaksa Oknum Polisi, Akankah Keadilan Ditegakkan?

Dalam satu kelompok minimal terdiri dari 2 subkelompok dan maksimal 6 subkelompok dengan masing-masing subkelompok beranggotakan 5–30 nasabah.

Sistem inilah yang pada akhirnya menuntut para nasabahnya untuk memiliki kepekaan sosial dan keinginan untuk mengajak lebih banyak masyarakat bergabung menjadi nasabah PNM.

Hal tersebut setidaknya disampaikan oleh Martha Wenda, seorang nasabah PNM dari Sentani, Papua, yang merupakan ketua dari kelompok nasabah di wilayahnya.

Kelompok yang diketuainya bernama Matoa dengan anggota berjumlah 17 orang pada 2017. Pada 2024, anggota kelompok tersebut bertambah menjadi 24 orang dengan berbagai macam latar belakang usaha, seperti menjual pinang, membuat kue yang terbuat dari wijen, menjual bensin, hingga menjual kebutuhan rumah tangga.

Martha sendiri merupakan penjual kebutuhan rumah tangga. Sebelum menjadi nasabah PNM, dia berjualan kebutuhan rumah tangga menggunakan gerobak pasir.

“Bukan gerobak yang didorong mas-mas nasi goreng, melainkan gerobak yang biasa dipakai kerja sama tukang bangunan isi semen atau batu,” ucap Martha menjelaskan.

Akan tetapi, kini bisnis Martha sudah berkembang. Ia tak lagi berkeliling menjajakan jualannya menggunakan gerobak pasir. Martha sudah memiliki kios sendiri. Penghasilan yang dahulu berkisar Rp250 ribu per hari, kini bisa mencapai Rp700 ribu per hari.

Tak hanya itu, ia pun berhasil menyekolahkan anaknya yang kini akan lulus Sekolah Dasar. Anggota kelompoknya pun juga menjadi lebih sejahtera.

Martha mengisahkan bahwa terdapat seorang nasabah yang dahulu bekerja sebagai kuli bangunan bersama suaminya, kini membuka usaha dari dukungan PNM dan berhasil menyekolahkan anak-anaknya.

Oleh karena itu, ia mengucapkan terima kasih kepada PNM setulus-tulusnya, sebab kemanfaatan yang ia rasa tak hanya mengubah hidupnya menjadi lebih baik, namun juga kepada orang-orang di sekitarnya yang ia kasihi.

Baca Juga:  Solusi Islam Mewujudkan Sistem Kesehatan yang Manusiawi

Direktur Utama PNM Arief Mulyadi mendorong para nasabahnya untuk terus membagikan kisah-kisah mereka, baik pedih maupun membahagiakan. Kisah-kisah tersebut diharapkan menjadi penyemangat bagi ibu-ibu lainnya yang kini sedang merintis usaha.

PNM akan memperluas jangkauan program  Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera (Mekaar) menuju Pulau Miangas, Sulawesi Utara pada kuartal II 2024.

Selain Miangas, PNM juga berencana untuk memperluas jangkauan program Mekaar ke Papua, di perbatasan antara Indonesia dan Papua Nugini.

Program PNM Mekaar diharapkan dapat memberi semangat dan keberanian kepada para ibu untuk merintis usaha. Para ibu memiliki keberanian untuk mengubah hidupnya dan merealisasikan mimpi-mimpi mereka. Dengan demikian, kemandirian ekonomi Indonesia juga dapat disokong oleh para pengusaha ultra mikro seperti mereka.

Iklan
Iklan