Iklan
Iklan
Iklan
HEADLINE

Taufiq Akui Menutupi Permintaan Nasabah dengan Sistem Tutup Lubang Gali Lubang

×

Taufiq Akui Menutupi Permintaan Nasabah dengan Sistem Tutup Lubang Gali Lubang

Sebarkan artikel ini
Terdakwa Taufiq Rahman mantan karyawan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Candi Agung Telaga Silaba Amuntai Selatan saat sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Banjarmasin Selasa (30/4/2024). (Kalimantanpost.com/hid)

BANJARMASIN, Kalimantanpost com – Terdakwa Taufiq Rahman mantan karyawan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Candi Agung Telaga Silaba Amuntai Selatan, mengakui perbuatannya, kalau ia menggunakan uang nasabah tanpa disetor ke kas BPR.

Pengakuan ini disampaikan terdakwa pada sidang lanjutan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Banjarmasin, dihadapan majelis hakim yang dipimpin hakim Suwandi, Selasa (30/4/2024).

Walaupun terdakwa mengakui perbuatannya, tetapi uang yang bejumlah Rp 779 juta lebih tersebut sebagian digunakan untuk biaya operasional dalam melakukan tugasnya termasuk memberikan insentif kepada nasabah, dengan inisiatif terdakwa sendiri, terutama nasabah yang setorannya cukup besar.

Tetapi menurut majelis, uang tersebut tidak semuanya digunakan untuk biaya operasional.

“Kemana sisanya,’’tanya hakim. Terdakwa tidak bisa berkutik hanya mengakui kalau ia memang membangun rumah tinggal yang dinilai sekitar Rp350 juta.

Menurut pengakuan terdakwa, uang untuk membangun rumah tersebut dari hasil gaji sebagai karyawan BPR sekitar Rp3 juta sebulan.

Dalam menjalankan modus operandinya, terdakwa mengatakan ntuk menutup permintaan nasabah, dilakukan sistem tutup lubang gali lubang, yang akhirnya tidak menutupi berujung ke ranah hukum.

Setiap setoran yang dilakukan nasabah baik tabungan maupun defosito, semuanya ditandatangani sendiri oleh terdakwa sebagai barang bukti kalau terdakwa sudah menertima s etoran dari nasabah.

Seperti diketahui, terdakwa duduk dikursi terdakwa di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Banjarmasi karena di rdakwa dituduh oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Sumantri Aji Surya dari Kejaksaan Negeri Hulu Sungai Uatara telah menilep uang nasabah BPR tersebut sehingga menelan kerugian mencapai Rp779 juta lebih.


Modus operandi terdakwa dalam menilep uang nasabah tersebut menurut JPU dalam dakwaannya dihadapan majelis hakim, sebagai karyawan yang bertugas mencari nasabah untuk menghimpun dana dengan cara jemput bola.

Baca Juga:  Kasat Narkoba Polres Jaktim Tertabrak Kereta Api di Stasion Jatinegara, Diduga Bunuh Diri

Untuk melakukan aksinya yang mengakibatkan kerugian yang cukup besar tersebut, terdakwa dalam menghimpun dana nasabah dengan sistem jemput bola ke rumah rumah nasabah.` Uang nasabah yang akan disetor ke BPR, bukannya disetor, tetapi ada sebagian yang di tilep. Lebih fatal lagi terdakwa tidak segan segan memalsukan tanda tangan nasabah dengan menguras tabungan nasabah.

Setiap setoran yang diterima terdakwa di tanda tangani sendiri bukan oleh pihak bank.

Kasus ini terbongkar ketika salah satu nasabah akan mengambil uang sebesar Rp40 juta, sementara menurut buku tabungannya adanya dana Rp79 juta, ternyata oleh pihak bank dana nasabah yang bernama Nurhasanah cuma Rp20.000,-.

Kemudian pihak BPR membentuk tim untuk menyelidik kasus ini dan akhirnya terbongkar modus operandi terdakwa hingga sampai ke pengadilan.

Dari dakwan tersebut adanya 22 nasabah yang menjadi korban, sebanyak 20 orang punya tabungan dan dua orang menanam deposito.
Atas perbuatan terdakwa ini ini JPU mematok pasal 2 Jo Pasal 18 Ayat (1) Undang-undang Nornor 31 Tahun 1999 sebagairnana telah diubah dan ditarnbah dengan Undang-Undang Nornor: 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 64 KUHP, untuk dakwaan primernya. Sedangkan dakwaan subsider pasal 3 Jo Pasal 18 Ayat (1) Undang-undang Nornor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan Undang-Undang Nornor: 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 64 KUHP. (hid/KPO-3)

Iklan
Iklan