Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
HEADLINE

Terpantau 1.137 Titik “Hotspot” di Kalsel

×

Terpantau 1.137 Titik “Hotspot” di Kalsel

Sebarkan artikel ini
titik

Banjarbaru, KP – Kondisi cuaca di Kalsel mulai panas.

Meski masih turun hujan, namun sesekali muncul panas terik.

Kalimantan Post

Yang menyebabkan munculnya titik panas atau Hotspot.

Berdasarkan laporan BMKG, puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus hingga September 2026. Sementara itu, Juni menjadi masa peralihan menuju musim kemarau dengan curah hujan yang mulai berkurang, dan Juli diprediksi menjadi awal musim kemarau di sebagian wilayah Kalimantan Selatan (Kalsel).

BMKG juga menjelaskan bahwa kondisi iklim tahun 2026 dipengaruhi fenomena El Nino di Samudera Pasifik. Meskipun demikian, tingkat kekeringan tahun ini diprediksi tidak seberat beberapa tahun sebelumnya.

Kalsel diperkirakan akan menghadapi periode musim kemarau selama kurang lebih enam bulan ke depan.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalsel, Ronny Eka Saputra, mengatakan bahwa hingga saat ini terdapat 1.137 titik panas (hotspot) yang terpantau di wilayah Kalsel. Dari jumlah tersebut, tercatat 25 kejadian kebakaran hutan dan lahan dengan total luas area terdampak mencapai 41,39 hektare. Kabupaten Barito Kuala telah menetapkan status siaga darurat Karhutla.

BPBD Kalsel telah meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan atau karhutla di musim kemarau tahun ini.

Langkah antisipasi dilakukan dengan memperketat pemantauan di sejumlah titik rawan, khususnya kawasan lahan gambut di sekitar Bandara Internasional Syamsuddin Noor.

Pengawasan difokuskan pada kondisi ketinggian air di lahan gambut guna menjaga kelembapan tanah agar tidak mudah terbakar.

BPBD secara rutin memonitor debit air sebagai indikator utama dalam mencegah potensi kebakaran.

Apabila terjadi penurunan debit air, BPBD akan segera berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai untuk membuka pintu air.

Ronny mengatakan situasi karhutla masih relatif aman. Bahkan curah hujan yang masih terjadi di sejumlah wilayah menjadi faktor utama menekan potensi kebakaran, meski tren suhu udara menunjukkan peningkatan.

Baca Juga :  TNI AL dan BI Gelar Ekspedisi ke Pulau 3T, Perkuat Akses Uang Layak Edar bagi Masyarakat

“Memang kita rasakan udara cukup panas, namun alhamdulillah di daerah kita masih terjadi hujan. Sehingga risiko karhutla masih cukup rendah dan suhu permukaan masih relatif aman,” ujarnya. (mns/K-2)

Iklan
Iklan