Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

CALON PENGHUNI SURGA

×

CALON PENGHUNI SURGA

Sebarkan artikel ini
Ahmad Barjie B
Ahmad Barjie B

Oleh: AHMAD BARJIE B

sebuah hadits riwayat Muslim, Rasulullah SAW bersabda, “Dunia ini perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita salehah”. Mengacu sejumlah ayat Alquran, hadis dan pendapat ulama, ada beberapa kriteria wanita salehah. Di antaranya ‘abidah, murabbiyah, muta’allimah, zahidah, khadimah dan daiyah.

Kalimantan Post

Abidah, maksudnya wanita suci, menjaga kehormatannya dan rajin beribadah, baik ibadah khusus seperti salat maupun umum seperti berzikir, membaca Alquran, mengasuh anak dan ringan tangan menolong orang.

Murabbiyah, wanita pendidik anak, baik sebelum anaknya lahir (pre-natal) dengan banyak berdoa, maupun sesudahnya (post-natal), sesuai pengetahuan dan kemampuan yang dimilikinya.

Mu’allimah, wanita sebagai pengajar, mampu memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada anak-anaknya, seperti cara menjalani hidup, memberi bekal ketika anak gadisnya sudah menstruasi dan bersuami, serta mengajar cara memasak, menata rumah tangga dan sebagainya.

Zahidah, wanita yang suka hidup sederhana, tidak boros dan berfoya-foya dan tidak terlalu silau dengan harta benda dunia (materi). Khadimah, wanita yang siap melayani suami dan anak-anaknya secara optimal, penuh pengabdian tanpa pamrih. Menjadi istri dan ibu sebagai tugas kodrati yang dilakukan dengan penuh amanah dan tanggung jawab.

Daiyah, bagi wanita yang memiliki ilmu agama juga penting mengajarkan ilmunya kepada tetangga dan masyarakat, sebagaimana istri Nabi Aisyah ra yang sepeninggal Nabi aktif mengajar masyarakat guna mentransfer pengetahuan yang pernah diajarkan Nabi.

Wanita yang menyusui sendiri anaknya dengan ASI, mampu mengambil beberapa kriteria di atas sekaligus. Dengan menyusui anaknya, ia telah melakukan ibadah kepada Allah SWT, melaksanakan salah satu perintah-Nya, sebab wanita (istri) secara normal diperintahkan menyusui anaknya hingga dua tahun.

Ibu tersebut telah membuktikan konsistensinya sebagai wanita, istri dan ibu. Ketika menikah ia sanggup hamil, melahirkan, kemudian menyusui dan mengasuh anak (hadhanah). Sanggup melayani kebutuhan suami dan anak tanpa syarat. Tidak pilih-pilih, misalnya mau kawin tapi enggan hamil, atau mau hamil tapi enggan menyusui dan seterusnya. Wanita yang menyusukan anaknya cermin pengabdian yang utuh.

Baca Juga :  Membantu Anak-anak Pelosok Satui Menjemput Mimpi

Sambil menyusui anak, seorang ibu telah memberikan pendidikan penting bagi anak berupa perhatian tinggi dan kasih sayang yang tulus ikhlas. Sudah banyak terbukti, hubungan emosional ibu dan anak yang disusui lebih erat ketimbang anak diberi susu non ASI. Selain praktis, anak juga lebih sehat, imun dari penyakit dan cerdas. Ibu yang menyusui menurut Margarete Mitsherlich lebih subur dengan sifat-sifat weiblich (keibuan).

Ketika wanita menyusui sendiri anak bayinya, pada saat yang sama ia telah berperan sebagai penjaga ekonomi keluarganya. Susu non ASI yang harganya makin mahal sulit terjangkau oleh kebanyakan keluarga yang penghasilannya pas-pasan. Tidak jarang separoh gaji suami habis untuk membeli susu non ASI. Sekiranya ibu konsisten menyusukan sendiri bayinya, akan lebih baik uang digunakan membeli makanan bergizi untuk ibunya. Semakin banyak dan bergizi makanan si ibu maka semakin banyak dan berkualitas pula produk ASI ibu.

Apalagi kalau suami tak sadar, lalu lebih mementingkan membeli rokok ketimbang susu anaknya, maka jadilah sang anak sakit-sakitan dan bergizi buruk dengan segala akibatnya yang akan merugikan keluarga dalam jangka panjang.

Di kalangan masyarakat Arab, terutama Arab pedalaman (Badwi) sudah lama tertanam keyakinan bahwa menyusukan bayi meningkatkan kesehatan kaum wanita. Itu sebabnya mereka selain menyusukan bayinya sendiri juga menyusukan anak orang lain, seperti halnya Nabi Muhammad waktu bayi yang disusukan oleh Halimah al-Sa’diyah dan Suaibah al-Aslamiyah. Selain karena motif ekonomi untuk mendapatkan upah, mereka juga beroleh kesehatan prima. Rata-rata wanita Arab Badwi lebih sehat, sanggup naik kuda dan onta dan menempuh perjalanan jauh dan berat.

Ekuivalensi menyusui bayi dengan kesehatan, didukung pula oleh hasil penelitian kesehatan di era modern. Pakar Laktasi Indonesa Dr Utami Roesli, SpA mengatakan, wanita menyusui akan terhindar dari kanker payudara, indung rahim, stroke, diabetes, jantung koroner, stres, depresi, rematik dan tulang keropos, bahkan 22 persen mengurangi risiko pikun (alzheimer) di hari tua. Ia menekankan perlunya merealisasi rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia WHO, yaitu mendekapkan anak di dada ibunya satu jam setelah lahir, memberi ASI eksklusif 6 bulan, memberi makanan tambahan ASI yang sehat, alami dan olahan ibunya sendiri, karena makanan pabrikan 6 persen meningkatkan kematian balita. Selanjutnya pemberian ASI dituntaskan hingga anak berusia 2 tahun (BPost, 22/9/2014).

Baca Juga :  LGBT Ancaman Hidup Manusia

Meski banyak keutamaan wanita menyusui, baik dalam perspektif agama, kesehatan terlebih ekonomi, tetapi tidak mudah untuk membangun komitmen menyusui bayi. Ada wanita yang tak punya air susu, tak ada pentil susu, atau karena anak bayi terlanjur merajuk, tak mau menyusu dengan ibunya, atau karena si ibu sibuk bekerja. Juga masih ada mitos bahwa menyusui anak akan mengurangi kecantikan, membuat tubuh sang ibu kurang indah, malu dan terkesan kampungan. Semua mitos ini tidak ada dasarnya sama sekali.

Kaum ibu dan calon ibu perlu dibimbing ke arah kebenaran. Walau pemerintah sudah meminta agar perusahaan yang memproduksi susu non ASI tidak terlalu proaktif beriklan, namun tanpa kesadaran kaum wanita hal itu sulit diwujudkan.

Kita berharap Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) yang di Kalsel diketuai Gt Risza Rayani Hasan Aman, lebih proaktif lagi membangun kesadaran masyarakat. Peran serta para ulama, tokoh agama dan masyarakat sangat diperlukan.

Yakinlah dengan menyusukan bayi banyak keuntungan diraih, tak hanya duniawi juga ukhrawi. Di antara orang yang dirindukan surga adalah wanita yang menjalankan ajaran agama dengan baik, termasuk menyusukan anaknya dengan penuh ketulusan. Wallahu A’lam.

Iklan
Iklan