Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

PENJARA MANUSIA

×

PENJARA MANUSIA

Sebarkan artikel ini

Oleh : ANDI NURDIN LAMUDIN

Telah dijelaskan di dalam buku yang merupakan kajian HMI dalam decade 1990, bahwa di dalam buku yang berjudul “Tugas Cenkiawan Muslim” adalah buku yang begitu ideal untuk mengikuti perkembangan zaman di atas tahun 2000. Sebagaimana tentunya negara-negara yang ada di dunia ini di dalam kompetisi dan pembangunan wilayah masing-masing, dalam menghadapi globalisasi.

Kalimantan Post

Jelas diulas dalam buku itu, pada bab III mengenai empat penjara manusia. Sebagaimana kuliah Ali Shariati, diketahui jika manusia merupakan masalah yang paling rumit di alam semesta. Oleh karena itu, dalam pendalaman ilmu serta keterkaitannyanmemerlukan pencurahan perhatian yang sangat besar. Sampai sekarang ini, manusia modern belum mampu mencapai suatu kesimpulan lengkap mengenai dirinya sendiri. Walaupun sebenarnya manusia banyak memecahkan berbagai masalah kehidupannya, serta mengatasi rintangan yang ditimbulkan “sang alam” yang membatasi kemajuan manusia.

Sebenarnya ilmu pengetahuan membantu manusia mengatasi berbagai masalah yang menghalangi kemajuan sosial, tapi gagal menolong manusia dalam memecahkan masalah esensi manusia itu sendiri. “Sebenarnya apakah manusia itu?”. Banyak literatur belum mampu menjawab secara memuaskan, itu merupakan sebuah pertanyaan besar! Walaupun masalah yang besar ini sedang diperselisihkan, diperdebatkan, direnungkan dan diteorisasi dengan berbagai cara, pertanyaan itu merupakan sentral dan utama bagi penyelidikan abad sekarang. Bagaimana tidak? Ia menjadi perhatian serta merupakan pokok pikiran dunia Barat yang merasakan konsekuensi tragis dalam kehidupan modern serta krisis, yang telah menjadi akibat dan keadaan yang ditimbulkannya.

Jika mengacu pada perdebatan Capres 2024, mengenai keamanan dan globalisasi, serta keadaan manusia yang mau kemana? Apakah manusia hanya berpikir mengenai alat-alat perang semata, yang merupakan simbol daripada sebuah jalan penindasan bagi mereka yang tidak sependapat, untuk jangan sampai kenghalangi jalan, dimana alat perang itu dibuat? Pemikiran manusia hanya sebatas itu untuk mencapai kebahagiaan serta mencari jalan kedamaiannya?

Baca Juga :  Kecanduan Judol, Anak Bunuh Ibu Kandung: Bagaimana Islam Menyelesaikannya?

Mengapa manusia itu buta, sehingga membuat negara hanya untuk memecahkan persoalan bersama, namun belum ketemu sampai saat ini? Jika manusia itu mau membuka diri, bahwa informasi Tuhan untuk mencapai tujuan manusia di dalam mencapai kebahagiaan dan perdamaian itu ada di dalam Al-Qur’an. Maka semestinya sebagaimana warga negara itu, maka cara untuk mengupas Al-Qur’an itu semestinya diberi fasilitasi untuk mengupasnya serta melaksanakan ajarannya. Tentu saja itu artinya memberikan kebebasan serta tidak membatasi penguasaan dan menerapkan “ilmu Qur’an” bagi mereka yang menerapkannya di Indonesia ini.

Debat presiden itu, jelas jika wawasan mereka yang menjadi capres itu sebenarnya hanya menuangkan apa dan bagaimana mereka berbuat selama ini. Namun mereka tidak ikut serta di dalam memecahkan problematika kemanusiaan, yang dialami manusia di muka bumi ini. Belum sempat!

Iklan
Iklan