Oleh : Haritsa
Pemerhati Generasi dan Kemasyarakatan
Pada momen Mudik Lebaran 2026, angka arus balik kembali diprediksi lebih besar dari arus mudik. Hal ini menunjukkan bahwa urbanisasi masih diminati banyak masyarakat pedesaan (metrotvnews.com, 27/03/2026).
Deputi Bidang Pengendalian Penduduk Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN, Bonivasius Prasetya Ichtiarto, mengatakan, fenomena arus balik yang semakin ramai dari tahun ke tahun telah menjadi salah satu aspek penting dalam dinamika migrasi penduduk Indonesia. Tidak lagi hanya sekadar tradisi mudik saat libur lebaran, arus balik kini mengambil bentuk yang lebih kompleks.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), angka Net Recent Migration (Migrasi Risen Neto) Indonesia tahun 2025, secara nasional, migrasi risen neto tercatat sekitar 1.2 juta jiwa, menandakan arus masuk ke kota lebih besar daripada arus keluar. BPS juga mencatat, dari total jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 287.6 juta jiwa pada tahun 2025, sekitar 54.8 persen penduduk tinggal di perkotaan, sementara 45.2 persen sisanya tinggal di pedesaan.
Kesenjangan Karena Kapitalisme
Urbanisasi adalah alarm bagi kebijakan kependudukan dan pembangunan. Ketimpangan struktural tidak dapat dipungkiri. Fenomena urbanisasi yang cepat justru semakin memperdalam kesenjangan antara dua wilayah ini serta memunculkan masalah baik di kota dan desa.
Masyarakat mencari pekerjaan dan kehidupan yang lebih baik di kota. Sarana-sarana kehidupan tersedia lengkap di kota. Semakin banyak orang atau penduduk di kota memang menciptakan kesempatan kerja yang banyak. Namun bukan tanpa masalah. Kota terbebani infrastruktur padat. Perebutan lapangan kerja juga menciptakan masalah pengangguran di kota.
Di sisi lain desa mengalami penuaan populasi dan angka pengangguran tetap menjadi ancaman yang menghantui. Desa kehilangan generasi muda yang seharusnya menjadi tulang punggung pembangunan dan keberlanjutan di wilayah mereka. Bidang pertanian juga semakin ditinggalkan generasi muda, padahal pertanian adalah sektor primer untuk ketahanan negara.
Pembangunan Ala Kapitalisme
Kapitalisme menciptakan kesenjangan ekonomi antara desa dan kota. Alokasi anggaran bersifat ibukota sentris dan kota sentris, sedangkan desa terabaikan. Capaian pembangunan lebih berorientasi jangka pendek yang menampakkan prestasi cepat atau quick result. Jadilah kota-kota dipenuhi dengan pembangunan fisik yang massif seperti jalan-jalan tol, kereta api cepat dan proyek mercusuar lainnya. Belum lagi pembangunan dan ekonomi yang diserahkan dan dimonopoli pihak swasta, membuat kota jadi sentra pembangunan yang lebih diminati karena sudah menjadi pusat keramaian. Swasta membangun pemukiman, pasar, mal dan wahana hiburan.
Sedangkan desa, kalaupun ada program ekonomi untuk desa seperti kopdes dan bumdes, sifatnya pencitraan, tidak benar-benar untuk memajukan desa. Program ekonomi untuk desa justru menjadi ajang bancakan proyek yang menguntungkan segelintir pihak.
Politik ekonomi Islam mewujudkan pembangunan yang merata di desa maupun di kota. Ini karena adanya jaminan pemenuhan kebutuhan orang per orang. Di mana pun ada orang, akan dilakukan pembangunan ekonomi untuk melayani kebutuhannya. Jadi penguasa atau pemerintah bukan semata regulator tetapi juga menjadi pelaku utama pembangunan dalam rangka meriayah, mengelola urusan rakyat.
Sektor pertanian dikelola dengan baik sehingga memajukan masyarakat desa. Syariat Islam memiliki aturan tentang tanah dan lahan yang khas. Aturan pertanahan dalam Islam mendukung majunya pertanian. Dengan aturan ini pula, negara bisa mengatur tata ruang dan tata wilayah dengan baik.
Pada masa khalifah dulu, negara membatasi jumlah penduduk yang bisa tinggal atau bermukim di Baghdad, pusat kekuasaan Khilafah saat itu. Ini untuk memastikan konduktivitas ruang hidup di kota dan mencegah kelebihan beban bagi kota.
Khalifah juga akan melakukan inspeksi sampai ke pelosok desa sehingga tahu betul kondisi rakyat dan kebutuhan mereka.
Hanya dengan penerapan syariat Islam secara kaffah pembangunan akan merata dan kesejahteraan menjadi nyata. Kita akan mendapati kota-kota yang manusiawi serta desa-desa yang terbangun. Negeri-negeri muslim mewujudkan peradaban Islam yang unggul dan mulia. Wallahu alam bis shawab












