Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Bintang Lima Untuk Superhero Jalanan

×

Bintang Lima Untuk Superhero Jalanan

Sebarkan artikel ini

Oleh: RK Ariyandi
Praktisi Perbankan

“Mohon bintang limanya, Pak.”

Kalimantan Post

Kalimat itu sederhana. Hampir setiap warga Banjarmasin pernah mendengarnya. Biasanya kita hanya tersenyum, mengangguk, lalu menekan tombol lima bintang sebelum menutup aplikasi dan kembali ke kesibukan masing-masing.

Tapi suatu pagi, kalimat itu membuat saya berhenti sejenak. Benarkah yang sedang diminta hanya sebuah bintang?

Sebab di balik lima bintang itu, ada seseorang yang sejak subuh sudah memulai perjalanan. Ia mengantar sarapan soto Banjar untuk sebuah keluarga, membawa pegawai agar tiba tepat waktu di kantor, mengirim obat kepada tetangga yang sedang sakit, atau membantu warung kecil di kawasan Pasar Sudimampir mengantarkan pesanan kepada pelanggan yang tidak sempat keluar rumah. Bahkan mungkin, sebelum azan Subuh selesai berkumandang, ia sudah memulai perjalanan pertama demi memastikan dapur di rumahnya tetap mengepul.

Di layar telepon genggam, semua itu hanya tampak sebagai daftar pesanan yang terus berganti. Namun di jalanan Banjarmasin—dari Simpang Ulin, Jalan Ahmad Yani, hingga jalan-jalan sempit di kawasan Banua Anyar—yang sesungguhnya sedang bergerak adalah kehidupan.

Kita hidup pada zaman ketika teknologi membuat banyak hal terasa mudah. Makanan dapat dipesan tanpa keluar rumah. Barang tiba hanya dalam hitungan jam. Transportasi tersedia melalui beberapa sentuhan jari. Semua menjadi cepat dan praktis. Namun di balik kemudahan itu, ada satu hal yang sering luput dari perhatian: teknologi memang mempertemukan kebutuhan dengan solusi, tetapi manusialah yang memastikan semuanya benar-benar sampai ke tujuan.

Karena itu, setiap kali melihat pengemudi ojek online melintas di jalan, saya tidak lagi hanya melihat seseorang yang sedang menjalankan pesanan. Saya melihat seseorang yang ikut menjaga aktivitas ekonomi kota ini tetap bergerak.

Seorang pengemudi ojol mungkin akan menjelaskannya dengan cara yang sangat sederhana: selama aplikasi berbunyi dan motor masih bisa jalan, selama itu pula ada peluang membawa pulang nafkah untuk keluarga. Kalimat seperti ini tidak terdengar heroik. Tetapi justru di situlah letak kekuatannya. Tidak ada drama. Tidak ada keluhan panjang. Hanya tekad diam yang setiap hari hadir di jalanan kita.

Mereka tidak datang dengan jubah. Tidak muncul di layar besar. Tidak selalu mendapat tepuk tangan. Mereka hadir di sela macet jembatan, di bawah hujan tropis yang deras, di tengah terik siang jalanan Kalimantan—mengantar sesuatu yang bagi orang lain mungkin kecil, tetapi bagi penerimanya bisa sangat berarti. Obat yang dikirim tepat waktu kepada orang tua yang sakit. Makan siang yang tiba sebelum rapat sore dimulai. Kue ulang tahun yang berhasil sampai sebelum lilin ditiup.

Baca Juga :  Mengapa Gerakan Dayak Harus Bersatu

Mungkin karena itulah, para pengemudi ojek online layak disebut sebagai superhero dari jalanan. Bukan karena mereka memiliki kekuatan luar biasa. Melainkan karena setiap hari, dalam diam, mereka membantu menjaga roda kehidupan kita tetap berputar.

Kita mungkin jarang menyadarinya. Hampir setiap hari mereka membantu warga berangkat kerja tepat waktu, membantu warung makan di gang-gang kecil menjangkau pelanggan yang lebih luas, membantu ibu rumah tangga memenuhi kebutuhan dapur tanpa harus menembus kemacetan kota, dan membantu pelaku usaha rumahan mengirimkan produk ke pelanggan yang berada jauh dari toko. Semuanya tampak sederhana. Padahal dari aktivitas-aktivitas kecil itulah roda ekonomi Banjarmasin berputar setiap harinya.

Para ekonom menyebut ini sebagai penurunan biaya transaksi—waktu, biaya, dan tenaga yang dihemat karena kebutuhan dan layanan bisa bertemu lebih cepat dan lebih mudah. Warung soto yang dulu hanya melayani pembeli yang datang langsung, kini bisa mengirim pesanan ke seluruh penjuru kota. Pelaku usaha rumahan yang dulu menunggu pembeli datang, kini bisa menjangkau pasar yang jauh lebih luas hanya dengan mendaftar di aplikasi. Ini bukan sekadar kemajuan teknologi. Ini perubahan cara kita berekonomi.

Riset nasional pada 2026 memperkirakan ekosistem ojek online berkontribusi sekitar Rp565 triliun terhadap perekonomian Indonesia—setara 2,37 persen dari Produk Domestik Bruto kita. Angka itu menunjukkan bahwa aktivitas yang tampak sederhana di jalanan, termasuk di kota-kota seperti Banjarmasin, sesungguhnya menjadi bagian dari perputaran ekonomi yang jauh lebih besar.

Karena itu, ketika seorang pengemudi menerima pesanan, yang bergerak bukan hanya sepeda motornya. Yang bergerak adalah harapan. Yang bergerak adalah ekonomi kita bersama.

Belakangan ini, ramai diperbincangkan soal tarif ojek online, potongan komisi aplikasi, dan biaya layanan. Di media sosial, di warung kopi, di grup-grup percakapan warga, topik ini muncul dengan berbagai sudut pandang. Ada yang berharap pengemudi mendapat penghasilan lebih layak. Ada pula yang khawatir kalau tarif naik, konsumen dan pelaku usaha kecil ikut terbebani.

Baca Juga :  ANAK USIA DINI

Perbincangan itu wajar. Justru di situlah terlihat bahwa ojek online bukan lagi sekadar kendaraan sewaan yang bisa diganti dengan angkutan lain. Ia sudah menjadi bagian dari denyut ekonomi sehari-hari masyarakat kita. Ketika ada perubahan dalam ekosistem ini, yang merasakan dampaknya bukan hanya pengemudi, tetapi juga konsumen, warung makan, usaha rumahan, dan toko-toko kecil yang selama ini mengandalkan layanan pengantaran untuk bertahan.

Di sinilah persoalan perlu dilihat secara utuh. Pengemudi membutuhkan penghasilan yang layak; konsumen membutuhkan layanan yang tetap terjangkau; pelaku UMKM membutuhkan biaya pengiriman yang tidak mencekik; dan platform digital membutuhkan ruang untuk menjaga inovasi serta kualitas layanan. Jika salah satu sisi terlalu ditekan, ekosistem ini akan kehilangan keseimbangannya.

Kebijakan yang baik tentu bukan yang hanya menguntungkan satu pihak. Kebijakan yang baik adalah yang menjaga agar seluruh pelaku dalam ekosistem ini dapat tumbuh bersama. Dalam ekonomi digital, keseimbangan semacam ini menentukan apakah teknologi benar-benar menjadi jalan kesejahteraan bagi semua—atau hanya menguntungkan segelintir pihak saja.

Tujuan kita bukan sekadar menentukan tarif yang lebih tinggi atau lebih rendah. Tujuan yang lebih penting adalah membangun ekosistem ojek online yang sehat, adil, dan berkelanjutan—ekosistem yang membuat pengemudi bekerja dengan lebih sejahtera, konsumen tetap terbantu, UMKM semakin berkembang, dan inovasi terus bertumbuh.

Maka, lain kali ketika seorang pengemudi berkata, “Mohon bintang limanya, Pak,” mungkin yang ia minta bukan sekadar nilai di layar. Ia sedang mengingatkan kita bahwa di balik kemudahan yang kita nikmati setiap hari, selalu ada manusia yang bekerja keras menjaga kehidupan tetap bergerak.

Mereka bukan hanya pengemudi. Mereka adalah bagian dari kita. Bagian dari kota ini. Bagian dari ekonomi yang setiap hari kita bangun bersama—di jalanan Banjarmasin, di antara riuh pasar dan deru kendaraan, dalam diam yang penuh makna.

Dan barangkali, tugas kita bukan hanya memberi bintang lima. Tetapi juga memastikan bahwa orang-orang yang setiap hari menemani perjalanan hidup kita itu, mendapat kehidupan yang lebih adil dan lebih layak.

Iklan
Iklan