Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Internasional

Asosiasi Internasional Imam Al-Bukhari Resmi Dibentuk, Indonesia Siap Berkontribusi dalam Platform Keilmuan Global

×

Asosiasi Internasional Imam Al-Bukhari Resmi Dibentuk, Indonesia Siap Berkontribusi dalam Platform Keilmuan Global

Sebarkan artikel ini
IMG 20260711 WA0029 e1783756376675
Direktur Jenderal ICESCO, Dr. Salim M. Al Malik saat menyampaikan pembentukan Asosiasi Internasional Imam Al-Bukhari (9/7). Kalimantanpost.com - Foto/Rofi

SAMARKAND, Kalimantanpost.com – Konferensi Internasional “Al-Jami’ as-Sahih karya Imam Bukhari – Kitab Umat” yang berlangsung di Kompleks Memorial Imam Bukhari, Samarkand, Uzbekistan, pada 9–10 Juli 2026 menghasilkan sejumlah keputusan strategis bagi pengembangan studi hadis dan peradaban Islam dunia.

Salah satu hasil terpenting adalah pembentukan Asosiasi Internasional Imam Al-Bukhari sebagai wadah ilmiah berskala global.

Kalimantan Post

Inisiatif pembentukan asosiasi tersebut diumumkan oleh Direktur Jenderal ICESCO, Dr. Salim M. Al Malik, bekerja sama dengan Pusat Peradaban Islam di Tashkent.

Organisasi ini diharapkan menjadi platform internasional untuk memperkuat kajian ilmiah mengenai warisan Imam Al-Bukhari, memperdalam penelitian tentang kehidupan, metodologi, serta kontribusinya dalam menjaga dan menyebarluaskan sunnah Nabi Muhammad SAW.

Konferensi yang dipandu Direktur Pusat Penelitian Internasional Imam Bukhari, Shovosil Ziyodov, juga melahirkan Deklarasi Samarkand: Warisan Imam Bukhari sebagai “Kitab Umat”. Deklarasi tersebut menegaskan bahwa sunnah Nabi merupakan sumber hukum Islam kedua setelah Al-Qur’an dan keduanya tidak dapat dipisahkan.

Dokumen itu turut menyerukan penguatan disiplin ilmu sejarah hadis, mendorong penelitian terhadap berbagai jenis hadis, sekaligus memberikan jawaban ilmiah atas berbagai klaim yang meragukan otentisitas hadis Nabi.

Selain itu, deklarasi menekankan pentingnya pembaruan metodologi studi hadis melalui pendekatan historis yang komprehensif serta memperluas kajian hadis tidak hanya pada aspek hukum, tetapi juga nilai-nilai peradaban yang terkandung di dalamnya.

Konferensi menghasilkan sejumlah rekomendasi operasional, di antaranya peluncuran program “Al-Bukhari Route” di bawah naungan Presiden Uzbekistan untuk memperkenalkan jejak penyebaran Sahih Al-Bukhari di berbagai pusat peradaban Islam dunia.

Peserta juga menyepakati penyelenggaraan konferensi internasional dua tahunan yang didedikasikan bagi tokoh-tokoh besar peradaban Islam. Konferensi berikutnya direncanakan mengangkat sosok Imam Muslim beserta karya monumentalnya, Sahih Muslim.

Baca Juga :  Korban Tewas Ebola di RD Kongo Tembus 500 Kasus

Rekomendasi penting lainnya meliputi peluncuran Penghargaan Internasional Al-Bukhari, penerbitan ensiklopedia ilmiah mengenai Imam Bukhari beserta guru, murid, dan karya-karyanya, serta pembentukan jaringan universitas dan lembaga pendidikan yang mengkhususkan diri dalam pengajaran Sahih Al-Bukhari.

Deklarasi Samarkand juga memuat rencana produksi film dokumenter tentang perjalanan hidup Imam Bukhari, penerbitan buku yang mendokumentasikan pengembaraan beliau dalam menuntut ilmu, pembangunan platform digital untuk menghimpun berbagai publikasi mengenai Sahih Al-Bukhari, hingga pendirian institut ilmiah di Kompleks Imam Bukhari di Samarkand sebagai pusat pengembangan kajian hadis dan sunnah.

Menanggapi hasil konferensi tersebut, perwakilan Indonesia, KH Muhammad Zaitun Rasmin, menyampaikan apresiasi dan dukungan penuh terhadap berbagai inisiatif yang dihasilkan. Menurutnya, langkah-langkah strategis tersebut sejalan dengan upaya Indonesia dalam memperkuat peran pesantren dan tradisi keilmuan Islam Nusantara di tingkat internasional.

Ia menilai Indonesia memiliki modal besar untuk berkontribusi dalam pengembangan Aliansi Dunia dan Perpustakaan Digital Peradaban Islam melalui kekayaan manuskrip ulama Nusantara, tradisi intelektual pesantren, serta keragaman budaya Islam yang dimiliki.

KH Muhammad Zaitun Rasmin juga menyatakan kesiapan Indonesia untuk mengisi platform digital tersebut dengan manuskrip-manuskrip ulama Nusantara yang selama ini tersimpan di berbagai pondok pesantren, sehingga dapat diakses dan dimanfaatkan oleh masyarakat ilmiah dunia. (rfz/KPO-1)

Iklan
Iklan