Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

MENYUKURI KEMERDEKAAN

×

MENYUKURI KEMERDEKAAN

Sebarkan artikel ini
Ahmad Barjie B
Ahmad Barjie B

Oleh : AHMAD BARJIE B

Di setiap bulan Agustus, bangsa Indonesia tidak terkecuali umat Islam selalu memperingati dan merayakan kemerdekaan Indonesia. Bagi umat Islam hal ini penting sebab umat Islam memiliki andil yang besar dalam perjuangan mengusir penjajah, khususnya Belanda dan Jepang. Banyak sekali yang menjadi korban di medan perang, disiksa, di penjara, cacat seumur hidup, kehilangan harta benda dan sebagainya. Bahkan proklamasi kemerdekaan itu sengaja dipilih hari baik dan bulan baik dalam pandangan Islam, yaitu hari Jumat, pukul 10.00 pagi tanggal 17 Ramadhan tahun 1365 H.

Kalimantan Post

Berjuang merebut kemerdekaan merupakan salah satu bentuk jihad, yaitu jihad perang, jihad al-qital. Orang yang tewas dalam perjuangan demikian termasuk syahid fi sabilillah. Mereka itu mendapatkan ganjaran pahala yang berlipat ganda serta balasan surga. Allah swt berfirman dalam QS Ali Imran ayat 169, yang artinya: Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; tetapi mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki.

Maksud hidup dalam ayat ini yaitu hidup dalam alam yang lain yang bukan alam kita ini, di mana mereka mendapat kenikmatan-kenikmatan di sisi Allah, dan hanya Allah sajalah yang mengetahui bagaimana keadaan hidup itu. Al-Syaikh Ahmad Musthafa al-Maraghi dalam Tafsir al-Maraghi menerangkan bahwa maksud ayat ini adalah Allah swt menegaskan bahwa orang-orang yang mati syahid itu sesungguhnya masih hidup di sisi Allah, mereka beroleh kedudukan yang mulia dan beroleh balasan kenikmatan yang menyenangkan, dalam kehidupan abadi menjelang alam akhirat. Ayat ini juga dimaksudkan untuk menolak pandangan orang munafik yang menganggap mati syahid di medan perang itu sia-sia saja, tidak ada gunanya atau hanya mati konyol, disebabkan mereka itu ragu atau tidak percaya terhadap kebenaran hari berbangkit.

Kemuliaan orang-orang yang mati syahid kadang-kadang ditunjukkan Allah berupa tubuhnya yang masih utuh, meskipun sudah ribuan tahun berlalu. Suatu kali Kota Madinah diguyur hujan lebat. Banyak tanah dan batu pegunungan mengalami longsor atau erosi oleh derasnya arus air. Salah satu kawasan yang pernah terkikis air adalah sekitar lereng dan kaki Gunung Uhud di mana berkubur puluhan pahlawan Islam yang mati syahid dalam Perang Uhud.

Akibat erosi banyak mayat yang keluar (menyembul) dari kubur mereka. Dan anehnya, banyak orang menyaksikan bahwa semua mayat itu berwajah bersih dan seperti dalam keadaan baru tewas. Baju perang, badan dan darah bekas senjata musuh seolah baru saja mengering bercampur debu. Padahal semua orang tahu, Perang Uhud terjadi pada tahun 3 H, lebih 14 abad lampau. Mayat-mayat itu kemudian dirapikan dan dikembalikan ke kuburnya semula. Itulah sebabnya pemerintah dan masyarakat Arab Saudi tidak merasa perlu untuk membikinkan kubah yang mewah, karena mereka begitu yakin akan kemuliaan para syuhada Uhud.

Baca Juga :  Momentum Kepatuhan Wajib Pajak

Kita percaya para pahlawan pejuang kemerdekaan, baik yang dikenal maupun tidak dikenal, baik yang berkubur di taman makam pahlawan maupun di luar bahkan tidak diketahui makamnya sama sekali, semuanya adalah mati dalam keadaan mulia, sebab mereka telah berjuang tulus ikhlas untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Mereka tidak mengharapkan bintang jasa dan gelar pahlawan, bahkan tidak sedikit yang tidak dihargai sama sekali oleh pemerintah dan generasi di belakang.

  Kemerdekaan yang sudah kita raih sekarang harus kita syukuri dengan cara mengisi kemerdekaan sesuai dengan tujuan kemerdekaan itu sendiri, yaitu masyarakat yang adil dan makmur lahir dan batin, sehinga terwujud baldatun thayyibah wa rabbun ghafur.

Tugas kita sekarang adalah meneruskan perjuangan para pahlawan pejuang. Untuk itu ada beberapa hal yang kita lakukan. Pertama, kita harus mengisi kemerdekaan dengan berbuat maksimal untuk kemajuan dan keejahteraan bangsa sesuai dengan kedudukan dan kemampuan kita masing-masing. Terutama sekali kepada para pejabat dan pemimpin bangsa, mereka sangat dituntut untuk melindungi dan melayani rakyatnya secara adil serta menjauhi hal-hal yang tercela seperti ketidakjujuran, korupsi, penyalahgunaan jabatan dan sebagainya. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dari Ma’aqil diterangkan, artinya: Seseorang yang telah ditugaskan oleh Allah untuk memimpin rakyat, kalau dia tidak memimpin rakyat itu dengan jujur dan adil, maka dia tidak akan mencium bau surga.

Selain para pejabat dan penguasa, ulama dan cendikiawan juga harus berbuat maksimal untuk masyarakat dengan menyumbangkan ilmu dan keahliannya bagi kemajuan rakyat. Bersama dengan penguasa mereka menjadi kata kunci bagi baik tidaknya keadaan rakyat. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibni Abdil Barr dan Abu Na’im dinyatakan, artinya: Dua golongan di antara manusia, jika baik maka baiklah seluruh manusia dan jika rusak maka rusaklah seluruh manusia, itulah ulama dan umara’.

Kedua, rakyat juga harus berpartisipasi untuk mengisi kemerdekaan dengan pembangunan, berbuat baik, mulia dan luhur sesuai dengan kemampuan dan pekerjaannya masing-masing. Rakyat juga berkewajiban untuk taat kepada para pemimpin, dengan menaati hukum dan peraturan, sepanjang yang diatur dan diperintahkan oleh pemimpin itu baik dan benar. Allah swt berfirman dalam QS An-Nisa ayat 59, artinya: Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

Baca Juga :  Mensyukuri Kemerdekaan Menyintai Tanah Air

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dari Abdullah juga diterangkan, artinya: Seorang muslim hendaklah mendengar dan mentaati perintah yang disukainya maupun tidak disukainya, sepanjang tidak diperintah untuk melakukan maksiat atau kejahatan. Tetap jika disuruh melakukan kejahatan, maka tidak perlu didengar dan dipatuhi.

Apabila rakyat patuh kepada pemerintahnya maka akan terwujud keamanan, ketertiban dan kedamaian. Sebaliknya jika mereka tidak patuh, meski pemerintahnya baik dan adil tetap saja akan terjadi kekacauan.

Suatu hari ada sekelompok orang bertanya kepada Khalifah Ali bin Abi Thalib ra dengan maksud menyindir. Katanya dulu di masa Abu Bakar dan Umar negara aman, sedangkan di zaman kamu (Ali) banyak terjadi kekacauan dan pemberontakan. Khalifah Ali menjawab: “Dulu khalifahnya adil dan rakyatnya juga penurut seperti aku (Ali), sementara sekarang pemerintahanku berusaha adil, tetapi rakyatnya seperti kamu, yaitu suka protes dan melawan. Akhirnya terjadilah kekacauan dan ketidakstabilan negara”.

Ini artinya, untuk terciptanya negara yang baik dan adil rakyat juga menentukan, apalagi dalam sistem demokrasi (pemilu dan pilkada) seperti sekarang. Rakyat harus pintar dan bersikap kritis. Jangan memilih pemimpin hanya karena penampilannya yang merakyat, atau pencitraannya, atau karena duitnya, atau hubungan kekerabatan. Di atas segalanya yang sangat penting sebenarnya adalah integritasnya, jejak rekamnya, pengalamannya, pengetahuannya dan kemampuannya yang dipastikan dapat berbuat adil dan menyejahterakan rakyat.

Terciptanya keamanan, keadilan dan kesejahteraan, pemerintah dan rakyat harus bersama-sama membangun negara, saling tolong menolong dalam berbuat kebaikan dan menjauhi keburukan. Semoga Allah swt senantiasa memberikan petunjuk jalan kita semua, memberikan petunjuk kepada para pemimpin kita, sehingga negara kita ini menjadi aman damai, adil dan makmur dan diridhai oleh Allah SWT. Amin.

Iklan
Iklan