Oleh: Nor Hasanah, S.Ag, M.I.Kom.
Pustakawati UIN Antasari Banjarmasin
Ketika langit berubah kelabu, udara dipenuhi asap dan debu, serta masyarakat mulai bertanya apakah kondisi lingkungan masih aman, sesungguhnya ada satu kemampuan yang ikut menentukan keselamatan manusia: kemampuan membaca. Bukan sekadar membaca huruf dan kalimat, melainkan membaca situasi.
Kita perlu membaca peringatan dini, membaca informasi cuaca, membaca status gunung api, membaca kualitas udara, membaca peta kawasan rawan bencana, dan yang tidak kalah penting, membaca apakah sebuah informasi layak dipercaya atau justru harus diabaikan. Di sinilah kita menemukan makna penting literasi di tengah situasi bencana.
Hari Aksara Internasional yang diperingati setiap 8 September 2026 mengusung tema “Literacy for people, the planet and prosperity”. Tema ini mengingatkan bahwa literasi tidak semestinya berhenti pada kemampuan membaca dan menulis. Literasi harus memberi daya kepada manusia untuk menghadapi persoalan kehidupan, menjaga planet, dan membangun kemakmuran.
Dalam konteks Indonesia yang memiliki kerentanan terhadap berbagai bencana alam, salah satu bentuk literasi yang sangat penting adalah literasi kebencanaan. Sederhananya: melek aksara harus diikuti dengan melek bencana.
Membaca Bukan Sekadar Mengeja
Selama bertahun-tahun, keberhasilan literasi sering dikaitkan dengan kemampuan seseorang membaca sebuah teks. Padahal, kehidupan menghadirkan teks yang jauh lebih kompleks.
Langit adalah teks. Lingkungan adalah teks. Data adalah teks. Peringatan dini adalah teks. Bahkan media sosial adalah “teks” yang harus dibaca dengan kecermatan.
Ketika abu vulkanik menyebar, misalnya, masyarakat berhadapan dengan berbagai informasi. Ada informasi mengenai kondisi gunung api, arah sebaran abu, kualitas udara, kesehatan, penerbangan, sekolah, hingga aktivitas masyarakat. Informasi tersebut harus dibaca dan dipahami.
Seseorang yang mampu mengeja kata-kata tetapi tidak memahami arti sebuah peringatan bahaya belum tentu dapat disebut memiliki literasi yang memadai. Sebaliknya, orang yang mampu memahami informasi, menilai risikonya, lalu mengambil tindakan yang tepat telah menunjukkan fungsi literasi dalam kehidupan nyata.
Dengan demikian, literasi sesungguhnya bukan hanya tentang membaca kata, tetapi juga membaca keadaan.
Bencana Informasi di Era Digital
Ada persoalan lain yang muncul bersamaan dengan bencana alam: bencana informasi. Saat masyarakat berada dalam kondisi cemas, informasi menyebar dengan sangat cepat. Media sosial menjadi ruang pertukaran berita, foto, video, komentar, bahkan spekulasi.
Masalahnya, tidak semua yang viral adalah benar. Sebuah video lama dapat beredar kembali dengan narasi baru. Foto dari suatu daerah dapat diklaim sebagai kejadian di daerah lain. Pesan berantai tanpa sumber dapat diteruskan dari satu grup ke grup lainnya. Informasi yang belum dikonfirmasi terkadang justru lebih cepat menyebar daripada informasi resmi. Dalam situasi seperti itu, literasi digital menjadi benteng pertahanan.
Masyarakat harus memiliki kebiasaan sederhana: berhenti sebelum berbagi. Periksa sumbernya. Periksa waktunya. Bandingkan dengan informasi resmi. Pahami konteksnya. Jangan mudah percaya hanya karena informasi tersebut datang dari orang yang dikenal atau dikemas secara meyakinkan.
Sebab dalam situasi bencana, informasi palsu bukan sekadar kesalahan komunikasi. Ia dapat menimbulkan kepanikan dan mendorong masyarakat mengambil keputusan yang keliru.
Karena itu, masyarakat literat bukan masyarakat yang percaya pada semua informasi, melainkan masyarakat yang mampu memilah informasi sebelum mempercayainya.
Membaca Alam Sebelum Alam Membaca Kita
Literasi juga harus membawa manusia kembali dekat dengan alam. Selama ini kita terlalu sering mengartikan literasi sebagai aktivitas yang berlangsung di ruang kelas, perpustakaan, atau di depan layar. Padahal alam pun memberikan pelajaran yang harus dibaca.
Perubahan cuaca, peningkatan suhu, pola hujan, kondisi sungai, perubahan lingkungan, aktivitas gunung api, hingga kualitas udara adalah bagian dari “bahasa alam”.
Persoalannya, manusia modern terkadang lebih cepat mengetahui apa yang sedang menjadi tren di media sosial daripada mengetahui apa yang sedang terjadi di lingkungan tempat tinggalnya. Kita hafal berita selebritas, tetapi tidak memahami peta risiko bencana di daerah sendiri.
Kita mengetahui berbagai informasi dari belahan dunia lain, tetapi belum tentu tahu apa yang harus dilakukan ketika terjadi bencana di lingkungan sekitar. Di sinilah literasi lingkungan dan literasi kebencanaan harus diperkuat.
Anak-anak perlu diajarkan bahwa mengenal lingkungan bukan hanya soal menjaga kebersihan. Mereka juga perlu memahami risiko bencana, mengenali jalur evakuasi, mengetahui fungsi peringatan dini, dan memahami tindakan yang harus dilakukan ketika keadaan darurat terjadi.
Pengetahuan semacam itu bukan pengetahuan tambahan. Ia adalah bekal kehidupan.
Literasi yang Menyelamatkan
Dalam keadaan normal, informasi mungkin hanya terasa sebagai pengetahuan. Tetapi dalam keadaan darurat, informasi dapat berubah menjadi penyelamat. Satu peringatan yang dipahami dengan benar dapat membuat seseorang menjauh dari kawasan berbahaya.
Satu informasi kesehatan yang tepat dapat membuat masyarakat mengambil langkah perlindungan. Satu informasi tentang jalur evakuasi dapat membantu sebuah keluarga menyelamatkan diri. Satu klarifikasi terhadap hoaks dapat mencegah kepanikan. Karena itu, literasi memiliki dimensi keselamatan.
Kita sering mengatakan bahwa pendidikan adalah investasi masa depan. Demikian pula literasi. Investasi literasi bukan hanya menghasilkan manusia yang berpengetahuan, tetapi juga manusia yang mampu mengambil keputusan secara rasional ketika menghadapi ketidakpastian. Bangsa yang literat adalah bangsa yang lebih siap menghadapi perubahan.
Perpustakaan Tidak Boleh Diam
Dalam situasi ini, perpustakaan memiliki posisi yang strategis. Perpustakaan bukan sekadar tempat menyimpan dan meminjamkan buku. Perpustakaan adalah ruang pengetahuan. Ia dapat menjadi tempat masyarakat memperoleh informasi yang kredibel tentang berbagai persoalan kehidupan, termasuk lingkungan dan kebencanaan.
Pustakawan pun menghadapi tantangan baru. Pustakawan tidak cukup hanya membantu pemustaka menemukan buku. Di tengah banjir informasi, pustakawan dapat berperan sebagai pendamping masyarakat dalam menemukan, mengevaluasi, dan menggunakan informasi yang benar.
Literasi informasi harus menjadi bagian dari pelayanan perpustakaan. Masyarakat perlu diajarkan bagaimana membedakan sumber resmi dengan sumber yang meragukan, bagaimana memeriksa informasi, dan bagaimana menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.
Dalam konteks bencana, perpustakaan bahkan dapat menjadi salah satu simpul edukasi masyarakat untuk membangun kesiapsiagaan.
Dengan kata lain, pustakawan dapat mengambil bagian dalam upaya membangun masyarakat yang bukan hanya gemar membaca, tetapi juga cerdas membaca keadaan.
Dari Melek Aksara Menuju Ketangguhan Bangsa
Kita tidak dapat mencegah seluruh bencana. Gunung api akan tetap menjadi bagian dari dinamika alam. Cuaca ekstrem dapat terjadi. Asap dan debu dapat menyelimuti wilayah tertentu. Tetapi kita dapat mengurangi risikonya.
Salah satu jalannya adalah membangun manusia yang memiliki pengetahuan dan kesadaran. Sebab teknologi peringatan dini tidak akan efektif apabila masyarakat tidak memahami pesannya. Informasi pemerintah tidak akan bermanfaat apabila masyarakat tidak mampu membedakan informasi resmi dan kabar palsu. Peta risiko tidak akan berarti apabila masyarakat tidak mengetahui bagaimana menggunakannya.
Karena itu, literasi merupakan bagian dari ketangguhan bangsa. Kita perlu mengubah cara pandang: bahwa literasi bukan hanya urusan pendidikan, perpustakaan, atau sekolah. Literasi adalah urusan keselamatan manusia dan keberlanjutan kehidupan.
Hari Aksara Internasional menjadi momentum untuk mengingatkan bahwa kemampuan membaca harus menghasilkan kemampuan memahami. Dan kemampuan memahami harus melahirkan tindakan.
Pada akhirnya, melek aksara adalah awal, bukan akhir. Kita harus melek informasi agar tidak mudah ditipu. Kita harus melek digital agar tidak menjadi penyebar hoaks. Kita harus melek lingkungan agar memahami hubungan manusia dengan bumi. Dan kita harus melek bencana agar mampu melindungi diri, keluarga, dan sesama.
Sebab ketika bencana datang, yang menyelamatkan manusia bukan hanya masker, teknologi, bangunan kokoh, atau sistem peringatan dini. Semua itu penting. Tetapi semuanya membutuhkan satu hal: manusia yang mampu memahami informasi dan bertindak dengan benar.
Maka, di tengah kepungan asap dan debu, pesan Hari Aksara Internasional menjadi semakin bermakna. Melek aksara bukan sekadar mampu membaca kata. Melek aksara berarti mampu membaca kehidupan. Dan ketika kita mampu membaca bencana, kita memiliki kesempatan lebih besar untuk menyelamatkan manusia, merawat planet, dan membangun masa depan yang lebih tangguh.













