Luhut Nggak Malu Tenteng Tas Purun

224

KERAJINAN PURUN – Beberapa pengrajin purun tengah melaksanakan kerjaannya di hadapan Menko Kemaritiman yang berkunjung ke Banjarmasin. (KP/Narti)

BANJARMASIN, KP – Kementrian Koordinator Kemaritiman Republik Indonesia Luhut Binsar Panjaitan mengajak seluruh pemerintah daerah untuk memberdayakan kerajinan masyarakat. Karena dengan memakai banyak kerajinan tas purun dan sejenisnya untuk mengganti kantong plastik ini, sama halnya pemberdayaan ekonomi kreatif.

“Saya senang terobosan yang dilakukan Pemerintah Kota Banjarmasin. Ini merupakan langkah yang cukup bagus karena itu marilah semua para SKPD untuk membantu warga dengan mendorong banyak produksi seperti usaha yang dilakukan Pemerintah Kota Banjarmasin,’’ungkap Kementerian Koordinator Kemaritiman Republik Indonesia Luhut Binsar Panjaitan yang mengaku ngak malu jika jalan-jalan bawa tas tentengan Hasil Kerajinan, saat berkunjunga ke Banjarmasin, Rabu (31/10).

Sebelumnya Luhut yang dikenal vokal juga mengunjungai Giant yang sudah memberlakukan larangan Kantong Plastik.

Luhut bangga dan terobosan Pemerintah Kota dan kebijakan ini perlu diberlakukan di daerah-daerah lainya.

“Kalau Banjarmasin bisa mengapa daerah lain ngak bisa harus bisa dan tentunya pelan-pelan kalau mengedukasinya,’’ucap Luhut yang didampingi Walikota H Ibnu Sina.

Humas Rumah Kreatif Kota Banjarmasin, Rizki Zainal mengakui selama ini penjualan bakul dan topi purun semakin meningkat dipasar pasar kota Banjarmasin, baik pasar tradisional maupun retail modern, namun ditengah meningkatnya omset penjualan tak didukung oleh ketersediaan bahan baku di Kota Banjarmasin.

Ia juga mengatakan bahwa penjualan bakul dan topi purun meningkat drastis tahun 2018, terlebih banyaknya kunjungan dari wisatawan luar daerah dan mancanegara di kota Banjarmasin.

“Beberapa kali rumah kreatif menerima tamu dan pengunjung dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan ada yang dari luar negeri kemaren sengaja mengunjungi rumah kreatif untuk membeli oleh oleh dari kota Banjarmasin ini,” kata Rizki Zainal kepada wartawan.

Tetapi dibalik meningkatnya penjualan kerajinan anyaman berbahan dasar tumbuhan purun tersebut tidak didukung oleh ketersediaan tumbuhan purun di kota Banjarmasin, “kelangkaan terjadi sudah sejak awal 2018 lalu, tetapi sangat terasa memasuki akhir tahun 2018 ini,” ucap Rizki.

Rizki memaparkan dirinya harus berangkat ke daerah Batola tepatnya Anjir dan Marabahan untuk memperoleh bahan dasar purun tersebut dan memerlukan akomodasi biaya yang lumayan mahal untuk berangkat kedaerah penghasil tumbuhan purun tersebut.

“Iya biasanya kita ambil kalau sedikit ini akan berdampak pada harga jual karena sangat disayangkan untuk tumbuhan purun ini sudah tidak ada lagi di kota Banjarmasin, melainkan saya harus berangkat atau dikirimkan melalui ekspedisi, ya keduanya ini tetap saja perlu biaya tambahan dari harga modal purun ini,” ucap Rizki Zainal.

Rizki Zainal menambahkan dengan meningkatnya penjualan topi dan bakul purun di pasaran kota Banjarmasin bisa membuat para petani tanaman purun di Kota Banjarmasin bisa termotivasi untuk kembali menanam dan menghasilkan tanaman purun untuk regional kota Banjarmasin.

“Semoga para petani dan penghasil tanaman purun di kota Banjarmasin yang akhir akhir ini redup bisa kembali membuat ketersediaan purun di kota Banjarmasin cukup untuk para pengrajin tanaman purun seperti kami yang ada dirumah kreatif ini,” katanya.(vin/K-7)

Loading...
Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

loading...