Dewan Minta Perbanyak Program Cetak Sawah di Katingan

Ketua DPRD Katingan, Marwan Susanto.

Kasongan, KP- Ketua DPRD Katingan, Marwan Susanto berharap kepada pemerintah agar program cetak sawah yang diperuntukkan untuk Kabupaten Katingan dapat diperbanyak lagi. Sebab, dengan banyak lahan sawah yang dicetak akan mengurangi pembukaan lahan oleh masyarakat yang ingin bertani.

“Saya rasa meningkatkan atau memperbanyak cetak sawah di lokasi yang tepat di Katingan akan mengurangi pembukaan lahan, yang juga dapat mengurangi pembakaran lahan,” ujar Marwan Susanto sejumlah wartawan, di Kasongan, Jumat (18/10) kemarin.

Menurut Politikus PDI-Perjuangan Katingan ini mengungkapkan masih banyak tempat-tempat atau lokasi cetak sawah yang potensial di Bumi Penyang Hinje Simpei. Sehingga, dapat dimanfaatkan untuk dibuka lokasi cetak sawah baru bagi masyarakat. “Jika lahan sawah semakin banyak, maka akan semakin meningkatkan hasil padi daerah,” imbuhnya.

Dimana selama ini ada dua daerah sebagai penghasil padi dan merupakan lumbung padi Kabupaten Katingan, yakni Kecamatan Mendawai dan Kecamatan Katingan Kuala, tentunya menjadi contoh bagi Kecamatan lainnya dalam peningkatan produksi padi.

Sementara terkait dengan kondisi udara Katingan yang masih diselimuti kabut asap, legislator asal daerah pemilihan (Dapil) I meliputi Kecamatan Katingan Hilir, Tewang Sanggalang Garing dan Pulau Malan, mengimbau kepada masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar. Sebab dampak yang diakibatkan sangat menggangu aktifitas masyarakat.

Dia pun juga meminta kepada aparat berwenang, berharap agar dapat menindak tegas pelaku yang dengan sengaja membakar lahan, baik itu dilakukan oleh masyarakat atau pihak korporasi.

“Tindakan tegas itu harus diambil agar ada efek jera. Sehingga mengurangi aktivitas pembakaran lahan yang sangat merugikan berbagai bidang, seperti ekonomi, kesehatan, pendidikan dan lain sebagainya,” pungkasnya. (ISN/K-8)

Loading...
Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

loading...