Menakar Peran Ibu di Masa Pandemi

Oleh : Saadah, S.Pd
Pengajar dan Pemerhati Sosial

Sejumlah provinsi mulai memperpanjang libur sekolah hingga 14 April. (antaranews.com, 30/03/2020). Sebelumnya juga sejumlah provinsi menetapkan mulai, Senin (16/3) meliburkan sekolah, dari TK, SD, SMP, dan SMA hingga Senin (30/3). Langkah itu diambil untuk mengantisipasi penyebaran virus corona jenis baru atau copid-19 di lingkungan lembaga pendidikan. (m.republika.co.id, 17/03/2020).

Belajar dari rumah imbas dari pencegahan penyebaran virus Corona menyisakan masalah tersendiri bagi para orangtua. Dari gagap teknologi, kewalahan membagai waktu di rumah hingga stres menjadi momok bagi ibu. (kompas.com, 18/03/2020).

Dari sekolahnya, wali kelas memberikan pekerjaan rumah untuk anak didiknya. Orang tua harus memastikan anaknya mengerjakan tugas yang diberikan oleh sekolahnya. (kompas.com, 18/03/2020).

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menerima aduan terkait anak-anak yang stres akibat diberi banyak tugas online. KPAI meminta Dinas Pendidikan melakukan evaluasi terhadap para guru. (m.detik.com, 18/03/2020).

“Seiring dengan 14 hari belajar di rumah, ternyata tugas yang harus dikerjakan anak-anak mereka di rumah malah sangat banyak, karena semua guru bidang studi memberikan tugas yang butuh dikerjakan lebih dari 1 jam. Akibatnya, tugas makin menumpuk-numpuk, anak-anak jadi kelelahan.” Kata Komisioner KPAI Bidang Pendidikan dalam keterangan tertulis. (m.detik.com, 18/03/2020).

Peran Ibu di Masa Pandemi

Di tengah kondisi pendemi saat ini terlihat semua pihak tergagap untuk menghadapinya, baik dari lingkup jajaran aparat pemerintahan, kesehatan, pendidikan, hingga lingkup yang paling kecil yaitu keluarga, terkhusus peran Ibu di rumah untuk anak-anaknya. Tergagap bukan tidak mampu, tetapi ketidak siapan menghadapi pendemi tersebut. Karena masih berkompromi dengan nilai sekuler kapitalis.

Dalam kondisi saat ini memang harus mengambil sikap yang tenang, cepat tetapi juga terukur. Semua pihak harus disadarkan perannya dalam mencegah dan menangani virus baru ini, yang tergolong sangat cepat penyebarannya. Kepanikan hanya akan menimbulkan stres dan membuat daya tahan tubuh menurun.

Sebagai seorang muslim harus mampu memadukan agama dengan sains. Prinsip Islam tentu sangat berseberangan dengan paham sekularisme. Justru Iman yang kuat dan produktif dalam Islam harus tetap mempengaruhi nalar kita dengan sehat.

Berita Lainnya

Pendidikan Utama Manusia di Bumi

1 dari 153
Loading...

Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan pemangku kebijakan, segenap nakes, ulama dan kaum intelektual bahwa Covid-19 tidak bisa ditangani menggunakan standar biasa. Harus dikerahkan seluruh daya upaya untuk mengakhirinya. Seruan untuk social distancing (jaga jarak sosial), lockdown (mengunci kota), dan tes massal terus menggema dari berbagai kalangan.

Di tengah gaung Covid-19 yang berseliweran di berbagai lini media, bulan Maret sebetulnya momen dimana peringatan tahunan persebaran ide feminisme sejak tahun 1913. Terlebih pada tahun 2020 adalah tepat peringatan 25 tahun Deklarasi dan Kerangka Aksi Beijing oleh PBB. Pada tahun 1995 terdapat 189 negara, termasuk belasan negeri-negeri Muslim menyepakati dokumen yang bertujuan meningkatkan kesetaraan gender dalam 12 “Bidang Perhatian Kritis”.

Kegagapan pemerintah dalam penanganan pandemi Covid-19 ini membawa perempuan pada kondisi ‘simalakama’. Feminisme yang selama ini berada dalam naungan kapitalisme telah menggariskan bahwa dalam mengejar ‘kesetaraan’ konsekuensi logis yang harus terjadi adalah perempuan dicetak menjadi pekerja. Sama sekali tidak ada cetakan sebagai istri terlebih ibu generasi. Efek dominonya kaum lelaki merasa tidak perlu ada tanggung jawab nafkah bagi perempuan yang telah ‘mandiri’ yang menjadi tanggungannya. Serta menjadika sekolah adalah jasa laundry anak.

Kebijakan setengah lockdown dengan meliburkan anak-anak dari sekolah membongkar kegagapan perempuan dalam mendidik anak terlebih yang belum baligh. Tersebar keluhan demi keluhan bahwa para ibu kelimpungan dan kewalahan menghadapi kondisi anak masing-masing. Pun demikian sang anak yang bersuara perihal bundanya lebih galak, lebih tidak sabar, lebih buruk dalam mengajar dibanding guru mereka di sekolah. Namun apa daya, kegagapan ibu ini didiamkan oleh aktivis feminisme dan negara demi label negara yang komitmen pada kesetaraan gender.

Kondisi berikutnya, ketelibatan perempuan dalam penanggung nafkah menempatkan perempuan terpapar langsung persebaran virus Covid-19 ini. Gaungan lockdown yang terus bergulir membuat kecemasan memburuk di kalangan perempuan. Meski para perempuan bekerja ini memiliki potensi tinggi menjadi carrier virus Covid-19 hingga sakit, namun semua itu diterabas demi sesuap nasi. Tentu saja hal ini diamini aktivis feminisme dan negara atas nama pertumbuhan ekonomi.

Jika saja perempuan dibiarkan dalam koridornya, tidak dipaksa keluar jalur, dan tak memaksakan sesuatu yang mustahil didapatkan, maka tak ada ibu yang gagap mendidik generasi yang lahir dari rahimnya sendiri. Pun tidak ada perempuan yang harus antara hidup dan mati demi titel berpenghasilan dan pertumbuahan ekonomi.

Momentum Kembalinya Peran Ibu

Sudah cukup klaim-klaim kesetaraan gender ditelan oleh perempuan. Sudah cukup perjalanan perjuangan yang berusia seratus tahun lebih digenggam. Nyatanya bahkan dengan deklarasi Beijing pun nasib perempuan tak pernah beranjak lebih baik. Pandangan penyelesaian kehidupan yang berasaskan gender harus diubah dan diganti ke pandangan yang lebih tepat. Yakni memandang manusia, baik laki-laki dan perempuan dengan sudut pandang hamba. Sebagai hamba yang lemah dan terbatas, yang memiliki Tuhan yang maha kuasa.

Sebaran Covid-19 di negeri-negeri muslim membawa hikmah bahwa bisa jadi peristiwa ini adalah teguran. Teguran hamba yang berlagak menjadi Tuhan dengan seenaknya membuat aturan sesuai hawa nafsu mereka.

“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik”. (QS. Al-Maidah : 49)

Sehingga ketika perempuan sudah dipersiapkan sejak awal menjadi ummu warobatul bait dan ummu madrosatul ula seperti yang diwajibkan dalam Islam, maka tak ada kekhawatiran ketika anak-anak kembali ke rumah karena akan tetap mendapatkan pendidikan terbaiknya. Bukan tergagap kebingungan bagaimana menghadapi lockdown di rumah atau bahkan stress dibuatnya.

loading...
Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya