Menuntaskan Permasalahan Kekerasan dan Kesehatan Perempuan

677

Oleh : Nor Aniyah, S.Pd
Pemerhati Masalah Sosial dan Generasi

Sistem reproduksi pada perempuan nyatanya punya dampak yang berpengaruh pada kesehatan psikis hingga mental. Sayangnya, tak semua edukasi terkait sistem reproduksi perempuan diketahui banyak masyarakat. Hal ini diungkapkan Head of Marketing DKT Indonesia dan Andalan.

Ada tiga masa reproduksi yang dianggap sebagai momen rentan pada perempuan yaitu saat menstruasi, saat kehamilan dan saat menyusui. Ketiga masa itu jadi masa yang rentan baik dari segi psikis maupun mental pada perempuan. Perempuan yang menjalani profesi sebagai wanita karier tentu punya banyak tuntutan, walaupun dihadapkan dengan kenyataan tentang kondisi kesehatan mereka terkait sistem reproduksinya (liputan6.com, 23/06/2020).

Sebelumnya, program-program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau United Nations Development Programme (UNDP), dalam laporannya bertajuk Human Development Report 2019, mencatat Gender Inequality Index (GII) atau Indeks Ketimpangan Gender (IKG) Indonesia berada di angka 0.451 poin. Laporan ini dikeluarkan pada Oktober 2019 kemarin, dengan menggambarkan kerugian atau kegagalan (loss) dari pencapaian pembangunan akibat adanya ketidaksetaraan gender.

Dalam laporannya tersebut, BPS mencatat IKG Indonesia mengalami tren yang terus menurun. Yaitu dari 18,7 pada 2017 menjadi 17,3 pada 2018. Penurunan IKG disebabkan membaiknya kesehatan reproduksi yang ditandai dengan menurunnya proporsi persalinan tidak difasilitasi kesehatan, yaitu dari 22,4 pada 2015 menjadi 17,3 pada 2018 (kumparan.com, 18/12/2019).

Sementara itu, Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) menyatakan terjadi kenaikan jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan pada tahun 2019. Sepanjang tahun kemarin, terjadi 431.471 kasus kekerasan terhadap perempuan, meningkat enam persen dari tahun sebelumnya sebanyak 406.178 kasus.

Komisioner Komnas Perempuan mengatakan, data kekerasan terhadap perempuan di Indonesia juga tercatat terus meningkat selama lebih dari satu dekade terakhir. Selama 12 tahun, kekerasan terhadap perempuan meningkat sebanyak 792 persen atau delapan kali lipat. Kekerasan seksual masih menjadi bentuk kekerasan yang paling banyak terjadi di ruang publik dan komunitas (tempo.co, 06/03/2020).

Kesetaraan gender sebagai solusi masalah kekerasan dan kesehatan perempuan terbukti gagal mewujudkan janjinya. Apalagi, di tengah wabah covid-19, ternyata kaum perempuan di bawah sistem kapitalis tidak banyak mendapat perlindungan. Kesehatan bahkan nyawa perempuan dipertaruhkan karena mereka masih harus bekerja. Pandemi Covid-19 menjadi bukti bahwa negara melakukan semua cara untuk mengkomersialisasi penyakit. Jangankan melayani kesehatan rakyat secara berkualitas dan gratis, malah penguasa menjual layanan kesehatan melalui asuransi kesehatan.

Berita Lainnya

Ramadhan Bulan Taubat dan Taat

Ramadhan dan Keikhlasan

Penerapan sistem kapitalis-sekuler telah membawa seluruh manusia ke dalam kemiskinan dan kesengsaraan, laki-laki maupun perempuan. Sistem ini justru memaksa perempuan bekerja untuk bisa hidup. Sistem ini tidak mewajibkan pada suami atau orangtua (ayah) memberikan nafkah kepadanya, sehingga perempuan menjadi sengsara. Akibatnya perempuan lalai terhadap pengurusan anak-anak dan keluarganya.

Terlebih lagi, ketika perempuan bekerja di tengah masyarakat, mengalami pelecehan atas kehormatannya. Liberalisme (kebebasan) yang bersumber dari penerapan ideologi sekuler Kapitalisme menjadi faktor yang juga mempengaruhi maraknya berbagai tindak kejahatan. Hal inilah yang kita saksikan di negeri-negeri barat, bahkan negeri-negeri Islam yang terpengaruh Kapitalis Barat. Sosok perempuan sekadar diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian kapitalis. Jelas sudah, ide ini bertentangan dengan Islam dan tak sesuai fitrah perempuan.

Sangatlah berbeda penguasa di dalam sistem Kapitalisme jika dibandingkan dengan Islam yang mengatasi penyakit dengan upaya maksimal didorong ketakwaan dan mewujudkan rahmatan lil alamin.

Islam memiliki seperangkat aturan yang akan melindungi perempuan. Islam memerintahkan untuk berbuat baik kepada perempuan. Rasulullah SAW bersabda : “Aku wasiatkan kepada kalian untuk berbuat baik kepada para wanita”. (HR. Muslim).

Dalam bidang kesehatan, perempuan dan laki-laki mempunyai hak yang sama untuk memperoleh layanan kesehatan dan penjagaan negara dari berbagai penyakit. Dalam Islam negara berkewajiban menyiapkan layanan kesehatan berkualitas dan gratis. Demikian pula, dengan menerapkan sistem ekonomi Islam negara akan mampu menjamin pemenuhan kebutuhan pokok tiap individu seperti pangan, sandang, dan papan, juga akan mampu menjamin pemenuhan kebutuhan dasar pendidikan dan keamanan.

Di sistem Islam, perempuan tidak dituntut untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri. Kewajiban nafkah kaum perempuan dibebankan kepada pihak keluarga (wali) dan suami dengan jaminan penyediaan lapangan kerja oleh negara. Kewajiban nafkah bisa diambilalih negara jika tiada keluarga atau punya keterbatasan fisik, cacat, dan lanjut usia. Sehingga perempuan tidak akan terpaksa untuk bekerja, karena tidak ada kewajiban dalam hal tersebut. Peran besar perempuan bagi peradaban adalah sebagai ibu generasi. Namun, tidak ada larangan bagi perempuan memilih bekerja dengan keilmuannya, selama peran sebagai istri dan ibu bisa terpenuhi secara optimal.

Umat dapat hidup dalam ketenangan dan rasa aman, karena Khalifah akan memberikan perlindungan dan pertolongan kapan saja. Khilafah menutup peluang terjadinya kejahatan dan kekerasan terhadap perempuan saat ada di kehidupan privat maupun di ruang publik. Diantaranya dengan mewajibkan masyarakat untuk menjaga interaksi sosial di tengah masyarakat, agar menumbuhkan suasana takwa. Khalifah akan menjatuhkan sanksi hukum yang keras terhadap setiap pelaku kejahatan, termasuk bagi pelaku tindak kekerasan dan pelecehan terhadap perempuan. Hal ini akan mencegah berulangnya kasus kejahatan serupa.

Terdapat sebuah peristiwa yang menggambarkan betapa mulianya seorang perempuan dalam sistem khilafah Islam. Yakni, di masa Khalifah al-Mu’tashim Billah, seorang perempuan menjerit di negeri Amuria karena dianiaya dan dia memanggil nama Al-Mu’tashim, jeritannya pun didengar dan diperhatikan. Khalifah al-Mu’tashim lalu segera membebaskan perempuan itu dan Amuria akhirnya ditaklukan oleh kaum Muslim.

Jadi, sudah saatnya mengembalikan kemuliaan perempuan di bawah tuntunan syariah. Kembali pada Islam adalah satu-satunya jalan menuntaskan permasalahan yang menimpa perempuan, agar tetap mulia sebagaimana kodratnya. Tegaknya sistem Islam menjadi kunci, agar umat manusia baik laki-laki maupun perempuan dapat hidup bahagia dan sejahtera.

Loading...
Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

loading...

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya