PSBB dan Ancaman Kelaparan yang Membayangi Rakyat

553

Oleh : Nor Aniyah, S.Pd
Pemerhati Masalah Sosial dan Generasi

Di hari kedua Pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Kota Banjarmasin, Pemerintah Kota Kota Banjarmasin ternyata belum juga menyalurkan bantuan sosial kepada masyarakat yang terdampak pandemi Covid-19. Kepala Dinas Sosial Kota Banjarmasin, mengaku sejauh ini pihaknya masih mengupayakan penyaluran bantuan sosial berupa sembako untuk masyarakat terdampak wabah corona. Penyaluran bantuan ditargetkan, baru bisa dilakukan pada Selasa mendatang (28/4) atau dihari ke lima pelaksanaan PSBB (https://www.sonora.id/read/422123127/dua-hari-psbb-di-banjarmasin-belum-ada-penyaluran-bansos-dari-pemerintah).

Bantuan sembako PSBB yang disiapkan Pemerintah Kota Banjarmasin untuk meringankan beban masyarakat terdampak Virus Corona, hingga saat ini masih belum bisa di bagikan. “Kami masih menunggu arahan dari Dinas Sosial, kalau sudah ada, segera kami akan bagikan sembakonya,” kata Lurah Teluk Dalam, saat ditemui di ruang kerjanya. Selasa (28/04/2020) siang (https://banjarmasin.tribunnews.com/2020/04/28/sembako-psbb-pemko-banjarmasin-belum-bisa-dibagikan-lurah-masih-menunggu-ini).

Dari 12 kelurahan yang ada di Kecamatan Banjarmasin Tengah, enam diantaranya masih belum menerima paket sembako yang diperuntukkan bagi masyarakat terdampak Covid-19. Kelurahan Tersebut masing-masing Melayu, Gadang, Pasar Lama, Seberang Mesjid, Sungai Baru, dan Pekapuran Laut (https://banjarmasin.tribunnews.com/2020/04/28/enam-kelurahan-di-banjarmasin-tengah-belum-terima-sembako-psbb).

Padahal, sejak mewabahnya virus corona di Kalsel, perekonomian ikut terkena imbasnya, diantaranya supir angkutan umum, yang berada di sekitaran Jalan A Yani KM 6, Jumat (24/4/2020). M (62), seorang supir angkutan umum menceritakan setiap hari mangkal di Jalan A Yani KM 7, sejak ada wabah virus corona pendapatannya menurun drastis. Dalam sehari ia hanya bisa mendapat tiga penumpang, ongkos satu orang penumpang Rp 5 ribu. Ia berharap bisa mendapatkan bantuan berupa sembako dari pemerintah setempat. Agar mengurangi beban selama ada wabah virus Corona.

Ia menambahkan selama ini tidak mendapatkan jatah sembako, karena selama ada pembagian sembako ia dan rekan-rekan sesama supir angkutan tidak kebagian jatah (https://banjarmasin.tribunnews.com/2020/04/25/tidak-ada-penumpang-sopir-angkutan-umum-berharap-ada-bantuan-sembako).

Pemerintah pusat seperti ketakutan bila lockdown dilakukan, karena ada beban yang mesti ditanggung oleh pemerintah pusat yaitu menyediakan kebutuhan pokok bagi manusia dan hewan. Makanya, dengan aturan PSBB, diduga kuat pemerintah pusat menyerahkan sepenuhnya urusan PSBB kepada daerah. Sementara pemerintah pusat hanya menunggu. Pelonggaran PSBB pun disinyalir sekadar untuk kepentingan bisnis dan mengabaikan keselamatan rakyat.

Pelaksanaan PSBB di satu sisi dipandang bisa memutus mata rantai penularan virus penyebab Covid-19. Namun, di sisi lain penerapannya justru mengundang masalah ekonomi yang jauh lebih buruk. Pemerintah juga terlalu lambat memberikan bantuan bagi warga yang terdampak ini sebab birokrasi yang berbelit. Alhasil, kematian akibat kelaparan membayangi rakyat. Inilah kegagalan negara Kapitalisme dalam menangani wabah penyakit.

Berita Lainnya
Loading...

Minimnya edukasi dan sosialisasi pada masyarakat menjadi salah satu penyebabnya. Sehingga, kesadaran masyarakat sangat minim. Selain itu, pemerintah terkesan tidak satu suara dalam penerapan di lapangan. Hingga tidak adanya jaminan terpenuhinya kebutuhan rakyat oleh pemerintah selama PSBB, juga menyebabkan rakyat tetap harus keluar rumah untuk mencari nafkah.

Padahal, hilangnya uang akibat terpuruknya ekonomi bisa dibangkitkan lagi. Sementara melayangnya nyawa rakyat tidak bisa dihidupkan kembali. Dulunya mereka beraktifitas biasa, tiba-tiba sudah terkapar. Ingatlah, jatuhnya korban jiwa bukan sekadar hitungan statistik dan matematis para Kapitalis. Bila pun lolos dari pengadilan dunia, penguasa akan tetap diminta pertanggungjawaban di Hari Akhirat.

Rasulullah Saw bersabda: “Imam (Khalifah) adalah pengurus, ia bertanggung jawab atas (urusan) rakyatnya”. (HR. Muslim).

Dalam Islam, begitu negara mendengar di suatu daerah terkena wabah, penguasa akan bertindak cepat. Maka daerah tersebut harus dikarantina atau lockdown. Kemudian dicarikan solusi agar wabah tersebut segera berakhir dan nyawa rakyat dapat terselamatkan.

Beda negara Kapitalis, negara Islam yang ketika menerapkan karantina atau lockdown syar’i bagi warganya saat wabah penyakit, sekaligus menjamin kehidupan ekonomi rakyatnya tetap terjamin. Sehingga, efektivitas karantina wilayah nampak secara nyata.

Sumber pemasukan Khilafah berupa harta milik umum yang begitu besar seperti tambang, hutan, laut dan sebagainya. Ditambah pula harta milik negara seperti dari jizyah, kharaj, ghanimah dan fai, serta zakat dan shadaqah dari kalangan Muslim yang punya kelebihan harta. Maka, dengan kekayaan yang melimpah tersebut akan sangat memungkinkan Khilafah mengurusi hajat hidup rakyat termasuk saat pandemi, untuk pemenuhan kebutuhan pangan, kesehatan, energi dan lainnya.

Khalifah bisa menugaskan para Wali dan Amil dalam wilayah negara Khilafah Islamiyah untuk mendistribusikan pangan, khususnya dari wilayah yang memiliki cadangan pangan berlebih. Seperti surat khalifah Umar bin al-Khaththab kepada Amr bin al-‘Ash pada masa paceklik dan jawaban Amr bin al-‘Ash kepada Khalifah Umar.

Ibn Khuzaimah telah menuturkan riwayat di dalam Shahih-nya, juga al-Hakim, dan ia mengatakan hadis ini sahih menurut syarat Muslim demikian juga al-Baihaqi dalam Sunan al-Bayhaqi dan Ibn Saad dalam Thabaqat dari Zaid bin Aslam, dari bapaknya yang mengatakan: Pada waktu tahun paceklik dan negeri Arab dilanda kekeringan, Umar bin al-Khaththab menulis surat kepada Amr bin al-‘Ash: Dari hamba Allah Amirul Mukminin kepada Amr bin al-‘Ash. Demi kehidupanku, bagaimana pendapatmu jika engkau dan wargamu gemuk (karena kecukupan makanan), sementara aku dan orang-orang di sisiku kelaparan. Karena itu, tolonglah! Lalu Amr menulis balasan: Keselamatan semoga tercurah kepada Anda. Amma ba’du, aku datang memenuhi panggilan Anda serta siap menerima dan menjalankan perintah Anda. Aku mendatangkan kepada Anda unta-unta yang ‘kepala‘-nya ada di hadapan Anda dan ‘ekor‘-nya masih berada di hadapanku, sementara aku masih berharap dapat menemukan jalan untuk mengangkutnya melalui laut.

Karantina wilayah sejatinya menjadi putusan final dalam menangani wabah. Otomatis kegiatan ekonomi juga akan terhenti sementara. Tetapi, kebutuhan primer masyarakat telah dijamin negara seluruhnya. Sehingga, saat bencana tak ada bayangan kematian tersebab kelaparan yang melanda. Inilah tugas utama negara, pelindung dan penjamin hidup rakyatnya.

loading...
Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya