Layanan Pendidikan Anak Usia Dini dalam Masa Pandemi Covid-19

Oleh : Dr H Kasypul Anwar dan Asnan,SE.MM
Anggota BAN PAUD dan PNS Pemprov Kalsel

Pendidikan merupakan hak setiap warga negara sebagaimana diamanatkan dalam pasal 31 UUD 1945. Pendidikan memiliki andil pokok dalam meningkatkan kualitas SDM. Pendidikan dimulai sejak anak berusia dini, baik secara formal maupun informal. Jika sejak usia dini anak telah dibekali dengan nilai-nilai yang baik sebagaimana diperolehnya dari pendidikan, maka anak akan mampu mengenali potensi dirinya dan mampu mengembangkannya di masa mendatang untuk kemajuan bangsa. Adapun lembaga pendidikan bagi anak usia dini adalah TK, KB, RA, atau bentuk lain yang sederajat. Hal ini dituangkan dalam Pasal 28 Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional yang menyebutkan bahwa Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar. Melalui PAUD, anak diberikan rangsangan pendidikan untuk membantu tumbuh kembang jasmani dan rohaninya agar memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan dasar dan kelak di tahap berikutnya.

Penting untuk memaksimalkan perkembangan otak anak usia dini karena mereka sedang berada pada masa keemasan (golden age). Pada masa inilah otak anak mengalami perkembangan paling cepat sepanjang sejarah kehidupannya. Oleh sebab itu, perkembangan anak pada masa ini merupakan penentu bagi perkembangan selanjutnya, Tak heran, banyak orangtua yang berupaya memberikan yang terbaik bagi anaknya saat memasuki masa keemasan ini, salah satunya dengan menyekolahkannya melalui lembaga PAUD. Orangtua menaruh harapan besar pada para tenaga pendidik untuk membantu tumbuh kembang anaknya, baik dari segi kognitif, fisik, bahasa, sosial, dan emosional anak.

Dibalik harapan para orangtua, nyatanya saat ini mereka harus beradaptasi dengan keadaan baru. Pandemi global yang saat ini menyerang 216 negara, telah mengubah semuanya. Multisektor mengalami dampak, tak terkecuali pada sektor pendidikan. Pendidikan di Indonesia pun telah masuk ke dalam “gerbang” tantangan dan polemik baru. Demi menekan angka penyebaran Covid-19, Pemerintah tengah menerapkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sebagaimana diatur dalam PP No. 21 Tahun 2020. Sementara itu, detail teknis dan syarat-syarat mengenai PSBB dituangkan dalam Permenkes Nomor 9 Tahun 2020 tentang Pedoman Pembatasan Sosial Berskala Besar dalam Rangka Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Salah satu hal yang dapat disoroti dalam pemberlakuan PSBB dan dampaknya terhadap pendidikan adalah peliburan sekolah dan mengganti sistem pembelajaran menjadi berbasis daring (online) guna mematuhi social distancing. Lantas bagaimana dengan pendidikan anak usia dini?

Pandemi membuat para guru dan murid tak bisa bertatap muka secara langsung. Hal ini tentu cukup menyulitkan bagi guru, orangtua, dan anak-anak. Istilah PAUD From Home dapat disebut saat ini. Libur kali ini memberikan kesempatan yang luas bagi anak untuk memperoleh pendidikan informal dari keluarga. Karena peliburan sekolah bukan berarti “peliburan belajar”, sekolah juga wajib memastikan bahwa hak peserta didik tetap terpenuhi. Pada dasarnya, kegiatan belajar di PAUD menerapkan konsep “bermain sambil belajar”. Bermain memiliki pengaruh yang sangat besar bagi perkembangan anak. Dengan demikian, “distribusi tugas” bukanlah proses belajar yang cocok dan bijak jika diterapkan kepada peserta didik PAUD. Disinilah inovasi dan kreativitas guru dan orangtua diuji, dimana mereka memegang “kunci” dalam menentukan keberhasilan pembelajaran yang dilakukan dari rumah di tengah pandemi.

Berita Lainnya
1 dari 135
Loading...

PAUD yang diselenggarakan harus dapat mengakomodir semua aspek tumbuh dan kembang anak dalam suasana yang menyenangkan dan menimbulkan minat anak. Dalam pembelajaran berbasis online, guru dapat memberikan konten pembelajaran yang menarik, seperti video, cerita bergambar, dan sebagainya. Setelah itu, guru tak boleh “lepas tangan” dan membiarkan anak didiknya begitu saja. Para guru tetap mengawasi kegiatan bermain dan belajar yang dilakukan para siswa PAUD melalui komunikasi yang terjalin dengan orangtua. Hal ini dilakukan misalnya dengan membuat grup WhatsApp yang beranggotakan orangtua dan guru, sehingga pemantauan dan pendampingan dapat berjalan dengan optimal. Melalui grup tersebut, guru juga bisa mengedukasi orangtua bagaimana cara bermain anak yang edukatif serta orangtua dapat berbagi pengalaman bagaimana keseharian anak-anak dalam belajar. Disini sharing antar orangtua dan guru diharapkan dapat terjadi intensif demi hasil yang maksimal.

Sejatinya, PAUD From Home ini kembali menekankan pendekatan dan kedekatan anak kepada orang tua. Orangtua adalah garda terdepan untuk mengenalkan anak tentang dunia dan hal-hal didalamnya. Orangtua harus mengawasi dan mendidik anak dengan cara yang menyenangkan, sebagaimana didapatkan anak di sekolah. Dalam penggunaan smartphone pun harus didampingi, anak harus dipastikan membuka konten edukatif sesuai bimbingan orangtua, dan jangan membiarkan anak bermain game sesuka hati. Orangtua juga perlu aktif dan kreatif dalam memberikan pendidikan anak. Tujuannya untuk menstimulus anak bermain sambil belajar dan berkreatifitas seperti saat di sekolah. Hal menarik seperti bermain bersama, membuat prakarya, menceritakan dongeng, dan menyanyi patut diterapkan guna meningkatkan aspek kognitif, motorik, afeksi, spiritual, intelektual, dan sebagainya.

Di tengah pandemi, “bersahabat” dengan teknologi adalah hal yang harus kita lakukan. Tidak mungkin kita menjauhkan teknologi untuk mencetak generasi unggul di era digital ini. Kini tak hanya pelajaran bagi siswa jenjang menengah saja yang dapat diakses dalam berbagai platform dan aplikasi, PAUD pun bisa. Beragam aplikasi belajar, seperti Anggun PAUD, Sahabat Keluarga, Rumah Belajar, dan lainnya dapat digunakan oleh orangtua dalam mengedukasi anak. Konten dalam aplikasi pun berfokus untuk memperlengkapi anak dengan keterampilan membaca, menulis, berhitung, dan budi pekerti yang selaras. Siaran televisi pun turut berpartisipasi memberikan program edukasi bagi anak-anak Indonesia, sebagaimana Program Belajar dari Rumah yang ditayangkan di TVRI. Rasanya berbagai alur ini terasa mulus dan ideal. Hal ini tentu sangat mudah jika didukung oleh orangtua dengan jalan menyediakan perangkat dan pengetahuan teknologi yang mumpuni. Polemik muncul lagi disini. Bagaimana dengan masyarakat kelas bawah yang tak memiliki akses
teknologi?

Ya nyatanya, pembelajaran berbasis daring untuk pendidikan anak usia dini memang tidak seideal yang diharapkan. Muncul berbagai polemik yang datang dari banyak aspek. Masalah utama yaitu kesenjangan teknologi. Tak semua keluarga memiliki perangkat teknologi yang memadai, bahkan gurunya sekalipun. Tak semua orangtua dan guru juga memahami penggunaan teknologi tersebut. Kalaupun memilikinya, kebutuhan akan kuota sangatlah besar dan memberatkan. Belum lagi sinyal internet yang tidak stabil, terutama di daerah terpencil. Tak adanya akses teknologi mungkin dapat diakali dan dicari jalan lain. Pihak sekolah dapat memfasilitasi dengan memberikan bahan pembelajaran yang dikirim ke rumah setiap anak. Misalnya, kertas gambar untuk diwarnai, dan alat-alat pembelajaran yang dapat digunakan juga oleh orangtua untuk mengedukasi anak. Guru juga dapat melakukan pengajaran door to door. Namun, hal ini tentu tidak bisa dilakukan terus menerus mengingat pemberlakuan PSBB yang menganjurkan untuk work from home.

Polemik yang didapat dari keluhan orangtua juga banyak bermunculan. Banyak orangtua yang mengeluhkan anak-anaknya tidak mau menurut ketika belajar, bahkan lebih nurut pada guru PAUD nya di sekolah. Orang tua juga kewalahan bagaimana cara mengatur anaknya agar tidak cepat bosan selama belajar di rumah. Wajar saja jika jenuh atau bosan melanda, karena selama di sekolah anak lebih bebas bereksplorasi dan berinteraksi bersama teman-temannya, hal ini lah yang tidak diperoleh anak selama di rumah. Terkadang orangtua pun tidak paham dan sadar akan pentingnya menstimulasi perkembangan anak. Orangtua perlu memahami bahwa sejatinya belajar bagi anak usia dini adalah melalui bermain, dan melalui bermain itu mereka belajar. Ketika orangtua mencoba berkreasi dengan anak melalui prakarya, hal ini terbatasi lagi ketika dihadapkan pada ketidaktersediaan bahan di rumah dan harus keluar untuk membelinya, mengingat adanya penerapan PSBB. Selain itu, pengawasan terhadap anak juga terkendala lagi apabila kedua orangtua sibuk beke
rja, sehingga tidak ada yang mendampingi anak untuk belajar di rumah dan tak sempat dalam berkoordinasi dengan guru PAUD di sekolah. Hal ini semakin menunjukkan bahwa kita tengah dihadapkan pada masalah yang kompleks.

Anak adalah aset negara yang sangat berharga. Darinya, Indonesia dapat menghadapi tantangan global di masa mendatang. Namun semua itu tergantung tangan-tangan kita saat ini dalam mempersiapkan mereka. SDM ini harus dipersiapkan jauh-jauh hari dengan memberikan perhatian yang besar pada pendidikan yang diterimanya sejak usia dini. Halangan, rintangan, tantangan, tidak mungkin tak muncul ke permukaan. Saat inilah buktinya. Di tengah merebaknya virus yang membahayakan ini, lantas apakah kita hanya berdiam diri membiarkan hak anak dirampas oleh makhluk yang bahkan tak terlihat? Menutup mata dan tak mau tau akan nasib anak-anak kita? Mari saling bergandengan tangan. Terwujudnya pendidikan berkualitas untuk anak usia dini di masa sulit ini membutuhkan tangan dari berbagai elemen. Prinsip yang perlu diingat adalah anak usia dini harus bahagia dalam belajar dan utamakan keselamatannya di tengah pandemi. Semoga para anak “emas” kita dapat terus tumbuh dan berkembang dengan baik serta pandemi ini segera berakhir. Indonesia bisa.

loading...
Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya