Semerbak Harapan di Tengah Wabah

Oleh: Jalidah, S.Pd
Guru di Batola

Krisis keuangan yang mulai meningkat pada tahun 2008 mengungkap adanya cacat serius dalam sistem Kapitalisme dan ketidakmampuannya untuk mempertahankan stabilitas ekonomi dunia di bawah Kapitalisme. Banyak cendekiawan dan pemikir yang telah dengan benar mengidentifikasi masalah serius yang dihadapi dunia kapitalis.

Kapitalisme adalah sistem yang muncul hasil dari pemisahan gereja dan negara di Eropa dan kemudian di Amerika Serikat. Sistem ini mengakui kebebasan absolut manusia untuk memiliki dan menjual aset apapun dan untuk membuat undang-undang dan hukum yang antara lain mengatur kepemilikan itu. Kapitalisme seperti ini muncul sebagai sistem yang berporos pada kepemilikan pribadi; individu boleh memiliki jenis atau kekayaan apapun dan untuk meningkatkan kekayaan mereka dengan segala cara atau bentuk yang tersedia. Pembatasan apapun bagi kepemilikan atau pengembangan lebih jauh atas kekayaan/kesejahteraan itu adalah penyimpangan dari aturan itu.

Dalam jangka waktu lama, Kapitalisme berhasil membuat dua bentuk ekonomi : ekonomi riil dan ekonomi non-riil. Ekonomi non-riil memungkinkan kekayaan uang untuk tumbuh secara bebas dari pertumbuhan ekonomi riil di lapangan.

Tanda-tanda keruntuhan Kapitalisme sangat banyak. Pada tingkat ideologis murni, prinsip-prinsip utama Kapitalisme bertabrakan langsung dengan realita. Sebagai contoh, Kapitalisme sangat bergantung pada prinsip “kelangkaan relatif” yang menunjukkan bahwa sumber daya yang tersedia di pasar tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan semua orang yang menginginkan sumberdaya tersebut. Namun kenyataannya, dunia memiliki sumberdaya yang jauh lebih banyak daripada yang dapat dikonsumsi orang pada waktu tertentu. Hal ini jelas terlihat pada angka yang menunjukkan peningkatan berkelanjutan atas kekayaan negara-negara, sementara kemiskinan juga terus meningkat. Dengan kata lain, rusaknya distribusi sumberdayalah yang menyebabkan kemiskinan, dan bukan kelangkaan sumberdaya itu sendiri yang jadi penyebabnya.

Prinsip lain yang juga telah rusak adalah prinsip kepemilikan pribadi. Di seluruh dunia, di Amerika maupun di Eropa, pemerintah negara-negara itu bergegas untuk menasionalisasi dan mengubah perusahaan-perusahaan milik swasta menjadi milik pemerintah dan milik publik. Bank-bank, perusahaan-perusahaan raksasa asuransi, industri-industri otomotif dan lembaga-lembaga keuangan lainnya dialihkan menjadi milik pemerintah dalam konteks “terlalu besar untuk gagal”. Itu artinya bahwa kepemilikan swasta saja tidak dapat mempertahankan ekonomi, terutama ketika ukuran ekonomi tumbuh besar.

Terciptanya cabang-cabang ekonomi non-riil yang memungkinkan kekayaan negara-negara untuk muncul berkali-kali lebih besar dari ukuran perekonomian yang sebenarnya. Hal ini telah menciptakan suatu ilusi, yang pasti akan menyebabkan keruntuhan besar. Kekuatan-kekuatan yang mendorong ke arah ekonomi non-riil meliputi pasar saham, perbankan dan sistim keuangan yang berbasis riba, dan diasingkannya emas dan perak dari basis sistem moneter. (Sumber: Alwaie,Mei 2020)

Kapitalisme Gagal Atasi Wabah

Situasi dunia teranyar, tampak kapitalisme gagap dan tampak gagal atasi pandemi. Lembaga dunia World Food Program (WFP) mengatakan masyarakat dunia menghadapi ancaman kelaparan besar-besaran dalam beberapa bulan lagi akibat resesi ekonomi yang dipicu pandemi. Total warga dunia yang bisa mengalami bencana kelaparan melebihi satu miliar orang.

Mereka mayoritas adalah rakyat dari negara-negara berkembang, yang selama ini menjadi “korban” kerakusan negara negara kapitalis besar dunia.

Tak hanya mengancam negara berkembang, tapi bahaya kelaparan juga mengintai Amerika Serikat, negara dedengkot kapitalis. Sekitar 30,2 juta orang kena PHK di sana. Dampaknya, mobil-mobil mengantre makanan hingga empat jam menjadi pemandangan biasa di sana. Mereka tak sanggup lagi memenuhi kebutuhannya sendiri sehingga harus bergantung kepada pemerintah menyediakannya.

Dengan pasien corona terbanyak di dunia yaitu 1.128.555 kasus positif corona dan 65.668 pasien meninggal dunia per 2 Mei 2020, AS harus memilih. Jika tak meneruskan lockdown, maka virus akan semakin menyebar. Tapi jika tetap lockdown maka banyak orang tak bisa bekerja, semakin banyak orang kelaparan, meningkatnya gangguan keamanan, dan berbagai dampak ikutan lainnya. Amerika pun tak berdaya.

Cina sebagai negara komunis yang hakikatnya juga menerapkan kapitalisme, boleh jadi mengklaim telah berhasil menghentikan virus ini. Tapi 30 juta orang terancam PHK di sana. Cina memang sangat bergantung pada pabrik dan manufakturnya untuk pertumbuhan ekonomi hingga dijuluki “pabrik dunia”.

Dan sebagian besar pabrik di sana, telah didesain untuk memenuhi kebutuhan ekspor. Ketika berbagai negara dunia menerapkan lockdown, produk Cina otomatis tak akan ada yang berhasil masuk ke mana-mana. Sanggupkah Cina bertahan? Ternyata Cina pun tak berdaya.

Adapun Indonesia, dengan limpahan kekayaan sumber daya alamnya yang luar biasa, ternyata juga harus kelimpungan menghadapi pandemi ini. Sistem kapitalisme yang diadopsi, telah membuat Indonesia tak bisa lepas dari ketergantungannya pada dikte asing. Inilah yang menjadi biang kerok penanganan wabah pun gagal di negeri ini mengikuti kegagalan para “tuannya”.

Berita Lainnya
1 dari 154
Loading...

Sebelum Covid-19 menyerang, 22 juta penduduk Indonesia sudah mengalami kelaparan kronis. Dan pascamerebaknya pandemi Covid-19, jumlah itu bertambah dengan cepat. Gelombang PHK besar-besaran menimbulkan pandemi kemiskinan dan kelaparan. Kebijakan PSBB yang tak diikuti dengan pemenuhan kebutuhan pokok bagi seluruh rakyat terdampak, semakin menambah besar ancaman kelaparan.

Di samping kelaparan, masyarakat juga terancam bahaya yang tak kalah ngerinya yaitu kriminalitas. Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal Nana Sudjana menyatakan tingkat kriminalitas di wilayah hukumnya naik 10 persen selama masa pandemi virus Corona. Sementara itu Karopenmas Mabes Polri, Brigjen Pol Argo Yuwono menyatakan peningkatan kriminalitas sebesar 19,72 persen dari masa sebelum pandemi.

Ancaman bahaya kelaparan dan kriminalitas adalah bukti nyata kegagalan negara kapitalis. Kalaupun wabah ini berakhir, tak ada jaminan masalah akan berakhir.

Kemiskinan, kelaparan, penderitaan, akan terus menimpa sebagian besar umat manusia di muka bumi ini. Mengapa? Karena dalam desain kapitalisme, hanya segelintir orang yang berhak menikmati kekayaan alam dunia yang berlimpah ruah ini.

Faktanya, sebelum wabah pun, kondisi di berbagai negara berkembang (baca: miskin) dunia, mereka berjuang untuk melawan kemiskinan dan kelaparan. Sementara di negara-negara maju, penduduknya berjuang melawan kegemukan. Kesenjangan kaya dan miskin tersebut semakin hari semakin besar. Dan pascawabah, ancaman kelaparan pun semakin besar.

(https://www.muslimahnews.com/2020/05/04/ancaman-kelaparan-dan-kriminalitas-mengintai-di-masa-pandemi-covid-19-bukti-kegagalan-negara-kapitalis)

Kantor berita Al-Jazeera (4/4/2020) mengutip pernyataan serigala politik Amerika dan mantan Menteri Luar Negeri, Henry Kissinger, dalam sebuah artikel di Wall Street Journal, bahwa pandemi Corona akan mengubah sistem global selamanya.

Kissinger menjelaskan bahwa kerusakan yang disebabkan oleh pandemi virus Corona baru mungkin bersifat sementara, akan tetapi kekacauan politik dan ekonomi yang disebabkannya dapat berlanjut selama beberapa generasi.

Kissinger mendesak pemerintah AS untuk fokus pada tiga bidang utama dalam menghadapi dampak pandemi secara lokal dan global. Pertama, meningkatkan kemampuan dunia untuk memerangi penyakit menular, dan hal itu dilakukan melalui pengembangan penelitian ilmiah.

Kedua, berupaya tanpa henti untuk mengatasi kerusakan yang disebabkan oleh ekonomi global akibat pandemi yang belum pernah dilihat manusia sebelumnya dalam hal kecepatan dan luasnya cakupan. Dia juga mendesak pemerintah Amerika untuk melindungi prinsip-prinsip sistem liberal global, hingga karakteristiknya.

Ketiga, hal yang tidak kalah pentingnya bagi pemerintah Amerika agar fokus padanya, bahwa ia sangat menyadari akan kesibukan Amerika dan negara-negara kapitalis lainnya dengan krisis pandemi Corona, benar-benar telah menciptakan kasus baru, yang tercermin dalam besarnya penolakan rakyat terhadap sistem kapitalis ini, di mana semua kebijakan penyelamatan ekonomi berakhir dengan yang kaya semakin kaya, dan yang miskin semakin miskin.

Kissinger menutup artikelnya dengan mengatakan bahwa tantangan historis yang dihadapi para pemimpin dunia pada saat ini adalah mengelola krisis dan membangun masa depan pada saat yang bersamaan. Dan kegagalan dalam tantangan ini benar-benar dapat mengobarkan dunia.

Islam Gantikan Kapitalisme

Jika kapitalisme telah terbukti gagal mensolusi permasalahan hidup manusia. Bahkan menghantarkan kehidupan manusia saat ini jatuh ke jurang permasalahan yang lebih dalam. Maka tidak bisa tidak kita butuh sistem lain yang bisa memberikan jaminan kehidupan bagi manusia. Telah terbukti oleh sejarah dalam kurun waktu yang panjang 13 abad lebih, sebuah sistem kehidupan yang pernah memberikan jaminan tersebut. Sistem Islam yang diterapkan secara kaffah dibawah naungan sebuah negara, Khilafah Islamiyah. Janji Allah dan bisyarah Rasulullah InsyaAllah sistem ini akan menggantikan sistem kapitalisme saat ini.

Bisyarah Rasulullah berikut tampaknya akan benar-benar nyata : Nabi SAW bersabda, “Akan datang kepada kalian masa kenabian, dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Kemudian, Allah akan menghapusnya, jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang masa Kekhilafahan ‘ala Minhaaj al-Nubuwwah; dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Lalu, Allah menghapusnya jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang kepada kalian, masa raja menggigit (raja yang dzalim), dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Lalu, Allah menghapusnya, jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang masa raja dictator (pemaksa); dan atas kehendak Allah masa itu akan datang; lalu Allah akan menghapusnya jika berkehendak menghapusnya. Kemudian, datanglah masa Khilafah ‘ala Minhaaj al-Nubuwwah (Khilafah yang berjalan di atas kenabian). Setelah itu, beliau diam”. (HR. Imam Ahmad). Wallahu a’lam

loading...
Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya