Euforia New Normal Life Menggelora di Tengah Naiknya Grafik Infeksi Corona

Oleh : Fahima Ziyadah
Mahasiswa

Empat kabupaten/kota yang melaksanakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Kalimantan Selatan, sebagiannya telah berakhir. Meski hasil penerapan PSBB tak terlalu signifikan memutus mata rantai penyebaran virus Corona, namun sepertinya pemerintah harus menerapkan dan memulai wacana hidup normal yang baru.

Pemerintah pusat telah mempersiapkan prosedur penerapan New Normal atau tatanan baru di 25 kabupaten/kota. Empat diantaranya berada di Kalsel. Yakni, Kota Banjarmasin, Kota Banjarbaru, Kabupaten Banjar dan Kabupaten Barito Kuala. Terkait hal itu, Wakil Ketua Harian Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kalsel, Hanif Faisol Nurofiq menyampaikan bahwa daerah di Kalsel memang sudah mengarah untuk menerapkan New Normal. Akan tetapi, menurutnya saat ini yang menjadi prioritas adalah bagaimana langkah penanganan kasus virus corona. “Kalau kita jalankan New Normal, sementara cara penanganan penyakit belum ketemu. Maka, kita belum bisa menjelaskan secara detail bagaimana penyebarannya,” ucapnya. (Prokal.co, 28/5/2020).

Untuk melanggengkan wacana New Normal Life, sosialisasi pun digalakkan, rakyat juga mulai merasa terbebas dari kungkungan PSBB. Euforia menyambut New Normal Life begitu terasa di tengah terus meningkatnya grafik pasien terinfeksi Covid-19.

Sejak beberapa hari ini jajaran Polres Tabalong turun ke pasar untuk melakukan sosialisasi pendisiplinan masyarakat menghadapi kenormalan baru. Selain itu kegiatan ini juga dilakukan untuk mendukung kebijakan pemerintah dalam penanggulangan dan pencegahan penyebaran Covid-19. Kapolres Tabalong AKBP M Muchdori melalui Kasubaghumas AKP H Ibnu Subroto, Sabtu (30/5/2020), membenarkan telah dilakukannya kegiatan tersebut. (banjarmasin.tribunnews.com, 2020/05/30)

Sekretaris Daerah (Sekda) Hulu Sungai Selatan (HSS) HM Noor, bersama Kepala Bekeuda Nanang FMN dan Kepala Bapelitbangda M. Arliyan Syahrial, serta pimpinan OPD terkait, mengikuti Video Conference (Vidcon) perihal lomba inovasi daerah dalam penyiapan tatanan normal baru produktif dan aman COVID-19. Vidcon ini dipimpin langsung oleh Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Republik Indonesia (RI) H. Muhammad Tito Karnavian dan Menteri Keuangan Republik Indonesia (RI) Sri Mulyani Indrawati, diikuti Sekda HSS dan jajaran. Semua daerah diharapkan produktif tapi patuh pada protokol kesehatan yang ada, pihaknya mendorong agar daerah berlomba-lomba membuat inovasi kebijakan daerah, untuk melaksanakan tatanan normal baru namun aman dari COVID-19 dan tetap melaksanakan protokol Kesehatan. Lomba inovasi ini ada empat kategori wilayah yakni provinsi, kota, kabupaten zona hijau dan kabupaten zona merah, kementrian menyiapkan hadiah berupa uang yang berasal dari Dana Insentif Daerah (DID) dengan total sebesar Rp164 miliar. “Setiap
daerah, provinsi, kota, kabupaten zona hijau dan kabupaten zona merah, diminta membuat inovasi yang dibuktikan dengan video maksimal dua menit,” katanya. (kalsel.antaranews.com, 29/05/2020).

Jika New Normal Life resmi diterapkan, pertanyaannya bagaimanakah nasib kehidupan masyarakat setelah ini? Akankah dengan kehidupan normal baru wabah segera berlalu?

Sebelum New Normal Life, pemerintah sebelumnya telah memakai istilah “berdamai dengan corona”. (dikutip kompas.com, 26/05/2020), “new normal” adalah nama lain dari “hidup berdamai dengan Covid-19”.

New normal mulai digaungkan di tengah pandemic covid-19 yang melebar luas dan menginfeksi jutaan orang di dunia termasuk juga di Indonesia Kalsel khususnya. Akibat dari pandemi ini, masyarakat dipaksa tinggal dirumah; bekerja, belajar, beribadah. Terkecuali mereka yang diharuskan beraktivitas di luar rumah. Kondisi ini telah memberi dampak yang sangat besar bagi kehidupan masyarakat, juga di berbagai sektor kehidupan.

Kehidupan normal yang dimaksud bukanlah seperti kehidupan sebelum wabah, melainkan kehidupan normal yang baru saat wabah. Meski masyarakat tidak lagi berada dalam isolasi, mereka akan tetap beraktivitas namun diharapkan menjalankan pola hidup jaga jarak. Negara yang saat ini menjadi contoh persiapan pelaksanaan New Normal adalah Inggris dan AS.

Berita Lainnya
1 dari 154
Loading...

Inggris melalui Menlu, Dominic Raab mengingatkan, saat angka kasus mereda dan wabah virus mulai melandai, orang-orang akan kembali pada kehidupan normal. (rmol.id, 26/05/2020).

Sebisa mungkin semua pekerjaan dilakukan di luar rumah, kecuali pabrik dan gudang. Pertemuan bisnis pun dilakukan secara online. Dan bagi yang bekerja di kantor/tempat kerja, harus mematuhi jarak sosial minimal dua meter dengan langkah-langkah perlindungan juga penggunaan hand sanitizer.

Senada, pemerintah AS juga telah melonggarkan lockdown sejak beberapa waktu lalu untuk membangkitkan kembali perekonomian yang hampir ambruk. (liputan6.com, 26/05/2020). Yang berarti AS mulai bersiap untuk penerapan New Normal. Sebagaimana diketahui bahwa AS merupakan negara dengan kasus Covid-19 tertinggi di dunia saat ini denga total kematian mencapai 100 ribu jiwa. (worldmeters, 26/05/2020).

Jika kita melihat pada mabda negara tersebut, yang adalah kapitalisme, berotientasi pada capital atau spesifiknya ekonomi. Maka bisa dikatakan dengan ini mereka berani mengambil kebijakan New Normal di tengah pandemi covid-19. Dan kebijakan yang diambil tentu tidak berdasarkan empati sosial kemanusiaan, tetapi justru berasas pada kepentingan ekonomi.

Dan inilah yang hendak diterapkan di negeri Muslim terbesar di dunia, khususnya di kalsel yang menjadi awal mula persebaran Islam di Kalimantan. Melepas Islam sebagai ide dalam pengambilan kebijakan termasuk dalam mengurus negara dan pemerintahan. Tetapi justru sebaliknya, mengambil kapitalisme sebagai ide dalam mengatur pemerintahan.

New Normal nampaknya memang bagaikan sebuah harapan. Tetapi apakah pantas mulai mencari solusi mengatasi kesulitan akibat pandemi ketika sudah menyelam dalam keadaan basah ketika awal penyebaran virus negara tidak berinisiatif melakukan lockdown yang berdasarkan pada syariat Islam di zona-zona merah. Masalahnya disini, hingga terjadi penyebaran virus yang pesat karena sudah sejak awal terjadinya kelalaian, dan kebijakan antara pusat dan daerah yang juga tidak sinkron, hingga pemerintah daerah harus menaati kebijakan pemerintah pusat terkait karantina wilayah (kompas.com, 30/03/2020). Juga sementara ini angka positif covid-19 masih terus bertambah.

Sejatinya saat wabah belum menunjukkan berhenti, pemerintah harus terus berupaya keras menemukan obat penyembuhnya. Karantina pun harus tetap dilakukan sampai wabah berhenti. Dan seluruh kebutuhan rakyat tetap ditanggung pemerintah. Namun sayang, peran negara seperti inilah yang sekarang hilang dalam kehidupan kita. Sebab negara bertumpu pada Kapitalisme yang menjadikan asas manfaat sebagai sandarannya, dan materi sebagai tujuannya. Sehingga nasib rakyat bukan menjadi urusan yang utama.

Dalam Islam, khilafah menangani pandemi berdasarkan ajaran Nabi SAW yaitu menerapkan lockdown bagi kawasan zona merah. Melakukan isolasi, mencari vaksin, pengobatan dan perawatan terbaik bagi yang terpapar sampai mereka sembuh, menjaga yang sehat agar tidak tertular wabah, pun memberi apresiasi pada nakes yang melayani dan berjuang untuk pasien.

Negara dalam Islam betul-betul memperhatikan atas kehidupan dan urusan rakyatnya. Sebab satu nyawa saja hilang sebab kelalaian negara bagai membunuh seluruh nyawa. Dan apa yang dipimpinnya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT kelak di hari akhir, maka dengan sangat berhati-hati mengambil kebijakan bahkan harus berdasarkan pada syariat Islam yang diturunkan oleh Allah, tidak mengambil hukum buatan manusia dan membuat hukum sendiri.

“Imam/Khalifah adalah pengurus dan ia bertanggung jawab terhadap rakyat yang diurusnya”. (HR Muslim dan Ahmad).

Sungguh Islam yang selama ini kita anggap hanya sebagai pengatur ibadah spiritual belaka ternyata juga menjadi solusi di tengah masyarakat bukan hanya bagi pemeluknya saja namun bagi alam seluruhnya, “rahmatan lil ‘aalamiin”. Maka tinggal kita mau mengambilnya, mengabaikan, atau malah memusuhi pengemban dakwah Syariah. Semua pilihan tersebut akan kita pertanggungjawabkan juga kelak di hadapan Allah SWT mau menjadi pejuang, penonton, atau pemerang/pembenci. Wallahu’lam bishshowab.

loading...
Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya