Keteladanan Ismail dan Semangat Berkurban

Oleh : Ismail Wahid
Pengamat Sosial dan Keagamaan

Hari raya Idul Adha atau yang juga sering disebut sebagai Hari Raya Kurban kembali menyegarkan ingatan betapa pentingnya peristiwa sejarah. Nabi Iberahim diuji oleh Allah untuk menyembelih putranya Ismail dengan pedang dan tangannya sendiri. Peristiwa ini digambarkan Allah dalam Alqur’an : “Hai anakku. Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu”. (QS. Ash-Shaffat : 102).

Ismail adalah satu-satunya anak kesayangan yang dimiliki Ibrahim, ia sangat dicintai, sibuah hati belahan jantung, penerus sejarah. Ketika anak ini sedang Lucu-lucunya turun perintah Allah untuk menyembelihnya, bukan main hancur luluh hati Iberahim. Dahulu kata Tuhan, sebelum kau punya anak, kamu cinta kepada-Ku, sekarang sejarah membuktikan mana besarnya cintamu kepada-Ku atau cintamu kepada anakmu. Dalam suasana pikiran yang sedang kalut dan tak menentu ini, Nabi Ismail memberikan jawaban sebagaimana disebutkan dalam Alqur’an : “Hai Bapakku. Kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. (QS. Ash-Shaffat : 102).

Tat kala keduanya telah berserah diri dan Iberahim membaringkan anaknya, konon menurut Asy-Syekh Usman bin Hasan bin Ahmad Al-Khudawi, ia lukiskan cerita penyembelihan itu sebagai detik-detik yang penuh ketegangan. Di mana iblis laknatullah melakukan peran penting dalam usaha menggagalkan pengabdian hamba kepada Allah SWT.

Di pagi hari, 10 Dzulhijjah, Hari Raya Kurban, maka Iberahim As memohon kepada isterinya untuk membenahi anaknya sebaik mungkin, menghiasi serta menyisir rambutnya serta memandikannya dengan sempurna. Setelah pembenahan terhadap Ismail selesai, Iberahim lalu mengambil sebilah pisau dan seutas tali dan pergilah mereka menuju Mina. Disaat itulah iblis berusaha menggagalkan pengabdian Iberahim. Usaha pertama yang

dilakukan iblis adalah menggoda ibu Ismail, Siti Hajar. “Kenapa engkau ini, hai Hajar, enak-enak di rumah tanpa berbuat apa apa terhadap anakmu, Ismail, Padahal suamimu mempunyai maksud jahat ingin menyembelih Ismail”. Dengan spontan Siti Hajar menjawab “Mana mungkin seorang ayah akan membunuh anaknya, apalagi anak tunggalnya”. Kemudian iblis memberikan penjelasan, Iberahim telah membawa pisau dan tali, berarti itu untuk mengikat dan menyembelihnya. Siti Hajar menjawab, “Aku sendiri tidak percaya, kalau hal demikian dilakukan berarti itu suatu hal yang penting”. Lalu berkata iblis, “Iberahim itu memenuhi perintah Allah”. “Kalau memenuhi perintah Allah, jangankan anakku Ismail, aku sendiri siap dikorban,” ujar Siti Hajar kepada iblis. Usaha kedua Iblis mendatangi

Iberahim, iblis mengatakan bahwa mimpi Iberahim hanya bunga tidur, namun Iberahim tetap pendiriannya untuk mentaati perintah Allah untuk mengorban kan anaknya Ismail dan bujuk rayu iblispun gagal. Usaha ketika ibliS adalah dengan menakut-nakuti Ismail, yaitu agar Ismail lari dari Bapaknya Iberahim, namun Ismail mantap dan pasrah untuk tetap taat kepada Allah. Karena iblis terus menggoda, maka Iberahim memerintahkan kepada

anaknya Ismail untuk melontar iblis itu dengan batu. Dan inilah yang menjadi wajib haji untuk melontar lumrah di Mina.

Diganti Seekor Kibas

Dengan keyakinan dan ketaatan kepada Allah, Iberahim dan Ismail siap melakukan perintah Allah Di saat Ismail sudah siap disembelih, mulailah Iberahim menggoreskan pisau ke leher anaknya Ismail, di saat itulah atas perintah Allah Jibril turun membawa seekor kibas dari surga. Lalu Ismail diganti dengan seekor kibas dan akhirnya keluarlah darah menyirami

Tanah Mina pada hari ke 10 Dzulhijjah. Dan inilah yang menjadikan umat Islam sejak zaman Nabi Muhammad SAW sampai sekarang dan akhir zaman nanti, disunnat mu’akadkan untuk melakukan ibadah kurban.

Berita Lainnya
1 dari 151
Loading...

Keberhasilan Iberahim dan Ismail menempuh ujian yang sangat berat itu, tak lain karena adanya kekuatan iman dan ketulusan hati untuk mengabdi kepada Allah dan tak ada keraguan sedikitpun di hati Iberahim. Sehingga Iberahim pantas menerima pujian dan salam dari Allah SWT sebagaimana firman dalam Alqur’an : “sungguh ini suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus (Ismail itu) dengan binatang korban yang mulia. Dan Kami abadikan baginya sebutan yang baik di antara orang-orang yang datang kemudian hari, salam sejahtera atas Iberahim. Demikianlah Kami memberikan ganjaran kepada orang yang berbuat kebaikan”. (QS. Ash Shaffat : 106-11).

Dalam suasana Idul Adha ini, bagi orang-orang yang mampu berkorban,

laksanakanlah ibadah qurban, demi mencontoh sikap dan ibadah yang dilakukan Nabi Iberahim As. Sebagaimana Firman Allah SWT : “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak, maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu. Dialah yang terputus”. (QS. Al Kautsar : 1-3)

Sebagai wujud rasa syukur atas nikmat dan rezeki yang diberikan Allah, hendaknya kita laksanakan perintah berkorban dengan penuh keimanan dan keikhlasan dan jangan sekali kali berniat untuk tidak berkurban sementara kita punya kemampuan, sebagaimana yang ditandaskan Rasulullah SAW : “Barangsiapa yang ada kelapangan baginya (untuk berkurban) dan

dia tidak melaksanakannya, maka janganlah ia menghampiri tempat shalat kami”. (Ahmad Ibnu Majah)

Bekal Menuju Akherat

Betapa banyak sekarang orang yang mampu, tetapi sulit mengeluarkan hartanya untuk berkurban, orang ini telah dirasuki bujuk rayu setan agar menjauhkan diri dari jalan Allah. Harta yang seharusnya berfungsi sebagai alat untuk beribadah, tidak berfungsi untuk mendorongnya untuk berbuat baik. Sikap cinta harta inilah yang ingin dikikis oleh konsep ajaran tauhid dalam sistem keimanan yang diajarkan Islam seperti tentang zakat, sedekah, puasa, maupun ibadah kurban yang dilaksanakan. Ibadah kurban adalah manifestasi dari wujud kemerdekaan jiwa kita dari ikatan harta, sehingga jiwa menjadi suci dan merdeka untuk berjalan menuju rida Allah. Darah dan daging kurban yang diserahkan hanyalah sebagai perlambang dari kesucian jiwa. Oleh karena itulah, Islam mengatakan bahwa bukan

darah dan daging itu sesungguhnya yang menjadi penilaian Allah, tetapi niat, keikhlasan dan kepatuhan itu yang menjadi penilaian Allah, sebagaimana firman-Nya : “Bukanlah dagingnya dan bukan pula darahnya yang sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya ialah pengadianmu”. (QS. Al-Hajj : 37)

Ibadah kurban yang dilaksanakan itu punya makna dan nilai pahala yang besar. Dalam sebuah hadist Rasululah SAW bersabda : “Kurban itu untuk orang yang membuatnya dan akan dibalas Allah setiap helai bulunya satu kebaikan”.

Ibadah kurban itu untuk mendidik setiap muslim untuk mengorbankan hartanya membantu saudara-saudara yang kebetulan hidup dalam kepapaan, daging-daging kurban itu di bagi kepada fakir miskin, sehingga terjalin persaudaraan yang kokoh sesama muslim. Islam mengajarkan agar setiap orang memperhatikan derita orang lain. Oleh karena itulah selagi umur masih ada, pergunakanlah kesempatan yang baik ini untuk memperbanyak

ibadah kurban atau melakukan pengorbanan sebagai bekal persiapan di akherat nanti. Harta kekayaan yang kita miliki, isteri yang cantik, anak tersayang, pangkat dan kedudukan, semua itu tidak dapat dibawa ketika meninggal dunia, kecuali amal shaleh yang menjadi bekal untuk alam akhirat kelak.

loading...
Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya