Ibu, Engkaulah Surgaku

Oleh : Normaliana, S. Pd

Bulan Desember menjadi salah satu bulan yang diistimewakan untuk para Ibu di Indonesia. Pasalnya di bulan ini, tepatnya pada tanggal 22 Desember sudah lumrah diperingati sebagai Hari Ibu. Tahun ini Peringatan Hari Ibu (PHI) ke-92 tahun ini jatuh pada hari Selasa, 22 Desember 2020 dengan mengusung tema “Perempuan Berdaya Indonesia Maju”. Peringatan Hari Ibu diadakan sebagai bentuk penghargaan terhadap peran ibu khususnya di keluarga.

Dan dalam rangka memperingati momen hari ibu nasional, pastinya akan selalu dilalukan dengan berbagai cara, seperti memberikan bingkisan spesial, membantu meringankan pekerjaan rutin ibu dan tak lupa yang paling mudah dilakukan adalah sekedar memberikan ucapan yang membuat seorang ibu bisa bahagia dengan perannya.

Sejarah Hari Ibu di Indonesia berawal dari berkumpulnya para wanita pejuang yang mengadakan Kongres Perempuan di Yogyakarta pada 22 sampai 25 Desember 1928. Para pahlawan perempuan abad 19 yang telah mendirikan organisasi-oraganisasi perempuan semenjak tahun 1912 telah membentuk Kowani (Konggres Wanita Indonesia) pada tanggal 22 Desember 1912. Kemudian pada tanggal 22 Desember melalui Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959 ditetapkan bahwa pada tanggal 22 Desember menjadi Hari Ibu dan dirayakan secara nasional sampai saat ini. Di Indonesia, hari ibu merupakan sebuah perayaan untuk mengingat semangat para pejuang perempuan Indonesia. Perempuan-perempuan yang dimaksud bisa seorang Ibu, istri yang belum memiliki anak atau belum menjadi seorang ibu maupun (tidak akan) menjadi ibu. Akan tetapi haruskah hari Ibu diperingati setiap setahun sekali? Dan sebagai seorang muslim apakah memang perlu memperingati hari ibu?

Hari Ibu Setiap Hari, Bukan Setahun Sekali

Ibu adalah cinta abadi, cinta yang luar biasa, sosok yang benar-benar peduli dan mampu membantu bahkan menguatkan kita dalam menghadapi setiap masalah.

Ibu, adalah segalanya bagi suami dan anak-anaknya, karena keberadaan seorang ibu laksana mentari yang tak kenal lelah menyinari dunia ini, ibu bagaikan rembulan yang mampu memberi cahaya dimalam gelap gulita . Sungguh kasih ibu tiada tara sepanjang masa yang akan selalu abadi selamanya.

Berbakti kepada orang tua khususnya kepada seorang ibu memang telah dianjurkan oleh syara’, karena sosok seorang ibu sangat besar jasanya bagi anak-anaknya melebihi seorang ayah. Ibu, adalah wanita yang mulia, derajatnya tiga tingkat dibanding ayah, jasa seorang ibu tak akan pernah bisa dinilai dengan apapun sekalipun dengan emas permata bahkan dunia dan isinya, tak akan pernah bisa terbayar lunas untuk menghargai pengorbanan dan jasa seorang ibu. Ibu adalah struktur dalam hidup kita. Surga anak-anaknya terletak dibawah kakinya.

Menurut Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, seorang ibu lebih berhak untuk senantiasa dihormati sepanjang tahun, daripada hanya satu hari saja, bahkan seorang ibu mempunyai hak terhadap anak-anaknya untuk dijaga dan dihormati serta ditaati di setiap waktu dan tempat selama bukan dalam kemaksiatan terhadap Allah SWT.

Syaikh Musthofa Al ‘Adawi, seorang ulama besar dari negri Mesir berpendapat : “Dalam syari’at kita tidak ada peringatan tentang hari Ibu. Akan tetapi kita diperintahkan untuk selalu berbakti pada kedua orang tua kita. Dan berbakti kepada ibu itulah yang lebih utama”. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW ketika ditanya siapakah yang lebih utama untuk kita berbuat baik. Beliau SAW menjawab, “Ibumu, ibumu, ibumu, lalu bapakmu”.

Para ulama mengatakan bahwa ibu lebih diutamakan dibanding ayah karena keletihan yang dia alami, curahan perhatiannya pada anak-anaknya, dan pengabdiannya.

Berita Lainnya
1 dari 202

Ibulah yang telah dengan susah payah mengandung selama 9 bulan, kemudian saat akan melahirkan juga harus rela berkorban untuk mempertaruhkan nyawa bertarung dengan maut, dan saat anaknya sudah selamat lahir kedunia perjuangan ibu tetap terus dilalukan dengan terus menyapih dan menyusui anaknya selama 2 tahun, kemudian mengajarkan dan mendidik anak-anaknya sampai dewasa agar tumbuh kembang menjadi pribadi-pribadi yang unggul berguna bagi orang tua, agama dan bangsa.

Allah SWT berfirman : “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku lah kembalimu”. (QS. Lukman : 14).

Sehingga sudah seharusnya pemuliaan kepada seorang ibu itu dilakukan setiap hari setiap saat dan selamanya, bukan hanya satu hari saja yang dilakukan pula hanya setahun sekali.

Pandangan Islam Tentang Perayaan Hari Ibu

Hari Ibu adalah hari peringatan atau perayaan terhadap peran seorang ibu dalam keluarganya, baik untuk suami, anak-anak, maupun lingkungan sosialnya. Perayaan biasanya dilakukan dengan membebas tugaskan ibu dari rutinitas domestik sehari-hari seperti memasak, mencuci, beres-beres rumah, mengurus anak, dan urusan rumah tangga lainnya.

Memang, tidak ada yang salah untuk mengingat jasa atas kemuliaan seorang Ibu. Tapi, jika yang diperingati pada peringatan hari ibu adalah membebas tugaskan ibu dari tugas domestik yang sehari-hari dianggap merupakan kewajibannya, seperti memasak, merawat anak, dan urusan rumah tangga lainnya, maka ini pun merupakan hal yang keliru. Karena berbaktinya istri pada suami dalam mengurus rumah tangga adalah suatu kewajiban dalam tuntunan agama. Bagaimana kewajiban ini dilalaikan hanya karena ada peringatan hari ibu? Padahal istri yang taat dan berbakti kepada suami adalah sebaik-baiknya wanita ahli surga.

Perayaan hari ibu bukanlah budaya Islam. Perayaan hari ibu hanyalah mengikuti budaya orang-orang kafir. Karena Dalam Islam hanya ada dua hari raya yaitu hari hari Idul Fitri dan Idul Adha.

Perayaan hari ibu tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW, para sahabat  dan para imam salafus shalih. Perayaan ini adalah sesuatu yang diada-adakan dan menyerupai orang kafir (tasyabbuh). Nabi Muhammad SAW bersabda : “Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak pernah kami tuntunkan, maka amalan itu tertolak”.

Kemudian dari Ibnu ‘Umar, bahwa Nabi SAW pernah bersabda : “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka”. (HR. Abu Daud).

Di dalam kitab Sunan juga terdapat hadist yang senada, yakni: “Bukan termasuk golongan kami yaitu siapa saja yang menyerupai (meniru-niru) kelakukan selain kami. Janganlah kalian meniru-niru Yahudi, begitu pula Nashrani”. (HR. Tirmidzi).

Jadi, lupakan perayaan hari ibu tapi taatlah selalu kepada ibu setiap saat selama tidak dalam perkara maksiat kepada Allah SWT, tanpa syarat tanpa momen yang bertentangan dengan syari’at. Wallahu’alam bisshowab.

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
loading...

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya