Cinta Produk Dalam Negeri Jadilah Bangsa Mandiri

Oleh : Anton Kuswoyo, S.Si, MT
Wakil Direktur Politeknik Negeri Tanah Laut, Ketua DPD LDII Kabupaten Tanah Laut

Presiden Joko Widodo baru-baru ini mencetuskan gagasan “Cinta Produk Dalam Negeri, Benci Produk Luar Negeri”. Gagasan ini tentu tujuannya baik, agar masyarakat lebih memilih produk-produk dalam negeri sehingga UMKM dan industri dalam negeri bisa survive.

Namun pertanyaan yang hingga kini masih menggelitik ialah mengapa selama ini kita cenderung memilih produk luar negeri? Ini menarik untuk dibahas, sebelum membahas cinta produk dalam negeri benci produk luar negeri.

Dari berbagai sumber diketahui bahwa 10 komoditas yang paling banyak diimpor tahun 2020 yaitu mesin, perlengkapan elektrik, plastik, besi, bahan kimia organik, kendaraan (mobil dan motor), serealia, berbagai produk kimia, ampas/sisa industri makanan, dan perangkat optik.

Selain itu, berbagai kebutuhan bahan pokok juga masih mengandalkan impor hingga saat ini, sebut saja beras, jagung, kedelai, bawang putih, daging sapi/kerbau, dan gula pasir. Dalam bidang kesehatan dan farmasi, juga masih mengandalkan impor sebanyak 80-85 persen.

Jika dikelompokkan, setidaknya ada tiga kelompok besar yang masih impor hingga saat ini, yaitu produk-produk manufaktur, pertanian dan peternakan, dan produk farmasi. Harus jujur diakui, sampai saat ini masih belum mampu mencukupi ketiga kelompok kebutuhan tersebut.

Dalam bidang manufaktur misalnya, masih sangat kekurangan industri logam, kimia, dan elektronika. Wajar jika sampai saat ini mesin-mesin pertanian diimpor dari Jepang dan China, bahan plastik dan kimia organik masih impor dari China, elektronika juga masih impor dari China, Singapura, Jepang, Thailand, dan Korea.

Kembali ke pertanyaan awal, mengapa impor? Jawabannya adalah karena belum mampu memproduksi sendiri berbagai barang-barang tersebut di dalam negeri. Kalaupun mampu, biaya produksinya jauh lebih mahal dan kualitasnya tidak lebih baik daripada produk luar negeri. Dua hal inilah masalah utamanya.

Berita Lainnya

Perempuan dan Clash of Civilizations

PKKM dan Implementasinya

1 dari 231

Maka gerakan cinta produk dalam negeri dan benci produk luar negeri harus dibarengi dengan ketersediaan produksi dalam negeri. Ketersediaan berbagai produk yang dibutuhkan masyarakat harus ada dulu di dalam negeri, dengan kualitas dan kuantitas yang setara dengan produk luar negeri. Selama kualitas dan kuantitas masih belum terpenuhi, akan sulit untuk membenci produk luar negeri.

Harus jujur diakui, di bidang industri manufaktur masih kalah jauh dengan China, Jepang, dan Korea. Pertama kalah usia, mereka sudah merintis industri manufaktur sejak puluhan tahun lalu. Sehingga tentu saja saat ini sudah sangat mapan dan maju. Kedua kalah teknologi. Tidak dapat dipungkiri peran teknologi sangat menentukan maju tidaknya sebuah industry. Tentu saja untuk mengejar ketertinggalan di bidang industri manufaktur, diperlukan kerja keras secara terus menerus dan jangka waktu yang lama.

Baiklah, katakanlah tidak mampu bersaing dalam hal industri manufaktur, maka semestinya bisa unggul dalam hal pertanian, peternakan dan perikanan. Bukankah dari zaman nenek moyang dikenal sebagai negeri agraris dan maritim? Negara pertanian sekaligus negara kelautan. Harusnya pertanian di Indonesia lebih unggul daripada China, Vietnam, dan Thailand. Paling tidak mampu memenuhi kebutuhan pangan dari hasil pertanian dalam negeri.

Di ketiga negara tersebut, pertaniannya sudah menerapkan teknologi dan sistem pertanian modern. Pertaniannya juga dikelola secara komunal/industri, bukan perorangan. Dikelola secara modern, bukan konvensional. Lembaga-lembaga riset pertaniannya juga sangat maju, menghailkan berbagai benih unggul. Alhasil, dengan lahan lebih sempit, waktu lebih singkat, dihasilkan hasil panen lebih banyak dan lebih unggul. Sehingga harganya pun jauh lebih murah. Tidak heran jika kenyataannya beras impor harganya jauh lebih murah daripada beras dalam negeri.

Indonesia mestinya bisa mengejar ketertinggalan itu, dengan membangun pertanian sistem industri yang menerapkan teknologi. Apalagi negara kita dikenal tanah surga, yang artinya tanahnya sangat subur. Pemerintah melalui Kementerian Pertanian harus bisa menjadikan negara swasembada pangan, sehingga tidak ada lagi impor beras, jagung, kedelai, dan gula putih.

Di bidang maritim, laut juga luas, bahkan 2/3 dari seluruh wilayah Indonesia adalah lautan. Sektor perikanan dan kelautan harus ditangani serius, agar menjadikan keunggulan negara. Termasuk juga kedaulatan laut perlu diperkuat agar jangan sampai ikan-ikan dicuri oleh nelayan asing.

Maka sejatinya, gerakan cinta produk dalam negeri benci produk luar negeri adalah upaya untuk menjadi bangsa yang mandiri. Mampu memproduksi sendiri, mampu menghasilkan sendiri. Sehingga tidak bergantung pada produk luar negeri. Tentu tidak harus semua bidang dikuasai, tetapi harus ada satu atau beberapa bidang yang kita kuasai. Pertanian, peternakan, dan perikanan, misalnya. Setidaknya harus mandiri di bidang pertanian, peternakan dan perikanan. Hal ini karena SDA di ketiga sektor tersebut jauh lebih unggul daripada negara-negara lainnya di dunia. Selain itu, ketiga sektor tersebut juga merupakan kebutuhan pokok dalam hidup umat manusia, yaitu kebutuhan pangan.

Pada akhirnya, jika mampu menjadi bangsa yang mandiri, kita tidak lagi tergantung pada produk luar negeri. Dengan sendirinya akan mencintai produk dalam negeri. (*)

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
loading...

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya