Bahaya Propaganda Doa Bersama Lintas Agama

Oleh : Nor Faizah Rahmi, S.Pd.I
Praktisi Pendidikan & Pemerhati Remaja

Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas meminta setiap acara yang berlangsung di Kementerian Agama (Kemenag) juga memberikan kesempatan kepada agama lain dalam mengisi doa dan tidak hanya doa untuk agama Islam saja. Pernyataan itu disampaikan Yaqut saat membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Kemenag secara daring dan luring yang berlangsung mulai Senin hingga Rabu. (antaranews.com, 5/4/2021)

Ia ingin agar Kemenag menjadi rumah bagi seluruh agama yang ada di Indonesia, melayani dan memberikan kesempatan yang sama. Bahkan ia menyebut pembacaan doa untuk agama tertentu saja, tak ubahnya seperti acara organisasi kemasyarakatan. “Jadi jangan ini kesannya kita ini sedang rapat Ormas kegiatan agama, Ormas Islam Kementerian Agama. Kita sedang melakukan Rakernas Kementerian Agama yang di dalamnya bukan hanya urusan agama Islam saja,” kata dia.

Yaqut menjelaskan, pembacaan doa lintas agama didasari karena Kementerian Agama tidak hanya menaungi satu agama saja. Tetapi semua agama yang ada dan diakui di Indonesia (kumparan.com, 7/4/2021). Ia mengatakan, hal ini masih sebatas saran internal. “Itu kan bersifat internal, di lingkungan Kemenag. Itu pun hanya untuk kegiatan berskala besar seperti dapat besar seperti Munas (musyawarah nasional),” kata Gus Yaqut itu usai mengisi seminar pemikiran di UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung Jawa Timur, dikutip dari Antara, Rabu (7/4).

Yaqut menegaskan bahwa Kemenag harus menjadi contoh dalam menjunjung tinggi moderasi agama. Ia tidak ingin Kemenag yang menggembar-gemborkan moderasi beragama, namun pada praktiknya berseberangan. “Jadikan lebih enak dilihat jika semua agama yang menjadi urusan sama-sama menyampaikan doanya. Ini otokritik, jangan sampai muncul paradoks. Jadi kita ingin kementerian ini melayani semua agama, tetapi dalam prilaku kita tidak mencerminkan itu,”

Sementara dalam forum seminar pemikiran di hadapan ratusan dosen alumni PMII di UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Gus Yaqut mencontohkan kegiatan munas di lingkungan Kemenag selalu diawali dengan pembacaan doa bersama secara Islam. Menurut dia, tujuan dari pembacaan doa adalah memohon keselamatan kepada Allah SWT agar pegawai di lingkungan Kemenag dijauhkan dari perbuatan munkar dan korupsi.

“Orang yang ingat dengan Tuhannya, dia tidak akan berani ‘ngutil’ (mencuri/korupsi),” kata Gus Yaqut. Maka dari itu, doa lintas agama itu dimaksudkan sebagai pengingat agar masing-masing umat di lingkup Kemenag tidak melakukan tindak pidana korupsi. “Supaya juga tidak ada kesan yang berpotensi korupsi itu (pegawai) yang beragama Islam saja. Asumsi saya, orang yang ingat kepada Tuhannya, maka dia tidak akan korupsi,” kata Gus Yaqut.

Makna toleransi dalam Islam sudah jelas yaitu “lakum diinukum wa liyadiin” (bagimu agamamu, bagiku agamaku). Artinya kita memahami bagaimana syariat bagaimana syariat orang nonmuslim seperti apa, bukan mengakui (kebenarannya). Sebab, telah jelas dalam ajaran Islam bahwa “innaddiina indallahil Islam” artinya sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah Swt. hanyalah Islam. Agama selain Islam jelas batil.

Toleransi dalam Islam dimaknai dengan membiarkan orang penganut dan kepercayaan lainnya menjalankan aktivitas sesuai dengan keyakinan mereka, bukan membenarkannya.

Dalam urusan muamalah dengan masyarakat nonmuslim, kita tetap menghargai mereka dan menjalankan kewajiban kita dalam bermuamalah sebagaimana mestinya.

Toleransi tidak harus kita berdoa bersama-sama dengan orang nonmuslim dan saling mengamini doa masing-masing, karena dalam aktivitas doa bersama lintas umat beragama, tampak sekali sinkretisme, yaitu proses perpaduan yang sangat beragam dari beberapa pemahaman kepercayaan atau aliran-aliran agama. Ini jelas aktivitas yang tertolak/batil menurut Islam. Syariat Islam tidak membenarkan aktivitas mencampuradukkan kebenaran ajaran Islam dengan ajaran agama yang lain yang jelas salah.

Islam mengajarkan kita untuk menjaga kemurnian akidah. Kita diajarkan untuk berhati-hati dalam setip beraktivitas, termasuk dalam persoalan doa bersama lintas umat beragama ini. Narasi tentang moderasi agama berkembang sejak beberapa tahun ke belakang hingga sekarang. Narasi ini kemudian digaungkan kembali oleh Kemenag RI karena beberapa kejadian yang dianggap radikal seperti terorisme.

Berita Lainnya

Menjadi Pejuang Anti Hoax

Peran Digital Native pada Digital Leadership

1 dari 330

Kata moderasi berasal dari bahasa Latin ‘moderâtio’, yang berarti sedang. Maksud sedang di sini ialah tidak kelebihan dan tidak kekurangan. Secara bahasa menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istilah moderasi berakar dari kata sifat “moderat” yang berarti selalu menghindarkan perilaku atau pengungkapan yang ekstrem. Kata moderasi dalam bahasa Arab diartikan “al-wasathiyyah”. Secara bahasa, “al-wasathiyyah” berasal dari kata “wasath” artinya berada di tengah-tengah.

Konsep Islam moderat versi Barat seperti yang diungkapkan oleh Daniel Pipes, Presiden Middle East Forum (Forum Timur Tengah), bahwa Islam moderat harus digaungkan untuk mengakhiri terorisme. Islam moderat menurutnya adalah sarana kontraterorisme yang efektif. Moderasi beragama dengan konsep Islam moderat versi Barat sangat erat kaitannya satu sama lain, perbedaannya sangat tipis bahkan hampir tak terlihat.

Seorang muslim wajib bersikap hati-hati atas berbagai propaganda sesat yang menyatakan bahwa “semua agama adalah baik”, “kebersamaan antaragama,” serta “doa bersama beda agama atau doa lintas agama”. Semua slogan dan propaganda tersebut bertujuan untuk menyesatkan umat Islam dengan memberikan simpati kepada agama Nasrani dan Yahudi. Lebih jauh lagi, hal itu dapat mendangkalkan pengetahuan umat Islam tentang Islam yang hak.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) pun telah menetapkan fatwa tentang doa bersama yang terbagi dalam enam poin. Pertama, doa bersama yang dilakukan muslim dan nonmuslim tidaklah dikenal dalam Islam, karena hal itu termasuk bid’ah. Kedua, doa bersama dalam bentuk setiap pemuka agama berdoa secara bergiliran, maka seorang muslim haram mengikuti dan mengamini doa yang dipimpin nonmuslim, sebab mengamini sama dengan berdoa. Menurut MUI, muslim yang mengamini doa yang dipanjatkan oleh nonmuslim dapat terkategori kafir atau musyrik. Ketiga, doa bersama dalam bentuk muslim dan nonmuslim berdoa secara serentak (misal, mereka membaca teks doa bersama-sama), hukumnya adalah haram. Sebab, doa seperti itu dipandang telah mencampuradukkan antara ibadah yang hak dan ibadah yang batil. Keempat, doa bersama dalam bentuk seorang nonmuslim memimpin doa. Dalam perkara ini, seorang muslim haram mengikuti dan mengamininya. Kelima, doa bersama dalam bentuk seorang tokoh Islam memimpin doa. Doa bersama seperti ini hukumnya mubah. Keenam
, doa dalam bentuk setiap orang berdoa menurut agama masing-masing, hal ini hukumnya juga mubah.

Kehidupan dalam sistem demokrasi sekuler terus menggerus keimanan umat Islam. Pluralisme dan sinkretisme makin dipupuk dan terus dideraskan. Opini moderasi Islam makin dikembangkan ke seluruh penjuru, termasuk kurikulum pendidikan. Semua ini berdampak pada rapuhnya akidah umat.

Bagi siapa pun yang meyakini kebenaran agama Islam, tentu hatinya akan mudah menerima syariat agama yang mulia ini. Namun sebaliknya, jika hati masih berat mengerjakan syariat, bisa jadi ada penyakit hati yang meliputi. Akidah Islam merupakan sebuah pemikiran bagi suatu perkara yang menjadi pijakan dasar ketika manusia akan melakukan perbuatan di dunia. Jika akidahnya rusak, rusak pula kehidupan umat yang akan menjerumuskannya ke dalam lembah dosa. Alih-alih menjaga akidah umat, sistem demokrasi sekuler justru menghancurkannya.

Harus diwaspadai, jangan sampai umat akhirnya meragukan agamanya sendiri dan membenarkan bahwa Islam ialah agama yang sama dengan yang lainnya. Inilah pluralisme, yang juga membenarkan paham sinkretisme (mencampuradukkan semua agama) dan berujung kepada lahirnya muslim yang liberal. Bagi seorang muslim, tentu kita akan berbuat sesuai hukum Islam, senantiasa menjalani perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Salah satunya, kita wajib beriman dan taat kepada firman Allah SWT, “Dan janganlah kamu campur adukkan kebenaran dengan kebatilan, dan janganlah kamu sembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahuinya”. (QS. Al-Baqarah: 42)

“Sesungguhnya agama yang diridai di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS Ali Imran: 19)

Satu alasan kuat bagi kita sebagai muslim untuk tidak menyamakan semua agama atau berdoa bersama beda agama, adalah bahwa Islam satu-satunya agama yang diridai Allah. Kita tidak akan menghinakan agama ini dengan terlibat dalam perkara yang bertentangan dengan syariat-Nya. Umar bin Khaththab ra. pernah berkata, 

“Kami dahulu adalah kaum yang paling hina, maka Allah memuliakan kami dengan Islam. Selama kami mencari izzah (kemuliaan) dengan selain Islam, maka Allah akan menghinakan kami.” (Diriwayatkan Al-Hakim dalam Mustadrak-nya, 1/130)

Sistem demokrasi sekuler telah nyata merusak sendi-sendi kehidupan manusia, bahkan mengancam akidah umat. Makin banyak pemimpin yang menceburkan diri ke dalam sistem rusak ini, hingga membenarkan dan menghalalkan apa yang telah diharamkan dalam Islam. Mereka seolah tidak khawatir atau takut atas dosa dan siksa-Nya.

Apabila umat Islam mendiamkan segala bentuk kerusakan dan kemaksiatan yang dilakukan oleh pemimpinnya, kondisi umat akan terus terpuruk dan hina di hadapan Allah SWT. Umat tidak akan pernah menjadi khairu ummah (sebaik-baik umat) sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an. Oleh karenanya, butuh perjuangan bersama untuk mengembalikan kemuliaan umat, yakni melalui penerapan syariat dalam institusi Khilafah.

Ketika Islam diterapkan, umat makin jelas memahami mana yang haram dan halal, mana yang menyesatkan dan memuliakan. Sistem sekuler demokrasi tidak bisa berkompromi dengan syariat Islam. Tanpa sistem Islam kafah, umat Islam akan sulit menjalani kehidupan sebagai muslim yang hakiki.

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. TerimaSelengkapnya