Oleh : H AHDIAT GAZALI RAHMAN
Islam sebagai agama yang sangat lengkap dan agama yang sangat banyak dianut manusia, di Indoesia merupakan agama yang mayoritas dianut oleh warganya, menurut data yang di sampaikan Direktorat Jenderal Dukcapil Kemendagri, pada 2025 lalu, jumlah penduduk Indonesia mencapai 288,32 juta jiwa, dengan mayoritas beragama Islam sebanyak 251,26 juta jiwa (87,15%), jadi seharusnya yang bertanggungjawab banyak terhadap Negara Indonesia adalah mereka yang beragama Islam. I
slam sangat mengedepankan tanggungjawab ini, sehingga orang yang bertanggungjawab bukan hanya mendapat kedudukan di dalam dunia ini, tapi juga mereka akan mendapatkan hal-hal kebaikan di akhirat nanti, jika mereka melakukan tanggung jawab yang benar sesuai dengan apa yang dianjurkan agama Islam. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT, “Wahai Daud, sesungguhnya Kami menjadikanmu khalifah (penguasa) di bumi.
Maka, berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan hak dan janganlah mengikuti hawa nafsu karena akan menyesatkan engkau dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari Perhitungan”. (QS. Shad : 29).
Dan dalam sebuah hadist Rasulullah SAW bersabda, “Kalian semuanya pemimpin (pemelihara) dan bertanggung jawab terhadap rakyatnya. Seorang raja adalah pemimpin bagi rakyanya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya. Seorang suami memimpin keluarganya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya.
Seorang ibu memimpin rumah suaminya dan anak-anaknya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya. Seorang hamba (buruh) pemimpin harta milik majikannya akan ditanya tentang pemeliharaannya. Camkan bahwa kalian semua adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawaban tentang kepemimpinannya”. (Bukhari).
Pemimpin yang bertanggungjawab adalah sosok yang memiliki peran penting dalam setiap masyarakat dan organisasi. Dalam Islam, pemimpin disebut ulul amri yang memiliki tugas, kewajiban, dan tanggung jawab yang sangat besar terhadap umatnya. Sehingga seorang pemimpin diminta untuk mempertanggungjawabkan apa yang telah dilakukan terhadap mereka yang dipimpimnya, seorang ibu rumah tangga akan ditanya apa yang dikerjakan dalam menyiapkan anaknya, seorang bapak sebagai kepala keluarga akan ditanya apa yang diperbuatkan sehingga rumah tangganya sangat baik atau sebaliknya.
Seorang pimpinan organisasi, daerah lembaga Negara hingga organisasi dunia akan diminta pertanggungjaban apa yang telah dikerjakannya demi kemajuan, kenyamanan, keluarga, organisasi, daerah, lembaga hingga Negara, bagi mereka yang melakukan sesuai dengan prinsip yang diajarkan dan tidak bertentangan agama yang dia anut pasti akan mendapatkannya, sebagaimana hadis Nabi Muhammad SAW, “Ada tujuh (golongan orang berimannya, se) yang akan mendapat naungan (per lindungan) dari Allah dibawah naunganNya (pada hari kiamat) yang ketika tidak ada naungan kecuali naunganNya. Yaitu; Pemimpin yang adil, seorang pemuda yang menyibukkan dirinya dengan ‘ibadah kepada Rabnya, seorang laki-laki yang hatinya terpaut dengan masjid, dua orang laki-laki yang saling mencintai karena Allah, keduanya bertemu karena Allah dan berpisah karena Allah, seorang laki-laki yang diajak berbuat maksiat oleh seorang wanita kaya lagi cantik lalu dia berkata, “aku takut kepada Allah”, seorang yang bersedekah dengan menyem bunyikannya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfaqkan oleh tangan kanannya, dan seorang laki-laki yang berdzikir kepada Allah dengan mengasingkan diri sendirian hingga kedua matanya basah karena menangis”. (Bukhari). Dan berlaku sebaiknya, “Tidaklah seorang hamba pun yang diberi amanah oleh Allâh untuk memimpin bawahannya yang pada hari kematiannya ia masih berbuat curang atau menipu rakyatnya, melainkan Allâh mengharamkan surga atasnya”. (Bukhari dan Muslim).
Kriteria dan konsep pemimpin yang mendapatkan hidayah menurut ajaran Islam adalah : 1. Menjalankan amanah dan keadilan. Pemimpin yang baik adalah mereka yang memandang jabatan sebagai amanah, bukan kemuliaan hawa nafsu. Pemimpin yang adil akan mendapatkan bimbingan Allah karena mereka bertindak berdasarkan syariat dan mendahulukan kepentingan rakyat; 2. Pemimpin yang alim (Berilmu). Paham agama (alim), yang membuatnya takut untuk berbuat maksiat atau menzalimi rakyatnya; 3. Tidak meminta kekuasaan. Allah akan memberikan bantuan dan hidayah kepada mereka yang tidak mengejar jabatan dengan segala cara, melainkan menerima jabatan sebagai tanggung jawab berat; 4. Didoakan oleh rakyat. Rakyat untuk mendoakan pemimpinnya agar diberikan taufik, hidayah, dan kekuatan untuk memimpin dengan baik; 5. Menggunakan hikmah dan musyawarah. Pemimpin yang memimpin dengan bijaksana (hikmah) dan selalu bermusyawarah, bukan bertindak otoriter berdasarkan keinginan pribadi.










