Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Subsidi Pendidikan Menyusut, Mahasiswa Semakin Sulit

×

Subsidi Pendidikan Menyusut, Mahasiswa Semakin Sulit

Sebarkan artikel ini

Oleh : Hikmah, S.Pd
Praktisi Pendidikan dan Pemerhati Sosial Generasi

Jauh panggang dari api sepertinya pepatah tersebut layak disematkan pada harapan negeri ini yang menginginkan generasi emas dimasa depan, akan tetapi masih banyak anak bangsa yang kesulitan mengakses pendidikan tinggi karena terhalang ekonomi. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja rakyat masih banyak yang kesusahan, apalagi untuk biaya Pendidikan sampai perguruan tinggi.

Kalimantan Post

Di tengah ekspansi daya tampung mahasiswa, sejumlah perguruan tinggi negeri berbadan hukum atau PTNBH mengalami tekanan keuangan, menyusul menurunnya tren alokasi dana dari pemerintah. Selama ini, PTNBH masih menerima Bantuan Pendanaan PTNBH dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. (www.kompas.id, 25/05/2026)

Laporan “Statistik Pendidikan Tinggi Tahun 2025” oleh Kemdiktisaintek menunjukkan angka putus kuliah di Indonesia sampai 2025 mencapai 289 ribu mahasiswa. Jumlah ini meningkat 2,62 persen dibandingkan dengan tahun 2024. Berdasarkan laporan tersebut, angka putus kuliah mayoritas terjadi pada mahasiswa perguruan tinggi swasta (PTS), yang mencapai 73,81 persen. Mahasiswa dari perguruan tinggi negeri (PTN) sekitar 17,20 persen dan dari perguruan tinggi agama 7,74 persen. Sisanya dari sekolah kedinasan sekitar 1,25 persen. (www.detik.com, 25/05/2026)

Dengan adanya subsidi saja tidak semua anak bangsa ini mengecap pendidikan sampai perguruan tinggi, apalagi dengan subsidi untuk pendidikan tinggi makin menyusut sehingga biaya kuliah makin mahal. Tentu saja kondisi ini menyebabkan banyak mahasiswa yang putus kuliah.

Minimnya subsidi pendidikan tinggi berdampak kepada makin tingginya biaya perkuliahan. Apalagi PTS yang murni pembiayaan dari mahasiswa. Rakyat kesulitan untuk kuliah karena faktor biaya, akibatnya angka putus kuliah semakin tinggi.

Sistem saat ini membuat Kampus diliberalisasi sehingga harus membiayai dirinya sendiri, pemasukan terbesar kampus adalah UKT. Kapitalisme menjadikan pendidikan sebagai komoditas sehingga diperjualbelikan. Kapitalisme menjadikan kampus sebagai mesin pencetak pekerja, tujuan kuliah hanya untuk memudahkan mencari pekerjaan. Kapitalisme juga menjadikan negara hanya berperan sebagai regulator bukan pengayom dan penjamin.

Baca Juga :  Mendengar Suara dari Jalanan

Islam memposisikan pendidikan sebagai salah satu kebutuhan dasar bagi rakyatnya dan merupakan faktor penting penentu kemajuan masyarakat dan negara. Sedangkan pendidikan tinggi sangat penting untuk membentuk generasi yang saleh dan memiliki kepakaran di bidangnya.

Dalam Islam pendidikan tidak boleh dikomersialkan. Negara berperan sebagai ra’in yang berarti penanggungjawab, penjaga, dan pelindung bagi rakyatnya. Negara wajib menyelenggarakan pendidikan bagi seluruh warga negara secara gratis dan berkualitas. Mereka diberi kesempatan seluas-luasnya dan difasilitasi serta didorong untuk melanjutkan pendidikan tinggi secara cuma-cuma. Dengan demikian, tidak terjadi putus kuliah.

Pendidikan gratis bukan berarti tidak berkualitas, fasilitas dan layanan yang berkualitas tentu memerlukan pendanaan besar. Dalam sistem Islam pendanaan pendidikan berasal dari kas baitul mal yang memiliki banyak sumber pemasukan. Salah satunya dari sumber daya alam yang melimpah ruah ini, sumber daya alam yang diberikan Sang Pencipta alam ini harus juga dikelola secara benar sesuai syari’at-Nya sehingga hasil seluruhnya untuk pembiayaan kebutuhan rakyat termasuk untuk biaya Pendidikan.

Sekolah atau kampus swasta di perbolehkan ada dalam Sistem Islam dan juga gratis seperti sekolah atau kampus negeri. Skema pembiayaan sekolah atau kampus swasta adalah wakaf. kurikulumnya harus sama dengan sekolah atau kampus negeri.

Jaminan Pendidikan dalam Islam bukan janji dan khayalan, tetapi itu adalah fakta yang pernah terjadi ketika sistem Islam diterapkan secara totalitas selama kurang lebih 13 abad, sebelum kapitalisme mengambil alih menguasai dunia. Sejarah mencatat banyak ilmuan dan juga sekaligus ulama yang lahir dalam sistem Islam, mereka memberikan manfaat bagi umat dan alam ini.

Kapitalisme adalah sistem rusak yang merusak tentu saja harus ditinggalkan dan harus beralih pada sistem Islam yang telah terbukti menyejahterkan umat manusia dan memberikan rahmat bagi alam ini. Wallahu a’lam

Iklan
Iklan