Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Moralitas, Fondasi Kesempurnaan Manusia di Tengah Arus Globalisasi

×

Moralitas, Fondasi Kesempurnaan Manusia di Tengah Arus Globalisasi

Sebarkan artikel ini

oleh: Bakhtiyor Tursunov
Doktor Filsafat, Peneliti Senior Pusat Penelitian Ilmiah Internasional Imam Bukhari Republik Uzbekistan

PERKEMBANGAN dunia yang kian pesat di era globalisasi tidak hanya membawa kemajuan teknologi, tetapi juga memicu persaingan ideologi yang semakin sengit. Pertarungan untuk merebut akal, kesadaran, dan hati manusia menjadi medan yang tidak kasat mata namun sangat menentukan. Dalam konteks inilah, fenomena moralitas kembali menunjukkan relevansinya sebagai benteng utama umat manusia, baik di Uzbekistan, Indonesia, maupun belahan dunia lainnya. Di Uzbekistan, kesadaran akan pentingnya moralitas ini diwujudkan dalam berbagai transformasi mendalam di bidang sosial-ekonomi, spiritual-pendidikan, dan keagamaan. Hal ini sejalan dengan pesan hadis yang diriwayatkan oleh Abul Hasan Mawaridiy bahwa sebaik-baik manusia adalah mereka yang mampu mengambil manfaat dari kehidupan dunia dan akhirat secara seimbang, tanpa mengabaikan salah satunya, sebuah keseimbangan yang juga menjadi cita-cita dalam kehidupan berbangsa di Indonesia yang berlandaskan Pancasila.

Kalimantan Post

Persoalan akhlak menempati posisi sentral dalam nilai-nilai budaya bangsa Uzbek, sebagaimana termaktub dalam sumber suci Islam. Al-Qur’an dengan tegas menyatakan dalam Surah Al-Qalam ayat 4 bahwa Nabi Muhammad SAW memiliki budi pekerti yang agung. Ini bukan sekadar pujian, melainkan seruan bagi setiap insan untuk meneladani akhlak mulia tersebut. Sejarah membuktikan bahwa bangsa Uzbek telah lama mengakar dalam nilai-nilai luhur, dan spiritualitas yang tinggi inilah yang menjadi perisai mereka dari berbagai badai dan cobaan zaman. Hal serupa juga kita saksikan dalam ketahanan budaya Nusantara, di mana nilai-nilai seperti gotong royong, saling menghormati, dan tawasuth (moderasi) telah lama menjadi lem lemah yang mempersatukan keberagaman suku, agama, dan ras di Indonesia. Para pendahulu di kedua bangsa ini senantiasa berpegang teguh pada norma spiritual dan moral di tengah setiap kesulitan, tanpa pernah kehilangan jati diri.

Saat ini, tantangan terbesar adalah menjauhnya generasi muda dari nilai-nilai luhur akibat lemahnya pemahaman agama yang benar dan derasnya arus informasi yang tidak terfilter. Sayangnya, kelalaian dalam memberikan perhatian serius pada pendidikan moral di masa lalu kini berbuah pahit. Kita menyaksikan fenomena di mana sebagian pemuda, baik di Asia Tengah maupun di Indonesia, terjerumus ke dalam gerakan radikal dan ideologi asing yang transnasional, yang pada akhirnya menjauhkan mereka dari masyarakat dan nilai-nilai kebangsaan. Di Indonesia, munculnya paham takfiri dan kelompok-kelompok yang mengatasnamakan agama namun mengancam keutuhan NKRI adalah cermin nyata dari melemahnya imunitas spiritual. Kondisi ini merupakan alarm bagi kita semua. Sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Baihaqi mengingatkan bahwa Nabi SAW diutus justru untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Ini berarti, tujuan utama risalah kenabian adalah pembentukan karakter, sebuah misi yang juga sejalan dengan tujuan pendidikan nasional Indonesia untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat.

Baca Juga :  Menjaga Kepercayaan Publik

Dalam riwayat lain, Walid bin Numair bin Aws mengatakan bahwa “kebaikan datang dari Allah, dan adab berasal dari orang tua.” Ungkapan ini menegaskan bahwa meskipun takdir berada di tangan Tuhan, peran orang tualah yang paling dominan dalam membentuk kepribadian anak. Kebaikan adalah benih bawaan, namun ia membutuhkan pemupukan dari lingkungan, terutama keluarga, agar tumbuh menjadi kebajikan sejati. Di Indonesia, lembaga keluarga sebagai institusi pertama dan utama dalam pendidikan karakter semakin tergerus oleh kesibukan ekonomi dan pengaruh media sosial. Penguatan peran keluarga dalam menanamkan adab dan akhlak menjadi sangat krusial, sebagaimana diajarkan oleh para ulama Nusantara seperti Hamka dan KH. Bisri Mustofa yang selalu menekankan bahwa adab kepada orang tua adalah kunci keberkahan ilmu dan kehidupan.

Jika menelusuri sejarah intelektual, kita akan menemukan bahwa para pemikir besar dari Movarounnahr seperti Imam Bukhari, Imam Tirmidzi, Abu Nasr Farabi, hingga Alisher Navoi, hampir seluruh karya mereka sarat dengan pesan moralitas. Warisan ini bukan hanya milik Uzbekistan, tetapi merupakan khazanah bagi seluruh peradaban manusia, termasuk Indonesia. Abu Nasr Farabi dalam karyanya Kota Manusia Utama melukiskan sosok manusia bermoral sebagai pribadi yang cinta kebenaran, membenci kebohongan, tidak tergila-gila pada harta duniawi, tegas dalam keadilan, dan berani dalam kebenaran. Ciri-ciri ini sangat relevan dengan konsep insan kamil yang diajarkan di pesantren-pesantren Nusantara. Sementara itu, Azizuddin Nasafi membagi manusia ke dalam tiga kategori dan menyimpulkan bahwa manusia sempurna adalah mereka yang tidak hanya memiliki akhlak terpuji, tetapi juga memiliki pengenalan diri (ma’rifat). Dalam konteks keindonesiaan, pengenalan diri ini adalah kesadaran akan identitas sebagai bagian dari bangsa yang majemuk, yang berkewajiban mengamalkan nilai-nilai sila-sila Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga :  PERLINDUNGAN MASYARAKAT

Alisher Navoi pun melalui karya-karyanya yang monumental mengajarkan bahwa kemanusiaan sejati adalah mengakhiri kezaliman, berlaku dermawan, menegakkan keadilan, dan mencapai kesucian hati. Nilai-nilai ini menjadi fondasi yang mengingatkan manusia pada jati dirinya serta menguatkan iman dan hati nurani agar terhindar dari perbuatan tercela. Di Indonesia, ajaran serupa dapat kita temukan dalam syair-syair dan naskah-naskah klasik Melayu-Jawi, serta dalam ajaran tasawuf yang berkembang di pesantren yang menekankan pentingnya membersihkan hati (tazkiyatun nafs) sebelum berbuat untuk kemaslahatan umum. Moralitas memiliki daya untuk memperbaiki atmosfer sosial-spiritual dan ideologis masyarakat. Ia menyelaraskan hubungan antarmanusia dan memperkaya aktivitas sosial dengan nilai-nilai humanisme dan patriotisme—dua pilar yang sangat dibutuhkan untuk menjaga keutuhan Republik Indonesia yang terbentang dari Sabang sampai Merauke.

Reformasi yang saat ini digalakkan di berbagai negara, termasuk Uzbekistan, bertujuan melahirkan generasi sempurna dengan fondasi pengembangan tradisi dan nilai-nilai nasional, pengkajian mendalam warisan para leluhur, serta pembinaan generasi muda dengan semangat cinta tanah air dan pengabdian pada ilmu pengetahuan. Bagi Indonesia, momentum ini adalah panggilan untuk tidak sekadar menjadi konsumen pemikiran asing, tetapi menggali kembali kekayaan intelektual Islam Nusantara yang toleran dan inklusif. Dengan berpegang pada ajaran agama yang moderat (wasathiyyah) dan kearifan lokal yang luhur, bangsa Indonesia dapat melahirkan manusia-manusia unggul yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kokoh secara spiritual dan mulia akhlaknya. Semangat ini harus kita hidupkan kembali di ruang-ruang pendidikan, di lingkungan keluarga, dan di tengah masyarakat, karena hanya dengan moralitas yang kuat, Indonesia dapat melangkah tegak sebagai bangsa besar yang berperadaban di kancah global. Wallahu a’lam bish-shawab.

*) Catatan redaksi: Naskah ini merupakan adaptasi dari artikel ilmiah berjudul “Morality as a Factor in Human Perfection” yang ditulis oleh Dr Bakhtiyor Tursunov, diterjemahkan dan disunting untuk Kalimantan Post.

Iklan
Iklan