Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Hilangnya Rasa satu Tubuh Umat-Duka Nestapa seolah tak berujung menimpa Warga Gaza

×

Hilangnya Rasa satu Tubuh Umat-Duka Nestapa seolah tak berujung menimpa Warga Gaza

Sebarkan artikel ini

Oleh : Maya Adawiyah
Pemerhati Sosial Kemasyarakatan

Sampai hari ini kondisi umat muslim di Gaza sangat memprihatinkan, pembunuhan, pelecahan, penembakan, bombardir, semua tindak kejahatan yang di lakukan terus diabaikan oleh dunia internasional. Pada 20 Maret 2026 umat muslim di Gaza merayakan Idul Fitri di tengah reruntuhan gedung dan tenda darurat. Keterbatasan yang di tanggung warga gaza sudah di ujung krisis.

Kalimantan Post

Kantor Media Pemerintah Gaza-menyatakan bahwa hari raya tahun ini berlangsung tanpa sukacita karena sebagian besar keluarga kesulitan memenuhi kebutuhan dasar.

Di laman Gaza, MINA – Lebih dari 2,4 juta warga Palestina di Jalur Gaza merayakan hari raya Idul Fitri pada Jumat (20/3) di tengah krisis kemanusiaan yang parah, dengan pembatasan ketat Israel, kehancuran infrastruktur, serta kekurangan pangan, air bersih, dan obat-obatan.

Hebron, MINA – Pasukan penjajah Israel pada Jumat (20/3) memperketat pembatasan masuk warga Muslim Palestina ke Masjid Ibrahimi di kota Hebron, Tepi Barat yang diduduki, demikian laporan kantor berita Palestina WAFA.

Sumber-sumber setempat mengatakan, pasukan penjajah memberlakukan pembatasan lebih ketat di sekitar masjid. Mereka menambahkan, hanya 50 jamaah yang diizinkan memasuki masjid, sementara sisanya terpaksa harus melaksanakan shalat eid di luar.

Sejak peperangangan antara Israel dan iran terjadi, derita di Gaza semakin dilupakan, tidak banyak dari mereka yang tahu, Warga gaza yang dari dulu terus melawan kebiadaban kafir penjajah, tanpa dukungan langsung mereka tetap berjuang, berpegang hanya kepada keimanan kuat mereka. Dan itu juga yang membuat mereka tidak pernah menyerah bgitu saja.

Lembaga tersebut mencatat, pasukan Israel telah melakukan lebih dari 2.000 pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata sejak Oktober 2025.

Baca Juga :  Patologi Yuris Predatoris dan Menakar Busuknya Delusi Imunitas 16 Mahasiswa FH UI

Pelanggaran itu berupa penembakan, serbuan darat, dan serangan udara yang telah menewaskan sedikitnya 677 warga Palestina dan melukai lebih dari 1.800 lainnya, sebagian besar warga sipil.

Ironinya Negara-negara Arab teluk justru bersekutu dengan Negara kafir dalam memerangi iran dengan melakukan kerjasama militer dan melupakan derita gaza. Idul fitri yang seharusnya jadi momentum besar, kemenangan di gaza pun terasa hampa karena perayaan itu harus berlangsung di tengah reruntuhan, kekurangan pangan, dan trauma berkepanjangan.

Idul fitri di tengah kondisi sangat mengenaskan harini, harusnya bisa diraskaan seluruh umat muslim. Ibarat satu tubuh yang kena, maka tubuh yang lainnya ikut merasakan. Namun yang terjadi yang merasakan pendiritaan ini hanya yang jadi korban kedzaliman di wilayah Gaza, Uighur, Rohingya, dan Muslim di berbagai wilayah konflik lainnya.

Umat muslim harini tidak lagi mementingkan saudaranya sendiri, mereka hanya fokus untuk kebutuhan individu nya saja. Tidak adanya Khilafah yang menyatukan umat muslim di seluruh dunia ini

Perdamaian yang di buat sebelumnya pun yaitu BOP dimana ingin mendamaikan dan kemerdekaan Palestina bukan jadi prioritas bagi As dan Israel tersebut hanya fokus pada hegemoni kekuasaanya pada dunia.

Qur’an surah Al- Fath:29 menjelaskan Al Qur’an mengajarkan untuk berkasih sayang dan lemah lembut terhadap muslim dan bersikap keras terhadap orang kafir. Dalam ayat ini Allah sangat menekankan seluruh umat muslim itu bersatu, dan memiliki pemikiran,perasaan,tujuan yang sama, yaitu ingin mengembalikan kehidupan islam.

Nilai Ukhuwah Islamiyah bukan hanya formalitas semata, tetapi seharusnya menjadi landasan, aksi nyata dalam menyuarakan ketidakadilan.

Di kondisi sistem kapitalis harini, islam sudah memiliki berbagai macam solusi yang tepat untuk menyelesaikan kedzaliman harini, Salah satunya solusi berjihad untuk melawan penjajah kafir barat sebagai upaya yang menyeluruh dalam membela kebenaran dan melawan kedzaliman. Konsep jihad yang diterapkan harini bukan hanya dengan peperangan Militer, namun berjihad melalui pemikiran untuk memerangi pemikiran barat harini.

Baca Juga :  HALAL BIHALAL

Dengan demikian, penderitaan Gaza seharusnya menjadi momentum untuk membangun kesadaran baru—bukan hanya emosional, tetapi juga strategis. Solidaritas tidak cukup berhenti pada rasa, melainkan harus diterjemahkan menjadi langkah konkret yang terukur dan relevan. Tanpa itu, tragedi seperti ini hanya akan terus berulang, sementara dunia tetap bergerak dengan logika kepentingannya sendiri

Dengan demikian, penderitaan Gaza seharusnya menjadi momentum untuk membangun kesadaran penuh, dan tekad yang kuat. Bukan hanya seruan, tetapi juga mencari cara strategis. Aksi solidaritas tidak cukup berhenti pada rasa, empati, kemanusiaan, melainkan harus di realisasikan ke langkah yang nyata, terukur dan relevan sesuai dengan syariat aturan islam itu sendiri. Tanpa itu, kedzaliman harini hanya akan terus berulang, sementara dunia tetao bergerak dengan kepentingannya sendiri.

Wallahu’alam Bisshawab

Iklan
Iklan