BANJARMASIN, Kalimantanpost.com – Di tengah perkembangan digitalisasi yang semakin pesat, keberadaan buku fisik dinilai masih memiliki tempat tersendiri, terutama bagi generasi yang sejak awal terbiasa membaca melalui lembaran-lembaran buku.
Hal itu disampaikan Karine Fadjar Majardi Ketua Persatuan
Istri Pegawai Bank Indonesia Perwakilan Prov Kalimantan Selatan, usai acara Kick Off Pentas Kalsel 2026, di Aula Pengeran Antasari Banjarmasin, Senin (25/05/2025).
Menurutnya, membaca buku memberikan sensasi berbeda dibandingkan membaca secara digital. Mulai dari membuka halaman demi halaman hingga proses memahami isi bacaan yang dianggap lebih mendalam dan bertahan lebih lama dalam ingatan.
“Buku itu tetap diperlukan. Membaca buku punya sens tersendiri. Ilmu yang diperoleh juga terasa lebih dalam dibanding membaca secara digital,” ujarnya.
Ia menilai, digitalisasi memang memiliki banyak sisi positif, terutama dari segi kemudahan akses informasi.
Namun di sisi lain, pengalaman membaca secara digital dianggap memiliki keterbatasan karena tingkat fokus dan kedalaman membaca yang berbeda dibanding buku cetak.
Karena itu, ia menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara buku fisik dan media digital agar keduanya dapat saling melengkapi.
“Digitalisasi ada positifnya, membaca buku juga ada positifnya. Jadi sebaiknya balance dua-duanya,” katanya.
Untuk meningkatkan minat baca generasi muda, diperlukan dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah dan lembaga terkait.
Salah satu upaya yang dinilai penting ialah menghadirkan buku dengan tampilan dan isi yang menarik agar mampu memancing rasa ingin tahu pembaca.
“Kalau bukunya menarik, orang akan penasaran ingin tahu isi buku itu. Dari situ minat baca bisa tumbuh,” jelasnya.
Ia juga menilai perpustakaan ke depan tetap perlu menyediakan dua layanan sekaligus, yakni buku fisik dan buku digital.
Sebab, membaca melalui layar digital dan membaca langsung di atas kertas tetap memberikan pengalaman yang berbeda bagi pembaca.
“Melihat di digital dan melihat di kertas itu berbeda. Jadi tetap harus ada bukunya dan tetap ada digitalnya. Dua-duanya harus saling men-support,” pungkasnya.(nau/KPO-1)















