MUSIM kemarau tahun ini bukan lagi sekadar pergantian musim yang rutin terjadi setiap tahun. Di Kalimantan Selatan, kemarau telah berubah menjadi ancaman nyata bagi sektor pertanian dan ketahanan pangan daerah.
Data Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Kalsel hingga akhir Juli 2026 menunjukkan bahwa 6.691 hektare lahan pertanian terdampak kekeringan. Sebagian bahkan telah mengalami puso, kondisi yang menandakan gagal panen total.
Angka tersebut tentu bukan sekadar statistik. Di balik ribuan hektare lahan yang mengering, terdapat harapan petani yang perlahan memudar, ada biaya produksi yang terancam hilang, serta kekhawatiran akan menurunnya pasokan pangan bagi masyarakat.
Jika kondisi ini terus meluas, dampaknya tidak hanya dirasakan petani, tetapi juga seluruh lapisan masyarakat melalui kenaikan harga bahan pokok dan terganggunya stabilitas ekonomi daerah.
Fenomena El Nino yang diperkirakan memperpanjang musim kemarau hingga beberapa bulan ke depan harus dipandang sebagai peringatan serius. Kabupaten Tanah Laut, Barito Kuala, Kabupaten Banjar, hingga Tanah Bumbu menjadi wilayah yang paling merasakan dampaknya.
Situasi ini menunjukkan bahwa sektor pertanian masih sangat bergantung pada kondisi cuaca dan belum sepenuhnya didukung oleh sistem irigasi yang tangguh menghadapi perubahan iklim.
Langkah mitigasi yang dilakukan pemerintah melalui pemantauan lapangan, pendampingan petani, serta optimalisasi pompanisasi patut diapresiasi. Koordinasi antara pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten dan kota, hingga Balai Wilayah Sungai menjadi bukti bahwa persoalan kekeringan tidak dapat diselesaikan secara parsial. Namun, langkah darurat semata tentu belum cukup.
Kemarau panjang seharusnya menjadi momentum untuk mengevaluasi strategi pembangunan pertanian secara menyeluruh. Pembangunan embung, sumur pertanian, jaringan irigasi modern, hingga sistem penyimpanan air harus menjadi prioritas jangka panjang.
Selain itu, penggunaan varietas tanaman yang lebih tahan terhadap kekeringan perlu diperluas agar petani memiliki kemampuan beradaptasi terhadap perubahan iklim yang semakin sulit diprediksi.
Di sisi lain, kesadaran lingkungan juga memegang peranan penting. Imbauan untuk tidak membakar jerami dan menerapkan pengolahan lahan tanpa bakar bukan hanya bertujuan mencegah kebakaran, melainkan juga menjaga kualitas tanah agar tetap produktif. Pertanian masa depan tidak bisa lagi mengandalkan cara-cara lama yang merusak ekosistem.
Kekeringan yang melanda Banua saat ini sesungguhnya adalah alarm bagi semua pihak. Ketahanan pangan tidak hanya ditentukan oleh luas lahan yang dimiliki, tetapi juga oleh kemampuan daerah dalam mengelola sumber daya air, melindungi petani, dan membangun sistem pertanian yang mampu bertahan menghadapi perubahan zaman. Sebab, ketika sawah mulai mengering, sesungguhnya yang sedang diuji adalah kesiapan kita menjaga masa depan pangan daerah.














