Corona Semakin Menjadi, Ketegasan Pemimpin Semakin Dinanti

Oleh : Noriah
Aktivis Mahasiswa Palangka Raya

Corona, makhluk kecil tak kasat mata yang saat ini menghebohkan dunia semakin merajalela. Pasalnya, virus mematikan yang berasal dari Wuhan China ini telah menyebar ke berbagai negara di belahan dunia, termasuk Indonesia. Walaupun sedikit lamban, melalui juru bicara penanganan Corona Achmad Yurianto, akhirnya pemerintah menyatakan penyebaran Covid-19 sebagai bencana nasional.

Di tengah bertambahnya jumlah pasien terpapar Covid-19, baru-baru ini kita juga mendengar dari pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) yang menyatakan bahwa enam orang dokter terkonfirmasi meninggal karena Covid-19, satu dokter lainnya meninggal akibat kelelahan serta serangan jantung setelah mempersiapkan fasilitas kesehatan agar sigap dari ancaman virus corona (kompas.tv 23/03/20). Berdasarkan data yang diterima hingga Jumat (27/3/2020) pukul 12.00 WIB, total ada 1.046 kasus Covid-19 di Indonesia.

Ini bukanlah angka yang kecil, jika dibiarkan tanpa penanganan yang tepat maka bukan tidak mungkin jumlah kasus positif Covid-19 di Indonesia akan terus bertambah. Dilansir dari laman kumparan.com (22/03/20) bahwa Juru Bicara Presiden Fadjroel Rochman menyampaikan pesan Presiden Jokowi yaitu Salus populi suprema lex (keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi). Dia juga mengatakan salah satu program prioritas terkait penanganan Covid-19 adalah memfokuskan dan menggerakkan semua sumber daya negara untuk mengendalikan, mencegah, dan mengobati masyarakat yang terpapar Covid-19.

Namun apa mau dikata, kenyataan yang terjadi justru berbeda dari apa yang diucapkan Presiden. Sejak awal pemberitaan wabah corona di Wuhan China, sejumlah negara di penjuru dunia segera mengambil tindakan untuk menutup akses bagi warga China yang hendak masuk ke negaranya. Bertolak belakang dengan Indonesia, dimana Presiden dan para Menteri malah sibuk menggenjot pendapatan pariwisata dengan memberi diskon harga tiket pesawat udara ke sejumlah destinasi wisata.

Kritik kekhawatiran terhadap ancaman Covid-19 yang disampaikan masyarakat dianggap angin lalu. Sejumlah Menteri justru berkelakar bahwa Covid-19 tidak akan mampir ke Indonesia. Bukannya melakukan tindakan pencegahan, Indonesia justru seakan membuka lebar-lebar bagi virus mematikan untuk masuk. Padahal, wabah Covid-19 sudah mulai meluas ke beberapa negara seperti Jepang, Korea Selatan, Amerika Serikat, Iran dan Italia.

Dan saat pandemi Covid-19 menjangkiti penduduk negeri. Pemerintah terlihat gagap dan tidak siap menghadapi wabah. Satu persatu warga negaranya mulai terkonfirmasi positif, hingga Jumat (27/3/2020) pukul 12.00 WIB, dari total 1.046 kasus Covid-19, 87 orang di antaranya telah meninggal dunia (kompas.tv 23/03/20). Desakan lockdown dari berbagai pihak pun terus menguat. Sayangnya, Juru bicara penaganan virus Covid-19 menyampaikan bahwa, pemerintah Indonesia belum dapat mengambil opsi lockdown. Hal tersebut disampaikan Tim Pakar Gugus Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito bahwa Indonesia belum siap dengan konsekuensi dari opsi ini. Jika diterapkan nantinya akan berpengaruh pada berbagai aspek, sebut saja sektor ekonomi dan sektor pariwisata tentu akan kena imbasnya (bisnis.tempo.co 18/03/20).

Berita Lainnya

Pendidikan Utama Manusia di Bumi

Pendidikan Minus Visi, Berorientasi Industri

1 dari 153
Loading...

Padahal tanpa opsi lockdown pun saat ini Covid-19 telah memukul perekonomian Indonesia. Dilansir dari laman tirto.id (20/03/20) bahwa nilai tukar rupiah sudah melemah di angka hampir Rp16 ribu. Sementara IHSG anjlok mencapai 5 persen dan membuat Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan pembekuan sementara perdagangan (trading halt) pada Kamis (19/3/2020) pukul 09.37.18 waktu JATS.

Lalu bagaimana dengan nasib rakyat Indonesia jika opsi lockdown tidak diambil pemerintah? Apakah akan dikorbankan begitu saja? Pasalnya, penyebaran virus ini sangat cepat dan jika virus ini menyebar luas di Indonesia tentu akan berdampak cukup dahsyat nantinya. Sungguh, kebijakan yang sangat disayangkan. Di sisi lain pemerintah hanya menghimbau pada masyarakat untuk melakukan Social Distancing atau menjaga jarak saat berinteraksi. Tagar dirumah saja pun terus digalakan, namun sayang himbauan hanya sekedar himbauan. Nyatanya masih banyak masyarakat yang turun ke jalan untuk bekerja. Sebab jika berdiam diri di rumah saja, siapa yang akan memenuhi kebutuhan keluarga? Begitulah keluhan yang dirasakan oleh sebagian besar masyarakat di kalangan bawah. Meski mereka tahu bahwa ketika berada di luar rumah dapat mengancam mereka dari wabah Covid-19, mereka tidak memiliki pilihan selain tetap beraktivitas di luar rumah untuk bekerja.

Seperti itulah kondisi negara tanpa integritas. Negara yang mengadopsi sistem kapitalis sekuler hanya manis beretorika soal prioritas keselamatan rakyat. Namun kebijakannya tidak memberi jaminan yang nyata. Padahal sudah sepatutnya seorang pemimpin menjaga kesejahteraan dan keamanan rakyatnya. Terutama dalam situasi yang genting seperti saat ini. Dengan cara mengambil tindak tegas untuk tidak mengizinkan warga negara asing masuk ke wilayahnya demi keamanan dan kesehatan warga negara.

Perhitungan materipun masih menjadi pertimbangan dominan dalam pengambilan keputusan. Kebijkaan lockdown pasti dihindari karena perhitungan untung-rugi melekat kuat dibenak penguasa. Rakyat miskin harus disuplay kebutuhannya. Sementara industri mati suri.

Sangat berbeda dengan sistem Islam. Negara bertanggungjawab penuh menjaga kesehatan dan memastikan keselamatan seluruh warganya. Apalagi saat wabah penyakit melanda seperti sekarang ini.

Islam yang merupakan agama yang sempurna punya solusi tersendiri dalam menghadapi wabah yang menjadi pandemi. Islam telah lebih dahulu membangun ide karantina untuk mengatasi wabah penyakit tersebut agar tidak menular. Pada masa Kekhalifahan Umar Bin Khattab ada wabah yang menerpa kaum Muslimin, disebut dengan wabah Tha’un. 

Isolasi atau lockdown dibelakukan pada masa itu, hal ini bertujuan untuk mengurangi potensi penularan wabah tha’un. Seperti dalam Hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh Bukhari, “Jika kamu mendegar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Dan jika kalian berada di daerah itu janganlah kalian keluar untuk lari darinya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dari sini kita seharusnya semakin menyadari bahwa kita butuh seorang pemimpin yang benar-benar melayani dan mengayomi serta mangutamakan rakyat atas dirinya. Memikirkan dan mengutamakan rakyatnya dalam segala hal terutama pada hal-hal yang bisa membahayakan jiwa-jiwa rakyatnya. Pemimpin seperti ini hanya bisa di temukan dalam sistem Islam. Pemimpin yang mengikuti metode Nabi Muhammad saw. yang senantiasa tunduk pada aturan-aturan yang telah ditetapkan Allah Swt, dan menerapkan Islam secara kaffah. Maka sudah saatnya kita tinggalkan sistem kapitalis yang tidak mampu menopang kesejahteraan rakyatnya dan beralih kepada sistem Islam yang rahmatan lil’alamin.

loading...
Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya