Belajar Jarak Jauh, Siswa Kelas Bawah Terbebani

Oleh : Dr H Kasypul Anwar
Dosen UNISKA MAB Banjarmasin

Sejak terkonfirmasinya kasus pertama positif Covid-19 di Indonesia pada 2 Maret 2020 silam, kasus infeksi virus korona tersebut semakin bertambah. Pemerintah terusberupaya untuk menangani penyebaran virus ini melalui berbagai kebijakan. Pembatasan sosial yang kerap disebut social distancing atau physical distancing saat ini tengah diberlakukan dengan tujuan mengurangi kontak antar manusia. Kebijakan ini tentunya memberikan dampak multisektor seperti sektor sosial, ekonomi, bahkan pendidikan. Merujuk pada Surat Edaran Mendikbud Nomor 3 Tahun 2020,yaitu tentang Pencegahan Covid-19 pada Satuan Pendidikan, pemerintah daerah memilih untuk “merumahkan” kegiatan pendidikan dengan pertimbangan keamanan dan keselamatan peserta didik serta guru dan tenaga kependidikan. Kebijakan ini mengakibatkan setidaknya lebih dari 28,6 juta siswa dari berbagai jenjang di sejumlah provinsi terdampak program pembelajaran jarak jauh ini. Pendidikan melalui proses daring merupakan alternatif terbaik untuk mengurangi tatap muka sementar
a proses belajar-mengajar harus tetap jalan, dimana hal inimenjadi salah satu implementasi terhadap kebijakan social distancing untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

Sistem pembelajaran jarak jauh menuntut kesiapan dari elemen pendidikan, baik itu guru, siswa, maupun orangtua siswa. Sekolah-sekolah yang tidak terbiasa menggunakan teknologi dalam proses pembelajaran tentunya akan mengalami banyak kesulitan dan butuh penyesuaian saat pertama kali menjalankannya. Hal ini berbeda dengan sekolah-sekolah yang sejak dini menggunakan perangkat teknologi dan fasilitas pembelajaran online dalam proses belajar mengajar sehari-hari. Sementara itu pula, pembelajaran daring agak sulit dilakukan karena menyangkut kebiasaan. Tidak mudah bagi siswa untuk mengubah kebiasaan yang awalnya tatap muka menjadi daring, terlebih dalam pemahaman konsep materi. Dengan demikian, hal ini juga menuntut adanya peran orangtua dalam memberikan lingkungan yang kondusif serta fasilitas teknologi yang memadai bagi aktivitas belajar sang anak. Lantas apakah Indonesia benar-benar siap? Realitanya masih terjadi ketimpangan fasilitas antara perkotaan dan perdesaan yang mengakibatkan minimnya kualitas pendidikan
di pedesaan, terlebih dalam hal melek teknologi.Tak semua orangtua juga memahami pentingnya teknologi sehingga masih ada sebagian orang yang tidak memiliki, bahkan tidak mengerti cara pengoperasian teknologi tersebut. Keterbatasan dan belum canggihnya orangtua siswa kelas bawah dalam mengakses teknologi berbasis online akan menyebabkan pendampingan yang tidak efektif selama proses belajar jarak jauh. Lalu apakah sistem daring seperti ini efektif untuk semua siswa dari berbagai lapisan?

Rupanya, kebijakan belajar jarak jauh ini pun pada akhirnya menimbulkan polemik baru, terutama bagi masyarakat dengan tingkat ekonomi kelas bawah. Kewajiban dalam penggunaan teknologi berbasis daring menuntut orangtua untuk menyediakan perangkat teknologi beserta kuota tak terbatas untuk mendukung proses pembelajaran. Contoh paling sederhana adalah penggunaan grup Whatsapp dalam perangkat smartphone. Guru akan memberikan materi beserta tugas yang dikirimkan melalui grup Whatsapp kepada murid, dan selanjutnya murid akan mengirimkan hasil tugasnya kembali kepada guru. Proses pembelajaran tatap muka virtual pun kerap dilakukan dengan memanfaatkan aplikasi Google Classroom, Webex, Zoom,maupun media yang lain. Tak hanya itu, aplikasi pembelajaran jarak jauh berbasis portal dan Android juga banyak dikembangkan, dimana setiap platform memberikan fasilitas yang dapat diakses secara umum dan gratis. Ya, gratis, namun hal ini tetap menjadi kendala selama masih minim perangkat dan jaringan.

Berita Lainnya
1 dari 154
Loading...

Banyaknya platform yang digunakan, beberapa aplikasi dan file yang harus diunduh untuk mengikuti pelajaran, semuanya membutuhkan laptop atau smartphone yang kompatibel sebagai penunjang pembelajaran. Bagaimana jika siswa tidak memiliki perangkat tersebut? Atau bagaimana jika smartphone yang dimiliki hanya terbatas kapasitas penyimpanannya? Bagaimana dengan masalah internet dan jaringannya terutama bagi siswa kelas bawah yang bertempat tinggal di daerah terpencil? Bagaimana pula dengan kuota internet yang mahal? Apabila dengan kuota internet murah, bagaimana kondisi jaringannya dan jumlah kuota yang didapatkannya? Padahal pembelajaran daring ini membutuhkan akses internet dengan kuota yang tak sedikit. Kuota gratis dari beberapa provider pun hanya dapat digunakan di aplikasi tertentu yang tidak semuanya digunakan dalam proses pembelajaran siswa.Sebenarnya bisa saja siswa kelas bawah tersebut menghampiri temannya untuk belajar bersama akibat tidak punya cukup kuota untuk mendengarkan materi dari guru. Namun hal
ini menjadi kontradiktif dengan tujuan belajar di rumah, yaitu menghindari kontak dengan siswa lain guna mematuhi social distancing. Apabila hal ini terus berlanjut dan terjadi pada siswa kelas bawah, maka bukan tidak mungkin jika siswa tersebut terpaksa tidak bisa mengikuti sistem pembelajaran jarak jauh berbasis daring ini. Hal ini akan membuat siswa tertinggal pelajaran dan kedepannya membuat siswa mengalami demotivasi belajar. Hal ini tentu sangat tidak kita harapkan. Kalaupun siswa memiliki perangkatnya, orangtua akan tetap terbebani oleh dana untuk membeli kuota internet dan sebagian orangtua mungkin akan tetap memilih menukarkan uang yang dimiliki dengan kebutuhan sehari-hari. Apalagi siswa yang tidak memiliki perangkat teknologi.Kondisi ini sangat memprihatinkan dan membuat para orangtua harus memutar otak untuk bisa memenuhi itu semua.

Beberapa polemik yang muncul dari siswa dan orangtua, akhirnya berdampak pula pada tenaga pendidik. Banyak diantara mereka yang mengeluhkan sulitnya pembelajaran daring karena baik dirinya, siswa, maupun orangtua siswa masih gagap teknologi. Hal ini pun berimbas pada penilaian harian dan pelaksanaan ujian. Pengajar pun mau tidak mau harus menurunkan standar penilaian. Hal yang sangat menyulitkan muncul apabila keluarga siswa sama sekali tidak memiliki smartphone sebagai akses pembelajaran. Tidak mungkin guru meminta satu persatu orangtua murid untuk membeli smartphone mengingat kondisi ekonomi yang juga pas-pasan. Hal ini memaksa guru untuk mencari alternatif lain agar siswa tak kehilangan hak belajarnya. Guru pada akhirnya harus hadir mendampingi proses belajar siswa dengan bimbingan door to door, mendatangi satu per satu siswanya dan belajar bersama di rumah. Guru membawa berbagai macam buku agar dibaca dan dipelajari oleh siswa-siswanya. Namun hal ini tentu tidak bisa dilakukan terus-menerus, terlebih ini
telah melanggar peraturan pemerintah yang menganjurkan untuk bekerja di rumah saja. Apabila boleh memilih, mengajar secara virtual, menerima file atau foto tugas dari siswa lewat WA maupun aplikasi lain,kesannya terdengar lebih nyaman dan menunjukkan kepatuhan terhadap kebijakan pemerintah. Namun tak semua daerah dapat melakukan hal itu. Semua menjadi terkesan serba salah.

Perlu disadari bahwa tingkat pendidikan anak sangat erat kaitannya dengan tingkat perekonomian orangtuanya. Orang tua yang kondisi ekonominya tinggi tidak akan banyak mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan pendidikan anak, berbeda dengan orangtua yang kondisi ekonominya rendah. Terlebih lagi, Covid-19, yang dinyatakan WHO (World Health Organization) sebagai pandemi global, berdampak langsung pada perekonomian masyarakat kelas bawah yang mayoritas menggantungkan hidupnya pada upah harian. Kebijakan pemerintah dalam social distancing melalui “stay at home” dan “work from home” membuat banyak orang kehilangan pendapatannya, Pasalnya, Work From Home atau WFH ini hanya bisa dilakukan oleh segelintiran orang saja, yakni pekerja kantoran. Sedangkan pekerjaan yang bergantung pada aktivitas diluar rumahdan bergantung pada mobilitas orang sudah dapat dipastikan apa yang akan terjadi pada mereka. Badai ekonomi bakal menghantam keluarga para pekerja harian lepas yang semakin menambah keterpurukan di tengah pandemi
ini. Jangankan untuk membeli kuota internet, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari guna menyambung hidup pun mereka sudah kebingungan. Lantas apakah orangtua harus memilih? Memilih anak tetap bersekolah tapi tidak makan, atau tetap makan tapi tidak bersekolah. Tentu ini bukan hal baik untuk dijadikan pilihan. Lantas apakah kebijakan belajar jarak jauh ini hanya menguntungkan bagi siswa kelas atas saja? Hal ini tentu tidak adil bagi siswa kelas bawah yang juga menginginkan pendidikan terbaik bagi dirinya,

Langkah antisipasi sangat diperlukan sebelum keadaan ini semakin memburuk dan kompleks.Pendidikan harus tetap menjadi prioritas tanpa memandang status ekonomi. Pendidikan merupakan salah satu bentuk pembangunan nasional demi mewujudkan masyarakat yang cerdas, maju dan sejahtera. Tentunya kita tidak mau jika terlahir generasi penerus bangsa yang malasdan bodoh. Dampak yang paling dikhawatirkan adalah efek jangka panjang. Sebab dapat menghambat perkembangan mereka di masa yang akan datang sebagai akibat dari keterlambatan proses pendidikan yang dijalaninya. Bagaimana pula kita bisa bangkit dari krisis global akibat pandemi ini nantinya jika generasi penerus bangsa tidak berkualitas? Melimpahnya sumber daya alam Indonesia tidak akan berarti tanpa adanya peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan.Oleh karena itu, pemerintah diharapkan memikirkan solusi konkret, bergerak secara cepat dan tepat, agar pendidikan tetap berjalan dengan baik meskipun tengah berada pada masa pandemi Covid-19, pembelajar
an jarak jauhdapat optimalkan, dan semua siswa mendapatkan hak yang sama dalam aspek pendidikan. Semoga mewabahnya Covid-19 ini dapat segera berakhir dan semua dapat kembali ke kehidupan normal. Proses belajar mengajar bisa kembali normal, siswa dapat memperoleh pendidikan yang layak dan mendapatkan ilmu yang maksimal. Pandemi iniadalah kerikil yang harus dilewatidan tak boleh menghambat generasi penerus untuk terus belajar dan belajar.

loading...
Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya