Ambil Hikmah Covid-19

Oleh : H Hamdani KS
Pengamat Masalah Sosial Keagamaan

Pandemi Covid-19 telah merebak di bagian besar negara, termasuk Indonesia. Sejak awal diketemukannya ‘virus ganas’ di Wuhan, Cina pada bulan Desember 2019 lalu sampai bulan Juni 2020 ini (sekitar 6 bulan) penyebaran wabah ini sangat cepat berjangkit dari manusia ke manusia, bahkan ada yang ke binatang.

Indonesia sendiri telah mengumumkan secara resmi dari pemerintah melalui Menteri Kesehatan RI baru di bulan Maret 2020 bahwa Indonesia terjangkit wabah Covid-19.

Ternyata di lapangan, menurut para pengamat kesehatan yang berasal dari universitas di Indonesia, bahwa wabah yang mematikan ini telah menyerang beberapa daerah di Indonesia.

Setelah dilakukan test saat itu melalui berbagai alat yang sangat terbatas, antara lain rapid test, VCR, swab test, ternyata hasilnya sangat mengejutkan sekali. Menurut data resmi dari Gugus Tugas Penanggulangan Covid-19 di pertengahan Juni 2020 saja sudah mencapai 40.000 an orang yang terpapar.

Tidak termasuk yang berstatus ODP, PDP, dan OTG, yang jumlahnya sekitar 50.000 an orang. Jumlah diatas itu yang tercatat dan terdeteksi dengan secara medis.

Menurut pengamatan penulis, masih banyak yang belum tercatat dan tidak terdeteksi oleh petugas, yang berkeliaran ke sana kemari dan bisa menularkan virus ke orang lain, sehingga membentuk kluster-kluster baru di di lokasi tertentu seperti pabrik, pasar, mall, moda transportasi, daerah wisata, rumah sakit, tempat ibadah dan lain-lain.

Berita Lainnya
1 dari 154
Loading...

Sampai bulan Juni 2020 tampaknya tidak kurang ratusan ribu orang. Allahu a’lam bisshawab. Ini bukan pekerjaan ringan dan sambil lalu bagi kita, tetapi suatu tugas yang sangat besar dan perlu dilakukan secara sungguh-sungguh dan serius sekali bagi kita bersama.

Dari uraian singkat diatas, menurut penulis ada dua dimensi yang wajib ditelaah dan perhatikan yaitu : 1. Dimensi Kesehatan secara umum; 2. Dimensi keagamaan secara khusus.

Pada dimensi kesehatan, secara singkat penulis menyarankan, antara lain : 1. Fokus utama yang harus dilakukan adalah pemberantasan wabah Covid-19 (Virus Corona) semaksimal mungkin; 2. Penuhi seoptimal mungkin peralatan medis yang mutakhir di rumah—rumah sakit seperti APD, masker, sarung tangan, alat-alat test dan lain-lain bagi dokter dan petugas medis lainnya; 3. Percepat untuk melakukan test bagi orang-orang yang terduga kena wabah virus; 4. Lakukan segera gerakan bersama di seluruh pelosok se Kalsel dalam waktu panjang dalam memberantas wabah virus corona. 5. Setiap waktu dan tempat bersama-sama sadar, patuh dan disiplin melakukan protokol kesehatan yang telah ditetapkan WHO; 6. Jangan dulu melakukan “new normal”, sebelum wabah Covid-19 (virus corona) dibasmi; 7. Jangan membuat kebijakan yang bisa menimbulkan semakin menyebarnya wabah virus; 8. Bantu masyarakat miskin/kecil yang terkena dampak wabah Covid-19 dengan sebaik baiknya; 9. Tingkatkan pengawasan/pengendalian seoptimal mungkin di segala lini, sehingga wabah virus tidak menyebar semakim luas.

Pada dimensi keagamaan, secara singkat penulis mengingatkan, bahwa timbulnya wabah Covid-19 (virus corona) tidak lepas dari pada ujian dan azab Allah SWT terhadap makhluknya (manusia) di muka bumi ini, yang berbuat sudah sangat keterlaluan.

Dalam analisa penulis ada sedikitnya empat masalah yang banyak dilanggar manusia yaitu : 1. Semakin banyak manusia menyekutukan Allah (syirik), yang sangat dimurkai Allah; 2. Semakin banyak manusia saling bunuh membunuh, akibat konflik politik, sosial dan perang antar negara yang terjadi di dunia ini, sedang nyawa adalah hak preogatif Allah; 3. Para pemimpin pemerintah/negara banyak dzalim dan bohong kepada rakyatnya, sehingga mereka tidak amanah dan jujur; 4. Manusia telah banyak tidak bersahabat dengan alam dan lingkungannya, sehingga rusaklah lahan hutan—hutan dan pegunungan–pegunungan yang berakibat habitat hewan dan virus serta segala baksil itu pindah ke kota/daerah yang di huni manusia, yang akhirnya manusialah yang menanggungnya. Termasuk juga rusaknya lapisan ozon di langit yang berdampak terhadap kesehatan manusia di bumi ini. (Rusaknya eko system di bumi dan di langit).

Dari sudut pandang keagamaan, marilah kita sejenak merenung dan berpikir, kenapa bisa terjadi wabah Covid-19 ini menyerang manusia di seantero permukaan bumi ini? Jawabnya antara lain sebagaimana yang ditulis diatas.

“Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita, yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa, atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita. Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang”, demikian petikan syair lagu dari Ebiet G Ade, dalam judul lagu “Berita kepada kawan”.

Semua yang terjadi ini, marilah kita ambil hikmahnya dengan disertai istigfar, dzikir, berdoa dan usaha (ikhtiar), serta jangan lupa melaksanakan segala perintah-Nya dan jauhi segala larangan-Nya. Aamiin ya rabbal alamin. Semoga ada manfaatnya.

loading...
Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya