Back to School di Era New Normal yang Sebenarnya

Oleh : Helda wati, S.Pd
Praktisi Pendidikan di Barito Kuala

Tahun ajaran baru tinggal menghitung hari. Setelah sekian lama menjalani masa belajar dari rumah dengan segala permasalahannya, kerinduan di hati siswa untuk kembali ke sekolah kian menyala. Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mencoba meredam gejolak kekhawatiran para ahli akan bahaya dibukanya sekolah. Sebagaimana dilansir, Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Seto Mulyadi atau yang kerap disapa Kak Seto menyarankan pemerintah dan pemangku kepentingan dunia pendidikan agar menerapkan kebijakan normal baru atau new normal secara bertahap pada anak. “Jadi mulai dari dewasa dulu anak SMA diharapkan lebih mampu mengikuti protokol kesehatan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19,” katanya saat dihubungi di Jakarta, Senin (8/6/2020) (Komas.com). Meski demikian, kita tidak mengetahui bagaimana implementasi kebijakan pemerintah nanti di daerah. Akankah hanya 6 persen saja sekolah yang buka atau bagaimana. Apakah untuk satuan pendidikan yang berada di zona kuning, zona oranye
, dan zona merah bisa dilarang melakukan pembelajaran tatap muka di satuan pendidikan dan tetap melanjutkan Belajar dari Rumah (BdR).

Pemerintah dalam ini harus tegas menjalankan kebijakannya demi keselamatan generasi. Jangan sampai terjadi kontradiksi kebijakan yang menunjukkan ketidaksinkronan antara elemen yang satu dengan yang lainnya dalam pemerintahan. Kondisi ini tidak akan terjadi jika pemimpin tertinggi mampu mengomando para pejabatnya untuk satu kata terkait dengan tahun ajaran baru. Satu komando, satu kebijakan yang selaras, sehingga terwujud kesamaan sikap menghadapi pandemi. Hal ini hanya akan terwujud dengan kepemimpinan yang kuat.

Dengan demikian maka di tahun ajaran baru ini, akan ada sebagian kecil sekolah yang dibuka dan banyak sekali yang harus kembali menjalani proses belajar dari rumah. Dan para orang tua pun kembali berperan menjadi gurunya, dengan jadwal, mata pelajaran, dan target materi harian yang diberikan guru secara online. Tak sedikit para siswa, guru, bahkan orang tua yang gagap menghadapi perubahan ini sehingga stres dan kepanikan massalpun mengemuka.

Masalahnya, banyak orang tua terutama para ibu yang tidak siap. Baik secara teknis, keilmuan dan pemahaman, skill, maupun mental sebagai pengajar. Dalam satu waktu bisa jadi ibu berperan sebagai guru PAUD, TK, SD, SMP hingga SMA. Para orang tua mengeluh karena di tengah kesibukan tugas sebagai istri dan ibu, mereka harus mengajari anak dengan mata ajar yang belum tentu dikuasainya.

Siswa pun demikian. Mereka stres, mengeluh karena bosan, juga merasa tertekan, karena dikejar tugas harian yang menumpuk dalam batas waktu bersamaan. Akhirnya belajar di rumah bagi mereka, makin terasa tak menyenangkan. Banyak orang tua yang merasa keberatan atas tugas yang begitu banyak dari para guru sehingga anak-anak merasa stres. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) akhirnya meminta pemerintah pusat dan daerah mengevaluasi sistem belajar di rumah ini. Menurut KPAI, sistem belajar di rumah yang diterapkan sekolah tidak efektif karena belum ada pemahaman yang baik oleh para guru (cnnindonesia.com).

Berita Lainnya

Penggunaan Anggaran dalam Bayangan Covid-19

Haul Pahlawan Pangeran Antasari ke-158

1 dari 152
Loading...

Para guru pun tak kalah stres. Karena faktanya, tak semua guru memiliki kompetensi memadai dalam sistem kerja dalam jaringan (daring). Padahal beban kurikulum (bahan ajaran) yang harus diberikan kepada siswa begitu padat. Di sisi lain, tudingan guru makan gaji buta selama masa pandemi turut mengusik nurani.

Kebijakan belajar dari rumah ini pun di lapangan mengalami dinamika. Berbagai keterbatasan menuntut segera ditanggulani. Untuk wilayah perkotaan, mungkin tidak ada keterbatasan sarana. Namun karena Indonesia tidak merata pembangunannya maka untuk wilayah desa dan pelosok ketidakstabilan sinyal juga biaya kuota internet menjadi sesuatu yang sulit untuk diatasi. Masih hangat berita mahasiswa yang wafat karena berusaha mencari sinyal untuk dapat mengikuti pembelajaran daring ini.

Kini adalah saat yang tepat untuk mengevaluasi total sistem pendidikan kita. Tahun ajaran baru sudah di depan mata, back to school di era new normal yang sebenarnya jadi pilihan utama. Era new normal yang sebenarnya adalah era dimana kita menyerahkan pengaturan urusan hidup kita kepada Sang Pencipta yaitu Allah SWT. Ya, Islam sebagai agama yang sempurna tentu memiliki solusi atas semua persoalan hidup kita termasuk dalam masalah pendidikan masa pandemi ini.

Kebijakan belajar di rumah dalam sistem Islam tidak sampai mengurangi esensi pendidikan. Negara Islam berasaskan akidah dan syariah Islam, berdasarkan asas ini, Negara menegaskan tujuan pendidikan baku yang harus diemban seluruh pemangku pendidikan baik negara, siswa, guru, tenaga kependidikan, hingga oleh orang tua siswa. Sebab, belajar di rumah melibatkan orang tua. Asas pendidikan juga akan sangat menentukan dalam penentuan materi ajaran (kurikulum) saat siswa belajar di rumah. Kesadaran yang dimiliki orang tua juga sangat berpengaruh. Mereka akan mendidik sesuai target dan tujuan pembelajaran dalam Islam. Mendidik dengan penuh kasih sayang karena berangkat dari kesadaran terhadap kewajiban dari Allah SWT. Sebenarnya momen pandemi ini merupakan kesempatan emas untuk mengedukasi generasi agar tangguh menjaga diri, disiplin pada kebersihan dan kesucian, peduli kehidupan, pandai bersyukur pada Sang Pemberi Nikmat, ringan untuk berbagi, semangat beribadah, bergairah untuk mencari solusi atas masalah yang sedan
g terjadi, dan aneka aspek positif lainnya. Semua aspek tersebut ada dalam kurikulum Islam. Bahkan kebiasaan baik di masa pandemi yaitu mencuci tangan, menjaga kebersihan dan social distancing ada dalam ajaran Islam. Oleh sebab itu, kurikulum Islam akan menjadi bagian dari solusi terhadap pandemi, bukan perkara yang justru memperberat dampak pandemi. Ini karena Islam adalah ideologi yang memberi solusi sahih dari Sang Pencipta.

Negara Islam menguasai ilmu dan teknologi komunikasi yang handal. Maka, keterbatasan guru, siswa dan orang tua untuk melakukan pembelajaran daring bisa diminimalisir. Dalam sejarah, negara Islam dikenal sebagai negara maju yang menguasai jagad teknologi. Berbagai penemuan teknonogi dilakukan oleh kaum muslim. Hal ini karena Islam mendorong setiap muslim untuk terus belajar dan mengembangkan ilmunya. Negara pun mendukung sepenuhnya.

Belajar di rumah dalam Negara Islam ditopang oleh perekonomian yang stabil bahkan maju. Dengan kondisi tersebut, negara mampu menopang kehidupan ekonomi rakyat yang membutuhkan bantuan akibat lockdown. Orang tua tak perlu bekerja di luar. Mereka bisa optimal membantu proses belajar di rumah dengan sebaik-baiknya. Tak hanya dalam pemenuhan kebutuhan pokok, negara juga mampu memberikan berbagai fasilitas pendukung pembelajaran. Negara menyediakan platform pendidikan gratis dan sarana pendukungnya, seperti internet gratis dan media (alat komunikasinya). Mahasiswa pun tak perlu teriak meminta keringanan biaya pendidikan. Karena dalam kondisi tidak wabah mereka dibiayai oleh negara. Walhasil, semua kebutuhan belajar di rumah tidak ada kendala, karena negara men-support penuh semua kebutuhan tersebut. Hal itu hanya terjadi jika negara kuat, maju dalam perekonomian. Yakni, negara yang menerapkan syariat Islam.

Demikianlah, hanya Negara Islam yang mampu memberikan pelayanan pendidikan optimal lagi sahih kepada rakyatnya baik pada kondisi wabah maupun tidak. Saat back to school, saatnya kembali ke era new normal yang sebenarnya.

loading...
Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya